Kamis, 28 November 2013

Ketika Jendelist Jogja 'Menyentuh' Masa Depan

Jogja, 24 November 2013

08.30…Pagi itu saya merasa datang telat ke Balai Dusun Sapen. Tak seperti minggu sebelumnya. Tapi ternyata sepi, tak ada satu pun relawan Jendela. Hanya ada Nabila yang mengayunkan Cinta di ayunan pohon dekat Balai Dusun.

dek Cinta 
“Aih udah cantik si dedek kecil” ujar saya pada Cinta

Ketika asyik ‘mengganggu’ balita kecil itu, seorang kakek menghampiri dan bertanya dengan bahasa Jawa, “Anaknya ya Bu?” *untung si Kakek menggunakan bahasa Jawa halus yang masih saya pahami

“Bukan, Mbah” jawab saya singkat dan berusaha sesopan mungkin.

“Oh bukan Ibu, tapi Bu Guru” ujar Beliau ketika mengetahui saya tidak bisa berbahasa Jawa dengan baik. Sedikit heran karena kesimpulan si Kakek yang mengganggap saya seorang guru. Tapi mengingat, si Kakek tinggal di dekat Balai Dusun Sapen dan relawan Jendela melakukan kegiatan #berbagi-nya di tiap minggunya, baru saya paham. Hihihihi, merasa tak pantas dengan panggilan Ibu Guru, mengingat saya hanya dua atau tiga kali #berbagi di Sapen.  

Pagi itu, saya datang lebih cepat karena ingin segera menyelesaikan sesi wawancara dari Yayasan Nusantara Centre yang hendak mendokumentasikan aktivitas Komunitas Jendela, agar bisa cus ke Michigo pukul 11.00.

Berhubung hampir satu jam sebagian besar relawan belum datang dan anak-anak sudah berdatangan *sisanya dijemput oleh kakak-kakak relawan ganteng Jendela. Untunglah, Zulfa datang membawa buku-buku bacaan, alhamdulillah anak-anak yang tahu ada buku bacaan menghampiri. Kami pun, relawan dan anak-anak, yang menunggu kak Puput, si sutradara program, dan kak Mika si PJ kegiatan pagi itu, asyik membaca.

Yeaaah mereka langsung membaca ketika tahu ada buku 
Seperti biasa, saya selalu gunakan trik membaca keras dan membuat anak-anak lelaki yang lebih memilih bermain tuk tertarik membaca. Buku yang saya pegang saat itu ada buku tentang budaya Indonesia dan pengetahuan tubuh. Saya pilih buku tentang tubuh. Halaman per halaman saya buka tuk mencari topik yang menarik, saya mulai dari menunjukan gambar tubuh dengan aliran darah lalu sel darah merah. Mereka tertarik dengan gambar tubuh dan berteriak “hiiiiiiiiiiiiiih ngeres ni”
-_________-“
Saya pun berusaha menetralkan dengan menunjukan bentuk sel darah merah. Mereka mulai diam.

“Nah ini bentuk darah dalam tubuh kita. Lihat tadi kan warna merah dan biru yang ada di tubuh? Apa tadi namanya?”, saya buka halaman berikutnya dan memancingnya untuk membaca tulisan yang ada di halaman tersebut.
“Apa ini?” tanya saya lagi
“Pembuluh darah” ujar Restu yang ada di dekat kami ketika itu. Saya tepuk kaki dia agar tidak ikut menjawab.
“Coba dibaca yang ini” , saya meminta anak itu membaca. Ketika dia mengeja satu per satu kata, “pem-buluh da-rah”, saya menggambarkan pembuluh darah dengan menggunakan perumpamaan pipa dengan air. Anak-anak laki ini mulai tercuri perhatiannya.

Setelah itu, satu per satu halaman dibuka. Ketika sampai pada gambar bagian organ dalam tubuh dan menjelaskan proses makanan ‘berjalan-jalan’ di tubuh, saya pancing kembali mereka tuk membaca satu per satu nama organ. Ketika mereka asyik mengeja,saya menjelaskan ke Restu tentang pentingnya anak-anak sendiri yang menjawab pertanyaan kita dengan tujuan memancing mereka untuk mengeja dan mulai mau membaca buku yang mereka pegang. Kadang saya menggunakan teknik tidak paham dengan maksud bacaan di halaman buku dan meminta anak-anak ini membaca, atau berdebat dengan mereka tentang topik yang ada di dalam buku dan mengambil sisi yang bertentangan, membiarkan berada di sisi yang benar. Agar ketika mereka punya bukti pemikiran mereka di buku, hehehe *ini teknik khusus yang biasa saya gunakan untuk anak-anak berusia sekitar 8-12 tahun ya.

Ketika Puput dan Mika datang, serta tim Yayasan Nusantara Centre. Kegiatan pagi itu pun dimulai. Ah hari sudah hendak mendekati pukul 11, dan sesi wawancara untuk saya baru akan dimulai setelah wawancara dengan orang tua anak Sapen. Orang tua salah satu anak pun  diwawancara dulu untuk ditanyai testimoni dan dampak aktivitas Jendela selama hampir setahun di sana. Saya diajak Rofik dan Mika bersama tim Nusantara Centre (Friska, Fani dan mas Bob) ke rumah ibunda Rafi.

“Sejak ikut Jendela, anak saya yang pendiam jadi berani dan kreatif. Dia sekarang suka bikin karya robot atau apa saja. Kalo diajak keluar jalan-jalan tiap minggu, dia akan bilang 'Aku ikut jendela dulu ya”
Itu testimoni dan pernyataan Ibunda salah satu anak di Sapen yang selama ini ikuti kegiatan komunitas Jendela Jogja. Air mata pun jatuh seketika ketika mendengarnya. Tak pernah menyangka, saya mendengar langsung pernyataan positif orang tua anak-anak ini. Bagaimana tidak terharu, kegiatan awal di Sapen sempat menjadi perdebatan dan buat relawan pusing. Saya pun dibikin pusing juga karena relawan pembuat program tidak tahu harus memberi kegiatan apa di sana mengingat karakteristik anak kota yang ada di Sapen. Mereka bisa mengakses informasi dengan baik, melalui laptop dan perpustakaan sekolah. Hingga akhirnya, kami putuskan untuk mengenalkan pengetahuan yang berbeda yang kemungkinan tidak diberikan di sekolah. Apa itu? Pengetahuan tentang keragaman budaya Indonesia dan kreativitas workshop. Ya khusus untuk kegiatan #berbagi di Sapen dua bentuk kegiatan tersebut yang diutamakan sembari sesekali kegiatan membaca buku kami selipkan.

Saya pun membisikan kalimat pada Mika “Sudah merasakan kan bagaimana perasaan saya ketika dulu aktif di Merapi dan mendengar ucapan yang hampir sama dari orang tua anak?”

Keriuhan pagi itu
Ya dia jadi terharu dan menyampaikan isi hatinya pada Ibunda Rafi tentang bagaimana pusingnya ia dan teman-teman relawan yang aktif tiap minggunya ketika harus merancang program tuk anak-anak Sapen. Sekarang semua itu terbayarkan. Mereka yang aktif dan selalu #berbagi di Sapen pasti mulai terbayarkan perjuangannya selama ini. Saya yang hanya mendukung dari belakang saja merasa benar-benar lega karena tujuan dan sasaran kegiatan kami di Sapen akhirnya tercapai.


Energi positif hari itu benar-benar besar sekali. Sebagian besar relawan datang dan asyik belajar bermain bersama. Hasil kegiatan berjualan di Sunmor UGM pun membawa hasil memuaskan sehingga dapat mempermudah keberlangsungan program Jendela selanjutnya. Semua yang dimulai dari hati kan diterima hati lain dengan baik, teruslah #berbagi Jendelist. Teruslah melatih kepekaan diri tuk mencerdaskan emosi dan spiritual kita :D

If you want to touch the past, touch a rock.  If you want to touch the present, touch a flower.  If you want to touch the future, touch a life.   ~ Unknown