Jumat, 25 Oktober 2013

'Malaikat Kecil' di Sekitarku

Yihaaaaaaaaaaaaa beberapa waktu lalu, saya telah bertemu dengan banyak 'malaikat kecil' yang lucu-lucu dan gemesin. Ada Pangeran Kecil Tio, anak dari sahabat saya di Palangkaraya, dan 4 keponakan dari sepupu yang sudah lama tak saya kunjungi *Untunglah tesis sudah mulai tampak bentuknya dan Komunitas Jendela Jogja sudah bisa saya 'lepas' dan tak perlu didampingi lagi.


Pangeran Kecil Tio. Tiga foto di samping kiri adalah foto ketika
dia asyik bermain dengan saya.
Baiklah, saya kenalkan diri dengan Pangeran Kecil Tio. Si kecil ini adalah balita cengeng yang belum bisa menerima kehadiran orang lain dibandingkan ibunda tercinta. Akibatnya, si Bunda tak terlihat dari jangkauan penglihatannya, si Tio akan menangis sejadi-jadinya. Bahkan meski itu hanya disentuh.

Saya sampai tak habis pikir dengan perilakunya ini, hingga akhirnya saya putuskan mengajaknya terus menerus bermain sebelum tidur, dan menyapanya ketika bangun di esok harinya. Yah mungkin dia pikir, saya adalah tante rese' yang telah mengganggu ketenangan hidup dia. Dua hari diajak main terus dan dicerewetin, si kecil Tio pun mendadak terlihat bisa menerima beberapa orang baru yang datang, tak lagi menangis. Dia pun bisa ditinggal bersama Pak De atau teman kami lainnya. saya dan Ibunda Tio terheran dengan perubahannya. Hingga akhirnya, saya sadari kebiasaan dari si Ibunda Tio ketika dulu masih gadis bermain ke kos.

"Apa kamu masih lakukan kebiasaan itu? Diam dan membaca saja meski ada orang terdekatmu, termasuk Tio, di dekatmu? Tak kamu ajak ngobrol atau bermain geje seperti yang kulakukan kemarin?"
"Iya, aku hanya melihat Tio dari jauh. Pernah kuajak ngobrol tapi tidak seperti yang kamu lakukan" jawabnya.

Ah, pantaslah si Tio begitu tak suka jika ada orang yang begitu saja 'masuk' zona nyaman dengan mencium atau menyentuh dia. Saya pun sarankan padanya tuk melakukan apa yang saya lakukan selama dua malam sebelumnya. Karena sesungguhnya berkomunikasi dengan si anak selama 30 menit di setiap harinya kan membentuk ikatan kedekatan dengan orang tua, menambah kosakata, mengajari dia tentang nilai-nilai dan mencontohkan bagaimana berinteraksi. Teknik lainnya tuk bangun kedekatan emosi orang tua anak, kalau dalam Islam, yakni: shalat berjama'ah.

Lain cerita tentang Tio, lain cerita tentang 4 keponakan saya Empat Pangeran Ganteng dengan karakter yang berbeda. Mas Ale yang jagoan dan si sulung yang tak mau mengalah, Mas Roqiy yang penurut dan kakak yang mengemong adiknya. Lalu, si Billy yang selalu nurut dan ikuti perilaku Mas Ale, dan terakhir si Bisma, bungsu pemarah yang punya senyum menenangkan. Hihihihi, mereka adalah 4 jagoan kecil yang dididik dengan hebat oleh kakak sepupu. Maklum kakak sepupu saya adalah dosen dan guru filsafat.
Saya tak pernah melihat kakak sepupu mengatakan kata negatif di depan anak-anaknya, alhasil mereka tumbuh jadi anak kreatif, hihihihihi. Yup, ada teknik tersendiri berbicara dengan anak kecil, yaitu: Dilarang Seperti Disuruh, Disuruh Seperti Dilarang. Sila di-klik aja link dari teori tersebut :D

Mas Ale dan Roqiy dua tahun lalu

Roqiy dan Billy 

Si gantengest di antara abang-abangnya, Bisma


2 komentar:

  1. Mak Mariseeeee, blognya udah ga dilock lagi? Hehehehe, perasaan sempet susah mau baca-baca kemaren-kemaren deh... Eniwei, background picturenya bagus, tapi bikin teks-nya ga keliatan je.... *maap protes* ^^

    BalasHapus
  2. Hahahaha maklum mbak yu kemaren sempat terganggu dengan kepo-ers. Saya masih shock, mendadak jadi artis hahahahhaha. OK nti aku edit lay out-nya mbak, trims masukannya :D

    BalasHapus