Jumat, 25 Januari 2013

Reading Time: Berbagi Ala Komunitas Jendela bersama Anak-Anak Melayu yang Comel


Sejak kembali ‘hidup’ lagi, itu dari tahun 2007, saya telah bertekad untuk selalu bermanfaat dimanapun saya berada. Oleh karena itu, saya berusaha untuk berbagi dimanapun berada meski liburan sekalipun. Jika libur semester tahun lalu, saya asyik berbagi dengan anak-anak di Karimun, libur semester 2 ini saya yang memiliki agenda berkunjung ke Pontianak dalam rangka nikahan sobat tercinta, Nina Herfiana, berbagi dengan anak-anak Melayu Pontianak. Berbagi seperti apa?

Ya tentu saja berbagi ala Komunitas Jendela, yakni dengan mengenalkan kegiatan membaca yang asyik ke anak-anak. Seperti biasa andalan saya hanyalah buku cerita dan kemampuan suara keras saya, hehe.

Indah (Kiri). Keponakan dari  Si Pengantin (Kanan)


Jauh hari sebelum berangkat saya memang merencanakan untuk membawa buku cerita koleksi saya, Aku dipanggil Rori untuk bekal berbagi di Pontianak. Pagi itu, hari ke-2, setelah membaca sejenak buku Dahlan Iskan: Ganti Hati, terlihat salah satu keponakan sobat saya yang menyendiri. Namanya Indah, dia tidak bergabung dan bermain dengan sodaranya yang lain di rumah sebelah. Saya pun menutup buku dan mengajaknya bicara. Setelah itu, saya mengajaknya membaca buku. Kebetulan di sana ada adik kecil lain, Kania, saya pun mengajaknya. Asyik membaca bersama di depan teras rumah, mendadak sodara-sodara kecil yang lain yang tadi asyik bermain pun ikut bergabung. Mereka berebut minta giliran membuka ‘jendela’ kecil dari buku dua dimensi tersebut. Berhubung acara Mandi Berhias yang dijadwalkan pagi hari itu sudah hendak dimulai, saya pun menitipkan buku pada mereka dan meminta mereka untuk membaca bergantian. Saya berpesan pada Farah, keponakan sobat yang lebih besar, untuk memegang buku tersebut dan menyimpannya jika mereka semua sudah membaca.

Malam hari ke-4, saya berbagi dengan Chacha, keponakan sobat saya Henny Kristina. Anak imut yang selalu mengenakan baju pink tersebut memang bawel. Sembari berbaring, saya tidak membaca tulisan yang ada di buku, hanya menjabarkan gambar yang ada dengan bahasa sederhana karena Chacha belum bisa membaca. Saya memintanya menyebutkan binatang yang ada, berapa jumlahnya dan juga mengajaknya untuk menghitung jumlah binatang yang ada. Chacha sangat kritis sekali, dia selalu bertanya kenapa ini (buaya) ada di sini? Kenapa tadi dia ada di situ? Ini kenapa ‘pintu’nya dibuka?
Setelah itu, saya memintanya untuk menceritakan kembali. Dan dia tampak tidak percaya diri, lalu saya menyakinkan dia. Chacha pun mau membaca lagi dengan mengajukan rentetan pertanyaan lain yang berbeda. Selesai membaca, dia keluar dan kembali dengan membawa buku ceritanya.

Chacha langsung sigap berpose seketika
melihat kamera saya 
“Tante, ini buku Chacha” ujarnya sembari menyerahkan buku berwarna pink
“Buku apa ini?” tanya saya yang mencoba ngetes daya ingatnya, meski saya sendiri sudah membaca judul buku tersebut: Strawberry Shortcake
“Stroberi Shotkek” jawabnya.
“Chacha ingin membaca ini? Kita baca ini bareng ya?” pinta saya, dan dia mengganguk dengan tetap memegang buku Rori milik saya.

Setelah 5 halaman saya ajak dia membaca, dia tampak tak antusias. Buku tersebut memang full color, tapi tidak membuat anak untuk bisa berinteraksi. Alhasil, Chacha sibuk membuka buka lagi buku Aku Dipanggil Rori milik saya. Saya pun berusaha menyelesaikan meski Chacha cuek bebek, karena saya tidak ingin tindakan saya yang tidak menyelesaikan membaca buku menjadi nilai buruk: mengerjakan sesuatu setengah-setengah.