Minggu, 30 Juni 2013

Jogja Berkebun Berbagi dengan Jendela di Sapen

23 Juni 2013
Yahya, Dika, dan Raka 
Hari itu merupakan hari seru bagi anak-anak Sapen. Seseruan maenan tanah dan belajar tentang alam bersama kakak-kakak Jogja Berkebun. Adik-adik kami Jendela Jogja diajak mengenal tentang bagaimana menanam di lahan sempit dengan memanfaatkan botol-botol bekas. Kakak-kakak relawan Jendela Jogja telah menyiapkan banyak botol bekas yang telah di-cat kuning untuk kegiatan hari itu.

Setelah selesai presentasi dari kak Maul, kordinator Jogja Berkebun, adik-adik kami ajak untuk mewarnai botol-botol dengan warna lain yang telah disiapkan yakni warna biru dan hijau. Mereka telah dibagi-bagi berdasarkan kelompok. Dan seperti biasa, mereka berebut untuk  bergabung dengan teman mereka sendiri hingga Abel ditolak oleh kelompok Dika dkk. Untunglah adegan marahan dan ngambek itu berakhir ketika Abel diterima kelompok Yoga, dkk. Kakak Jendelist yang datang siang itu banyak sekali. Mereka dibagi ke beberapa kelompok adik-adik untuk mendampingi dan membantu mereka menyiapkan wadah media tanam urban farming.

Kehebohan bersih-bersih tangan
semua adik2 pagi hari itu bermula dari sini
Pagi cerah itu diwarnai dengan celotehan dan keriangan adik-adik kami yang terkena cat di tangan dan kaki. Kelompok Dika yang terdiri dari Yahya dan Raka cukup heboh dari awal, dari mulai bertengkar dengan Abel hingga mewarnai tangan mereka dengan cat hingga akhirnya diikuti dengan anak-anak lain. Akibatnya, kami harus membantu membersihkan tangan mereka satu per satu dengan hati-hati  fiuuuuuuuuh.... -_____-“.


Kelar mengecat botol-botol, mereka pun diajak untuk mengisi botol dengan tanah. Setelah itu, kak Maul dkk membagikan bibit tanaman Bayam dan Kangkung pada adik-adik. Satu per satu kelompok yang menyelesaikan botol-botol yang telah dirangkai itu, diminta untuk menyetorkan ke kak Wawan dan Boy untuk dipajang di salah satu dinding luar balai dusun Sapen.
Wuhuuuuuuuu akhirnya dinding terisi sebagian dengan media tanam karya adik-adik Sapen. Dan pagi ini, 30/06/13, tanaman yang telah disemai adik-adik Sapen telah tumbuh segar di sana :D #hamdallah.

Moga mereka kelak terinspirasi dengan kecerian pagi hari itu dan memanfaatkan benda-benda bekas untuk dapat berkebun di halaman rumah mereka.


Yuhuuuuu ayuk diwarnai lagi ;D
Setelah botol diwarnai, mari kita rangkai dan gantung :)


Marisa Latifa


*all pics by Maria Ulfa 

Orang Dayak Kalimantan

Jogja, 30 Juni 2013
Berapa anak Sapen yang datang hari ini pada kegiatan berbagi di Jendela Jogja? Hohoho, hanya 10 anak, tidak banyak seperti biasa *tak apa karena personil relawan juga tidak banyak, hanya 5 kakak Jendelist. So, apa yang kami lakukan hari ini?

Hey, kami mengenalkan kebudayaan orang Dayak Kalimantan lho.

“Wah saru iki”, ujar Dika ketika melihat slide power point yang ada gambar animasi anak Dayak dengan hanya mengenakan penutup badan bagian bawah.
“Gak saru kok, nanti kamu akan paham kenapa orang Dayak memakai pakaian seperti itu”, jelas saya.
Saya pun menjelaskan bahwa cara berpakaian seperti itu adalah cara berpakaian orang Dayak dulu sebelum mengenal kain. “Mereka menutupi badan mereka dengan bahan yang terbuat dari lapisan kayu” ujar saya.
“Nah, di bagian manakah orang Dayak tinggal. Mereka tinggal di pulau di Kalimantan, Kalimantan ada dimana ya?” tanya saya

“Aku tau kak. Aku tahu”, Fafa bersemangat untuk menjawab.

“Waktu belajar tentang Siger, kalian tau kan Siger dari Lampung, dan Lampung ada di Sumatra. Jadi, masih ingat gak dimanakah Sumatra?” tanya saya memancing ingatan mereka. Fafa kembali beraksi dan menjawab. Dika yang kalah cepat hanya mampu cemberut dan berkata “aku ngerti Papua wae”

Selesai mengenalkan rumah ada orang Dayak, senjata mereka dan makna burung Enggang dalam kehidupan masyarakat Dayak. Anak-anak kami ajak melakukan workshop kecil membuat Tengkulas dan pompom tari Dayak *istilah terakhir merupakan istilah yang saya buat sendiri tuk menjelaskan tentang rangkaian bulu burung yang dipakai menari gadis-gadis Dayak. Seperti biasa, mereka berebut. Rian, Dika dan Yoga sebagai anak lelaki yang ikuta kegiatan hari itu memilih membuat Tengkulas, mahkota pria Dayak. Sementara anak perempuan lebih memilih membuat pom pom walau pada akhirnya mengubahnya menjadi mahkota, hehe.

Hemm, segitu dulu deh cerita berbagi di Sapen hari ini.





See u soon dengan cerita lain dari para Jendelist.

Marisa Latifa