Senin, 18 Februari 2013

Mengenal Lebih Dekat Hewan dan Bermain Tebak-Tebakan Pelajaran Sekolah di Perpustakaan Sapen


Pagi hari itu ketika asyik menggendong Maura, balita kecil di Perpustakaan Sapen, saya berkenalan dengan Dika. Anak kecil laki-laki yang tidak suka bermain keluar dan lebih memilih tiduran di rumah daripada di sekolah. 
Ngalor ngidul menanyakan tentang kegiatan Dika dan Hana di sekolah, saya pun mengetahui bahwa pelajaran yang tidak mereka sukai adalah membatik. 

“Kenapa gak suka membatik?” tanya saya
“Susah mbak ngelukisnya” jelas Hana
“Lama ngerjainnya mbak. Aku jadi duduknya lama” jawab Dika
“Wah Dika ini berarti gak suka olahraga ya?” tanya saya
“Enggak, aku lebih suka di rumah main laptop” jawabnya sembari memainkan maenan prajuritnya yang dibawanya.
“Berarti kamu gak punya teman bermain dong? Wong senangnya di rumah? Berarti gak suka olahraga? Wah entar bisa endut lho” 
“Biarin” jawabnya
“Emang kalo di rumah ngapain aja selain mainin laptop?” tanya saya penasaran
“Nonton film” jawabnya polos
“Pasti kamu nontonya sambil tiduran?”, Dika mengangguk.
“Mau tau gak, kenapa orang yang gak mau banyak bergerak atau berolahraga bisa gemuk terus nanti sakit?” 
Dika diam saja. Saya pun memutar otak sembari memikirkan cara menjelaskan dengan gampang tentang kebiasaan gak baik Dika yang tak mau bermain secara fisik, bersosialiasi dan olahraga itu. 
“Hemm jadi gini, kamu liat ini?” ujar saya sembari menunjukan urat nadi saya. “Ini namanya pembuluh darah. Nah pembuluh darah ini mirip seperti pipa air”
“Jadi ketika kita tidak olaharaga dan banyak bergerak, darah yang lewat didalamnya akan mudah tersumbat. Dan itu yang akan membuat kita sakit. Coba Dika mainin pipa air. Beda gak pipa yang di dalamnya ada batu dengan yang tidak? Lebih deras mana air yang mengalir di pipa? Yang ada batunya atau tidak?”
“Sama aja” ujarnya keras kepala
“Beda dong. Coba deh besok-besok Dika coba sendiri, pasti yang ada batunya yang bikin air susah mengalir. “Wah kakak gak bawa bukunya sich, kalo kamu udah baca buku itu. Ada gambar banyak tentang tubuh kita lho. Kalo kamu baca itu pasti kamu langsung mau olahraga” jelas saya 
“Ah benar mbak? Minggu depan di bawa ya, mau aku baca!” pintanya, saya mengangguk meski kemudian baru tersadar bahwa Ensiklopedia itu bukan milik Jendela tapi milik anak-anak Perpustakaan Merapi. Minggu depan harus putar otak deh, agar mendapatkan info tentang anatomi tubuh.

Setelah ngobrol asyik dengan Dika hampir 15 menit-an, Jendelist yang tadi meninggalkan saya untuk memanggil anak-anak Perpustakaan Sapen pun datang. Kami pun memulai acara berbagi pagi hari itu.
Kegiatan pertama, tentu saja, games ice breaking. Jendelist mengajak anak-anak bermain kecil terlebih dulu, setelah itu inti kegiatan dimulai.  Hey ada kakak relawan baru juga yang ikutan gabung. Mereka adalah kak Fafa, kak Shinta dan kak Firman. 

“OK, sekarang kalian ambil kertas ini. Satu orang satu. Siapa yang mengetahui gambar Cicak, Anjing atau Tikus yang didapatkannya, harus segera bersuara seperti hewa yang tergambar di kertas itu ya. Dan cari kelompok kalian” jelas Shela. Suasana pun riuh dengan anak-anak yang menirukan suara hewan-hewan tersebut. Nah, saya pun mendapatkan krucil-krucil bernama Salma, Kiki, Laras, Mamat dan Hana untuk saya, Mentari dan Shinta damping. Pagi hari itu saya membaca bersama buku Rori 1 & 2. Saya minta kakak relawan dan masing-masing anak-anak membaca satu kalimat secara bergantian. Anak-anak kecil ini mengikuti aturan tersebut dengan antusias. Tak menyangka, Kiki yang notabene cowok dan kelas 5 SD tetap mau membaca secara bergiliran, meski dia tetap cerewet dan usil pada Mamat.

Saya akhiri kegiatan membaca bersama itu dengan pertanyaan, “Apa yang bisa kita pelajari dari cerita ini?”
“Persahabatan” jawab Kiki cepat
“Yup bener. Dan hewan yang setia dan menjadi sahabat pas bagi manusia ada 2 yakni: pertama adalah hewan kesayangan Nabi, tau apa itu?”
“Kucing” jawab mereka
“Kedua, hewan yang menemani Ashabul Khafi, tau kan apa?”
“Anjing” jawab Kiki
“Tapi mbak anjing itu kan najis” tambah Kiki
"Eits, tapi inget lho. Ada satu anjing yang menjadi sahabat muslim dan kelak akan masuk surga karena kesetiaannya pada 7 tuannya itu. Tau kan anjing tersebut anjingnya siapa?", jelas saya agar anak-anak tidak salah mempresepsikan najis menjadi suatu kebencian sehingga memandang sebelah mata dan curiga pada teman nonmuslim-nya.
"Iya aku tau mbak, anjing milik Ashabul Khafi" jawab Kiki.

Nah karena kelompok kami membaca bersama lebih cepat dari kelompok lain. Akibatnya, saya dan kakak relawan bingung mau ngapain, hingga akhirnya saya putuskan ngobrol ngalor ngidul menanyakan tentang masing-masing anak-anak tersebut *maklum kehadiran saya pagi hari itu adalah kehadiran pertama di perpustakaan Sapen. 
“Hoh jadi di sekolahmu isi perpustakaannya banyak tentang buku agama Islam, Ki? Emang buku apa yang kamu baca?” tanya saya 
“Buku tentang sejarah Islam mbak. Ada buku tebal tentang  sahabat-sahabat Nabi dan aku menghabiskannya dalam seminggu” jelasnya.
“Wohooo keren” ujar saya tidak terlalu percaya ucapannya. Setelah menanyakan tentang banyak hal tentang diri masing-masing mereka dan saya yang akhirnya paham bahwa si Kiki ini sangat menyukai pelajaran Sejarah setelah memberikan info tentang budaya beberapa suku padanya dan teman-temannya. 
“Woooh aku ngerti yo mbak cerita tentang perang suku Dayak dan Madura” jelas si Kiki
“Hah moso?” tanya saya gak percaya
“Yow is kutanyain, daerah asal awal mula terjadinya perang Dayak dan Madura ki dimana mbak?” tanya dia. 
“Sambas” jawab saya
“Bukan yo, tapi Sampit” ujar Kiki bangga. 
“Oh iya ya”
Sumpah ini anak ingatan dan hafalannya detail banget. Lalu, terbersit ide untuk bermain tebak-tebakan dengannya setelah beberapa kali saya ‘kalah’ menjawab pertanyaannya dan menyebabkan kehebohan pagi hari itu. 
“OK kalo gitu kita maen tebak2an. Karena gak ada bedak, yang gak bisa jawab lengannya dipukul dengan dua jari, seperti ini ya?” jelas saya sembari memperagakan gaya ‘hukuman’ kecil ala Korea untuk membuat suasana lebih hidup, meski jujur gak baik sich ni, hehe.
“Oh OK siap aku. Ayo Laras, Salma, Mamat kita lawan mbak-mbak ini” ujar si Kiki semangat. Tentu saja, saya, Mentari dan Shinta jadi satu tim dan akan menanyakan pertanyaan Bahasa Inggris, Geografi dan IPA. Mereka lebih akan bertanya tentang Sejarah dan Agama Islam.
Dan ternyata pertanyaan tim lawan yang dipimpin Kiki itu sulit sekali untuk kami, mahasiswi yang sudah lama tidak bersinggungan dengan sejarah. Kiki menanyakan pertanyaan:
“Apa itu Fujinkai?”
“Kenapa Jepang disebut sebagai saudara Indonesia?”
“Termasuk ke dalam bidang apakah Fujinkai itu?

Karena kami tak mampu menjawab, kami pun di’hukum’ dengan pukulan jari di lengan ala Korea. Kiki sangat senang mengetahui kami tidak bisa menjawab. Tapi permainan imbang kok, mereka juga tidak bisa menjawab beberapa pertanyaan bahasa Inggris dan IPA yang kami ajukan, hehe

Kelar tebakan-tebakan asyik, kami pun memulai kegiatan dengan menggambar hewan sesuai dengan kelompoknya. Kiki pamit pulang mengetahui kegiatan selanjutnya itu, dan saya meminta dia untuk pamit dan salim ke semuanya jika ingin pulang terlebih dahulu. Dia memang tidak suka kegiatan menggambar.  Selang setengah jam, anak-anak perpustakaan Sapen begitu tenang dan asyik dengan kertas dan pensil warna yang telah disiapkan kakak relawan. Selesai menggambar kegiatan pun selesai dan masing-masing kami pamit pulang dengan hati senang. Bagi kami, relawan, kegiatan berbagi ini menjadi suatu sarana untuk mendidik kami belajar jadi orang tua yang baik.




When you put faith, hope and love together, you can raise positive kids in a negative world ~ Zig Ziglar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar