Rabu, 08 Januari 2014

Bermain Permainan Tradisional di Vredeburg, Nostalgia vs Melestarikan Budaya

5 Januari 2014

Sebelum mereka bertebaran dan bernostalgia
permainan tradisional, narsis dulu haha ^_^v
  Ceritanya sih Komunitas Jendela diundang tuk meramaikan even PlayPlus “Permainan di Negeri Dolanan”. Even ini diadakan serentak di lima kota. Dan teman-teman kecil Jendela Jogja yang di Sapen diajak tuk ikut lomba dan bermain di sana. Ada sekitar lima komunitas pendidikan dan anak yang diundang. Pastinya bejibun anak-anak yang datang.
     
    Kelar acara pembukaan dimulai, adik-adik kami telah dikelompokan dan diberi pendamping tersendiri. Mereka diajak mendengarkan dongeng Negeri Dolanan yang kemudian diajak ke masing-masing area kecil yang telah diberi nama sesuai dengan permainan tradisional yang hendak dikenalkan, mulai Gobak Sodor, Cublak-Cublak Suweng, Gasing, Enggrang dsb. Lalu, apa yang dilakukan para pasukan biru?

Yup they were so happy :D
   Yup pasukan biru Jendela alias kakak-kakak Jendelist yang jumlahnya setengah dari adik-adik Sapen *sekitar 15-20 orang* selooooooooooooo bingits. Mereka memutuskan untuk ‘memanfaatkan’ area bermain yang free. Alhasil pasukan Jendela meriang birukan *apa pulak istilah ini? ^_^v* taman belakang Vredeburg siang hari itu. Mereka bertebaran dari mulai belajar maen Enggrang, Gasing dan beramai-ramai main Gobak Sodor dan lompat tali.

    Ya mereka mengenang masa-masa kecil sekali. Masa kecil indah yang tidak bisa didapatkan dengan mudah oleh adik-adik Sapen kami karena keterbatasan ruang bermain publik saat ini. Maklum saja, ada sedikit tanah kosong di negeri ini ujung-ujungnya berubah jadi lahan properti perumahan, pertokoan dan perhotelan. Dan permainan tradisional yang dikenal oleh anak-anak tahun 1990-an, 1980-an, 1970-an ke bawah merupakan permainan yang harus dimainkan di area tanah yang luas, contoh Gobak Sodor dan Lompat Tali. Yup permainan tradisional era dulu itu dikenal dengan kemampuannya untuk membentuk dan melatih gerak motorik anak-anak, adaptasi sosial dan kemampuan strategi. Berbeda dengan permainan anak modern yang memang melatih kemampuan strategi, analisa dan kreativitas tapi minus melatih gerak motorik dan adaptasi sosial mereka.      


Adik-adik kami yang asyik bermain dg kakak-kakak PlayPlus. Mari
berikan hak 'bermain' mereka dg pengadaan area publik yang luas.
      Dan melalui tulisan ini, saya hanya perlu menekankan alasan kenapa program di Komunitas Jendela, khususnya Jendela Jogja selalu memadupadankan permainan (ice breaking) dengan program membaca setelahnya. Hal ini juga karena Jendelist ingin mengajak adik-adik kecilnya tuk menggerakan otot-otot motorik mereka yang selama masa sekolah kurang dilakukan. Karena alasan itu diferensiasi dengan program pendidikan formal sekolah, segala hal yang dapat mengasah kreativitas, pembentukan karakter (sopan santun dan etika), kepedulian alam dan sosial juga beberapa kali dimasukan ke dalam program-program yang ada. Tentunya dengan tidak mengesampingkan tujuan utama Jendela ada, yakni membiasakan adik-adik kami itu tuk membaca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar