Kamis, 28 November 2013

Ketika Jendelist Jogja 'Menyentuh' Masa Depan

Jogja, 24 November 2013

08.30…Pagi itu saya merasa datang telat ke Balai Dusun Sapen. Tak seperti minggu sebelumnya. Tapi ternyata sepi, tak ada satu pun relawan Jendela. Hanya ada Nabila yang mengayunkan Cinta di ayunan pohon dekat Balai Dusun.

dek Cinta 
“Aih udah cantik si dedek kecil” ujar saya pada Cinta

Ketika asyik ‘mengganggu’ balita kecil itu, seorang kakek menghampiri dan bertanya dengan bahasa Jawa, “Anaknya ya Bu?” *untung si Kakek menggunakan bahasa Jawa halus yang masih saya pahami

“Bukan, Mbah” jawab saya singkat dan berusaha sesopan mungkin.

“Oh bukan Ibu, tapi Bu Guru” ujar Beliau ketika mengetahui saya tidak bisa berbahasa Jawa dengan baik. Sedikit heran karena kesimpulan si Kakek yang mengganggap saya seorang guru. Tapi mengingat, si Kakek tinggal di dekat Balai Dusun Sapen dan relawan Jendela melakukan kegiatan #berbagi-nya di tiap minggunya, baru saya paham. Hihihihi, merasa tak pantas dengan panggilan Ibu Guru, mengingat saya hanya dua atau tiga kali #berbagi di Sapen.  

Pagi itu, saya datang lebih cepat karena ingin segera menyelesaikan sesi wawancara dari Yayasan Nusantara Centre yang hendak mendokumentasikan aktivitas Komunitas Jendela, agar bisa cus ke Michigo pukul 11.00.

Berhubung hampir satu jam sebagian besar relawan belum datang dan anak-anak sudah berdatangan *sisanya dijemput oleh kakak-kakak relawan ganteng Jendela. Untunglah, Zulfa datang membawa buku-buku bacaan, alhamdulillah anak-anak yang tahu ada buku bacaan menghampiri. Kami pun, relawan dan anak-anak, yang menunggu kak Puput, si sutradara program, dan kak Mika si PJ kegiatan pagi itu, asyik membaca.

Yeaaah mereka langsung membaca ketika tahu ada buku 
Seperti biasa, saya selalu gunakan trik membaca keras dan membuat anak-anak lelaki yang lebih memilih bermain tuk tertarik membaca. Buku yang saya pegang saat itu ada buku tentang budaya Indonesia dan pengetahuan tubuh. Saya pilih buku tentang tubuh. Halaman per halaman saya buka tuk mencari topik yang menarik, saya mulai dari menunjukan gambar tubuh dengan aliran darah lalu sel darah merah. Mereka tertarik dengan gambar tubuh dan berteriak “hiiiiiiiiiiiiiih ngeres ni”
-_________-“
Saya pun berusaha menetralkan dengan menunjukan bentuk sel darah merah. Mereka mulai diam.

“Nah ini bentuk darah dalam tubuh kita. Lihat tadi kan warna merah dan biru yang ada di tubuh? Apa tadi namanya?”, saya buka halaman berikutnya dan memancingnya untuk membaca tulisan yang ada di halaman tersebut.
“Apa ini?” tanya saya lagi
“Pembuluh darah” ujar Restu yang ada di dekat kami ketika itu. Saya tepuk kaki dia agar tidak ikut menjawab.
“Coba dibaca yang ini” , saya meminta anak itu membaca. Ketika dia mengeja satu per satu kata, “pem-buluh da-rah”, saya menggambarkan pembuluh darah dengan menggunakan perumpamaan pipa dengan air. Anak-anak laki ini mulai tercuri perhatiannya.

Setelah itu, satu per satu halaman dibuka. Ketika sampai pada gambar bagian organ dalam tubuh dan menjelaskan proses makanan ‘berjalan-jalan’ di tubuh, saya pancing kembali mereka tuk membaca satu per satu nama organ. Ketika mereka asyik mengeja,saya menjelaskan ke Restu tentang pentingnya anak-anak sendiri yang menjawab pertanyaan kita dengan tujuan memancing mereka untuk mengeja dan mulai mau membaca buku yang mereka pegang. Kadang saya menggunakan teknik tidak paham dengan maksud bacaan di halaman buku dan meminta anak-anak ini membaca, atau berdebat dengan mereka tentang topik yang ada di dalam buku dan mengambil sisi yang bertentangan, membiarkan berada di sisi yang benar. Agar ketika mereka punya bukti pemikiran mereka di buku, hehehe *ini teknik khusus yang biasa saya gunakan untuk anak-anak berusia sekitar 8-12 tahun ya.

Ketika Puput dan Mika datang, serta tim Yayasan Nusantara Centre. Kegiatan pagi itu pun dimulai. Ah hari sudah hendak mendekati pukul 11, dan sesi wawancara untuk saya baru akan dimulai setelah wawancara dengan orang tua anak Sapen. Orang tua salah satu anak pun  diwawancara dulu untuk ditanyai testimoni dan dampak aktivitas Jendela selama hampir setahun di sana. Saya diajak Rofik dan Mika bersama tim Nusantara Centre (Friska, Fani dan mas Bob) ke rumah ibunda Rafi.

“Sejak ikut Jendela, anak saya yang pendiam jadi berani dan kreatif. Dia sekarang suka bikin karya robot atau apa saja. Kalo diajak keluar jalan-jalan tiap minggu, dia akan bilang 'Aku ikut jendela dulu ya”
Itu testimoni dan pernyataan Ibunda salah satu anak di Sapen yang selama ini ikuti kegiatan komunitas Jendela Jogja. Air mata pun jatuh seketika ketika mendengarnya. Tak pernah menyangka, saya mendengar langsung pernyataan positif orang tua anak-anak ini. Bagaimana tidak terharu, kegiatan awal di Sapen sempat menjadi perdebatan dan buat relawan pusing. Saya pun dibikin pusing juga karena relawan pembuat program tidak tahu harus memberi kegiatan apa di sana mengingat karakteristik anak kota yang ada di Sapen. Mereka bisa mengakses informasi dengan baik, melalui laptop dan perpustakaan sekolah. Hingga akhirnya, kami putuskan untuk mengenalkan pengetahuan yang berbeda yang kemungkinan tidak diberikan di sekolah. Apa itu? Pengetahuan tentang keragaman budaya Indonesia dan kreativitas workshop. Ya khusus untuk kegiatan #berbagi di Sapen dua bentuk kegiatan tersebut yang diutamakan sembari sesekali kegiatan membaca buku kami selipkan.

Saya pun membisikan kalimat pada Mika “Sudah merasakan kan bagaimana perasaan saya ketika dulu aktif di Merapi dan mendengar ucapan yang hampir sama dari orang tua anak?”

Keriuhan pagi itu
Ya dia jadi terharu dan menyampaikan isi hatinya pada Ibunda Rafi tentang bagaimana pusingnya ia dan teman-teman relawan yang aktif tiap minggunya ketika harus merancang program tuk anak-anak Sapen. Sekarang semua itu terbayarkan. Mereka yang aktif dan selalu #berbagi di Sapen pasti mulai terbayarkan perjuangannya selama ini. Saya yang hanya mendukung dari belakang saja merasa benar-benar lega karena tujuan dan sasaran kegiatan kami di Sapen akhirnya tercapai.


Energi positif hari itu benar-benar besar sekali. Sebagian besar relawan datang dan asyik belajar bermain bersama. Hasil kegiatan berjualan di Sunmor UGM pun membawa hasil memuaskan sehingga dapat mempermudah keberlangsungan program Jendela selanjutnya. Semua yang dimulai dari hati kan diterima hati lain dengan baik, teruslah #berbagi Jendelist. Teruslah melatih kepekaan diri tuk mencerdaskan emosi dan spiritual kita :D

If you want to touch the past, touch a rock.  If you want to touch the present, touch a flower.  If you want to touch the future, touch a life.   ~ Unknown

Jumat, 25 Oktober 2013

'Malaikat Kecil' di Sekitarku

Yihaaaaaaaaaaaaa beberapa waktu lalu, saya telah bertemu dengan banyak 'malaikat kecil' yang lucu-lucu dan gemesin. Ada Pangeran Kecil Tio, anak dari sahabat saya di Palangkaraya, dan 4 keponakan dari sepupu yang sudah lama tak saya kunjungi *Untunglah tesis sudah mulai tampak bentuknya dan Komunitas Jendela Jogja sudah bisa saya 'lepas' dan tak perlu didampingi lagi.


Pangeran Kecil Tio. Tiga foto di samping kiri adalah foto ketika
dia asyik bermain dengan saya.
Baiklah, saya kenalkan diri dengan Pangeran Kecil Tio. Si kecil ini adalah balita cengeng yang belum bisa menerima kehadiran orang lain dibandingkan ibunda tercinta. Akibatnya, si Bunda tak terlihat dari jangkauan penglihatannya, si Tio akan menangis sejadi-jadinya. Bahkan meski itu hanya disentuh.

Saya sampai tak habis pikir dengan perilakunya ini, hingga akhirnya saya putuskan mengajaknya terus menerus bermain sebelum tidur, dan menyapanya ketika bangun di esok harinya. Yah mungkin dia pikir, saya adalah tante rese' yang telah mengganggu ketenangan hidup dia. Dua hari diajak main terus dan dicerewetin, si kecil Tio pun mendadak terlihat bisa menerima beberapa orang baru yang datang, tak lagi menangis. Dia pun bisa ditinggal bersama Pak De atau teman kami lainnya. saya dan Ibunda Tio terheran dengan perubahannya. Hingga akhirnya, saya sadari kebiasaan dari si Ibunda Tio ketika dulu masih gadis bermain ke kos.

"Apa kamu masih lakukan kebiasaan itu? Diam dan membaca saja meski ada orang terdekatmu, termasuk Tio, di dekatmu? Tak kamu ajak ngobrol atau bermain geje seperti yang kulakukan kemarin?"
"Iya, aku hanya melihat Tio dari jauh. Pernah kuajak ngobrol tapi tidak seperti yang kamu lakukan" jawabnya.

Ah, pantaslah si Tio begitu tak suka jika ada orang yang begitu saja 'masuk' zona nyaman dengan mencium atau menyentuh dia. Saya pun sarankan padanya tuk melakukan apa yang saya lakukan selama dua malam sebelumnya. Karena sesungguhnya berkomunikasi dengan si anak selama 30 menit di setiap harinya kan membentuk ikatan kedekatan dengan orang tua, menambah kosakata, mengajari dia tentang nilai-nilai dan mencontohkan bagaimana berinteraksi. Teknik lainnya tuk bangun kedekatan emosi orang tua anak, kalau dalam Islam, yakni: shalat berjama'ah.

Lain cerita tentang Tio, lain cerita tentang 4 keponakan saya Empat Pangeran Ganteng dengan karakter yang berbeda. Mas Ale yang jagoan dan si sulung yang tak mau mengalah, Mas Roqiy yang penurut dan kakak yang mengemong adiknya. Lalu, si Billy yang selalu nurut dan ikuti perilaku Mas Ale, dan terakhir si Bisma, bungsu pemarah yang punya senyum menenangkan. Hihihihi, mereka adalah 4 jagoan kecil yang dididik dengan hebat oleh kakak sepupu. Maklum kakak sepupu saya adalah dosen dan guru filsafat.
Saya tak pernah melihat kakak sepupu mengatakan kata negatif di depan anak-anaknya, alhasil mereka tumbuh jadi anak kreatif, hihihihihi. Yup, ada teknik tersendiri berbicara dengan anak kecil, yaitu: Dilarang Seperti Disuruh, Disuruh Seperti Dilarang. Sila di-klik aja link dari teori tersebut :D

Mas Ale dan Roqiy dua tahun lalu

Roqiy dan Billy 

Si gantengest di antara abang-abangnya, Bisma


Minggu, 21 Juli 2013

Special Day for My Pri :D

Hihiihihi hari ini ultah salah satu sobat saya. Ulang tahun yang kalau bukan karena FB, saya gak tau hehehe *dikeplak

Namanya Prihatiningsih, panggilan kerennya Pri. Pri satu ini adalah sobat yang saya kenal sejak tahun 2011.
Miss positive yang selalu tegas dan jujur. Hey, dia adalah salah satu dari beberapa orang yang menginspirasi saya. Minat dan perjuangannya pada pendidikan anak-anak marjinal benar-benar patut diacungin jempol. Sekarang dia asyik tu berbagi bersama relawan-relawan Jendela Jakarta di Perpustakaan Manggarai

Nah, karena tak mampu ke Jakarta dan memberikan surprise or kado. Sekedar ucapan kecil dari beberapa teman-teman kami di Komunitas Jendela semoga dapat menjadi 'surprise' kecil untuknya :D

Enjoy it dear Prie-chan


















Minggu, 30 Juni 2013

Jogja Berkebun Berbagi dengan Jendela di Sapen

23 Juni 2013
Yahya, Dika, dan Raka 
Hari itu merupakan hari seru bagi anak-anak Sapen. Seseruan maenan tanah dan belajar tentang alam bersama kakak-kakak Jogja Berkebun. Adik-adik kami Jendela Jogja diajak mengenal tentang bagaimana menanam di lahan sempit dengan memanfaatkan botol-botol bekas. Kakak-kakak relawan Jendela Jogja telah menyiapkan banyak botol bekas yang telah di-cat kuning untuk kegiatan hari itu.

Setelah selesai presentasi dari kak Maul, kordinator Jogja Berkebun, adik-adik kami ajak untuk mewarnai botol-botol dengan warna lain yang telah disiapkan yakni warna biru dan hijau. Mereka telah dibagi-bagi berdasarkan kelompok. Dan seperti biasa, mereka berebut untuk  bergabung dengan teman mereka sendiri hingga Abel ditolak oleh kelompok Dika dkk. Untunglah adegan marahan dan ngambek itu berakhir ketika Abel diterima kelompok Yoga, dkk. Kakak Jendelist yang datang siang itu banyak sekali. Mereka dibagi ke beberapa kelompok adik-adik untuk mendampingi dan membantu mereka menyiapkan wadah media tanam urban farming.

Kehebohan bersih-bersih tangan
semua adik2 pagi hari itu bermula dari sini
Pagi cerah itu diwarnai dengan celotehan dan keriangan adik-adik kami yang terkena cat di tangan dan kaki. Kelompok Dika yang terdiri dari Yahya dan Raka cukup heboh dari awal, dari mulai bertengkar dengan Abel hingga mewarnai tangan mereka dengan cat hingga akhirnya diikuti dengan anak-anak lain. Akibatnya, kami harus membantu membersihkan tangan mereka satu per satu dengan hati-hati  fiuuuuuuuuh.... -_____-“.


Kelar mengecat botol-botol, mereka pun diajak untuk mengisi botol dengan tanah. Setelah itu, kak Maul dkk membagikan bibit tanaman Bayam dan Kangkung pada adik-adik. Satu per satu kelompok yang menyelesaikan botol-botol yang telah dirangkai itu, diminta untuk menyetorkan ke kak Wawan dan Boy untuk dipajang di salah satu dinding luar balai dusun Sapen.
Wuhuuuuuuuu akhirnya dinding terisi sebagian dengan media tanam karya adik-adik Sapen. Dan pagi ini, 30/06/13, tanaman yang telah disemai adik-adik Sapen telah tumbuh segar di sana :D #hamdallah.

Moga mereka kelak terinspirasi dengan kecerian pagi hari itu dan memanfaatkan benda-benda bekas untuk dapat berkebun di halaman rumah mereka.


Yuhuuuuu ayuk diwarnai lagi ;D
Setelah botol diwarnai, mari kita rangkai dan gantung :)


Marisa Latifa


*all pics by Maria Ulfa 

Orang Dayak Kalimantan

Jogja, 30 Juni 2013
Berapa anak Sapen yang datang hari ini pada kegiatan berbagi di Jendela Jogja? Hohoho, hanya 10 anak, tidak banyak seperti biasa *tak apa karena personil relawan juga tidak banyak, hanya 5 kakak Jendelist. So, apa yang kami lakukan hari ini?

Hey, kami mengenalkan kebudayaan orang Dayak Kalimantan lho.

“Wah saru iki”, ujar Dika ketika melihat slide power point yang ada gambar animasi anak Dayak dengan hanya mengenakan penutup badan bagian bawah.
“Gak saru kok, nanti kamu akan paham kenapa orang Dayak memakai pakaian seperti itu”, jelas saya.
Saya pun menjelaskan bahwa cara berpakaian seperti itu adalah cara berpakaian orang Dayak dulu sebelum mengenal kain. “Mereka menutupi badan mereka dengan bahan yang terbuat dari lapisan kayu” ujar saya.
“Nah, di bagian manakah orang Dayak tinggal. Mereka tinggal di pulau di Kalimantan, Kalimantan ada dimana ya?” tanya saya

“Aku tau kak. Aku tahu”, Fafa bersemangat untuk menjawab.

“Waktu belajar tentang Siger, kalian tau kan Siger dari Lampung, dan Lampung ada di Sumatra. Jadi, masih ingat gak dimanakah Sumatra?” tanya saya memancing ingatan mereka. Fafa kembali beraksi dan menjawab. Dika yang kalah cepat hanya mampu cemberut dan berkata “aku ngerti Papua wae”

Selesai mengenalkan rumah ada orang Dayak, senjata mereka dan makna burung Enggang dalam kehidupan masyarakat Dayak. Anak-anak kami ajak melakukan workshop kecil membuat Tengkulas dan pompom tari Dayak *istilah terakhir merupakan istilah yang saya buat sendiri tuk menjelaskan tentang rangkaian bulu burung yang dipakai menari gadis-gadis Dayak. Seperti biasa, mereka berebut. Rian, Dika dan Yoga sebagai anak lelaki yang ikuta kegiatan hari itu memilih membuat Tengkulas, mahkota pria Dayak. Sementara anak perempuan lebih memilih membuat pom pom walau pada akhirnya mengubahnya menjadi mahkota, hehe.

Hemm, segitu dulu deh cerita berbagi di Sapen hari ini.





See u soon dengan cerita lain dari para Jendelist.

Marisa Latifa

Sabtu, 27 April 2013

Re-Post: Yang Tak Mampu Ayah Ucapkan

Mungkin karena Ibu lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata Ayah-lah yang mengingatkan Ibu untuk menelponmu? Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Ibu-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Ayah bekerja dan dengan wajah lelah Ayah selalu menanyakan pada Ibu tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian.

Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil, Ayah biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda. Dan setelah Ayah mengganggapmu bisa, Ayah akan melepaskan roda bantu di sepedamu... Kemudian Ibu bilang : "Jangan dulu Ayah, jangan dilepas dulu roda bantunya", Ibu takut putri manisnya terjatuh lalu terluka. Tapi sadarkah kamu? Bahwa Ayah dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Ibu menatapmu iba. Tetapi Ayah akan mengatakan dengan tegas : "Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang". Tahukah kamu? Ayah melakukan itu karena Ayah tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi.

Saat kamu sakit pilek, Ayah yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : "Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!". Berbeda dengan Ibu yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. Ketahuilah, saat itu Ayah benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja. Kamu mulai menuntut pada Ayah untuk dapat izin keluar malam, dan Ayah bersikap tegas dan mengatakan: "Tidak boleh!". Tahukah kamu, bahwa Ayah melakukan itu untuk menjagamu? Karena bagi Ayah, kamu adalah sesuatu yang sangat-sangat luar biasa berharga. Setelah itu kamu marah pada Ayah, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu. Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Ibu. Tahukah kamu, bahwa saat itu Ayah memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, Bahwa Ayah sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?

Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Ayah akan memasang wajah paling cool sedunia... Ayah sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu. Sadarkah kamu, kalau hati Ayah merasa cemburu?

Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Ayah melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya. Maka yang dilakukan Ayah adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir. Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut-larut. Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Ayah akan mengeras dan Ayah memarahimu. Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Ayah akan segera datang? "Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Ayah"

Setelah lulus SMA, Ayah akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur. Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Ayah itu semata-mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti. Tapi toh Ayah tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Ayah.

Ketika kamu menjadi gadis dewasa. dan kamu harus pergi kuliah di kota lain. Ayah harus melepasmu di bandara. Tahukah kamu bahwa badan Ayah terasa kaku untuk memelukmu? Ayah hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini - itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. Padahal Ayah ingin sekali menangis seperti Ibu dan memelukmu erat-erat. Yang Ayah lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata "Jaga dirimu baik-baik ya sayang". Ayah melakukan itu semua agar kamu KUAT.... kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.

Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Ayah. Ayah pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain. Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Ayah tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan. Kata-kata yang keluar dari mulut Ayah adalah : "Tidak.... Tidak bisa!" Padahal dalam batin Ayah, Ia sangat ingin mengatakan "Iya sayang, nanti Ayah belikan untukmu". Tahukah kamu bahwa pada saat itu Ayah merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana. Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu. Ayah akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat "putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang"

Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Ayah untuk mengambilmu darinya. Ayah akan sangat berhati-hati memberikan izin. Karena Ayah tahu. Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.

Dan akhirnya....
Saat Ayah melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Ayah pun tersenyum bahagia. Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Ayah pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis? 
Ayah menangis karena Ayah sangat berbahagia, kemudian Ayah berdoa....dalam lirih doanya kepada Tuhan, Ayah berkata: 

"Ya Tuhan tugasku telah selesai dengan baik. Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik. Bahagiakanlah ia bersama suaminya..."

Setelah itu Ayah hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk. Dengan rambut yang telah dan semakin memutih dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya, Ayah telah menyelesaikan tugasnya.

"Ayah, Papa, Bapak, atau Abah kita... Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat. Bahkan ketika beliau tidak kuat untuk tidak menangis... Beliau harus terlihat tegas bahkan saat beliau ingin memanjakanmu dan beliau adalah orang pertama yang selalu yakin bahwa "KAMU BISA" dalam segala hal..
Saya mendapatkan notes ini dari seorang teman, dan mungkin ada baiknya jika membagikannya kepada teman-teman yang lain. Tulisan ini aku dedikasikan kepada teman-teman wanita ku yang cantik, yang kini sudah berubah menjadi wanita dewasa serta ANGGUN, dan juga untuk teman-teman pria ku yang sudah ataupun akan menjadi ayah yang HEBAT !"

Senin, 18 Februari 2013

Mengenal Lebih Dekat Hewan dan Bermain Tebak-Tebakan Pelajaran Sekolah di Perpustakaan Sapen


Pagi hari itu ketika asyik menggendong Maura, balita kecil di Perpustakaan Sapen, saya berkenalan dengan Dika. Anak kecil laki-laki yang tidak suka bermain keluar dan lebih memilih tiduran di rumah daripada di sekolah. 
Ngalor ngidul menanyakan tentang kegiatan Dika dan Hana di sekolah, saya pun mengetahui bahwa pelajaran yang tidak mereka sukai adalah membatik. 

“Kenapa gak suka membatik?” tanya saya
“Susah mbak ngelukisnya” jelas Hana
“Lama ngerjainnya mbak. Aku jadi duduknya lama” jawab Dika
“Wah Dika ini berarti gak suka olahraga ya?” tanya saya
“Enggak, aku lebih suka di rumah main laptop” jawabnya sembari memainkan maenan prajuritnya yang dibawanya.
“Berarti kamu gak punya teman bermain dong? Wong senangnya di rumah? Berarti gak suka olahraga? Wah entar bisa endut lho” 
“Biarin” jawabnya
“Emang kalo di rumah ngapain aja selain mainin laptop?” tanya saya penasaran
“Nonton film” jawabnya polos
“Pasti kamu nontonya sambil tiduran?”, Dika mengangguk.
“Mau tau gak, kenapa orang yang gak mau banyak bergerak atau berolahraga bisa gemuk terus nanti sakit?” 
Dika diam saja. Saya pun memutar otak sembari memikirkan cara menjelaskan dengan gampang tentang kebiasaan gak baik Dika yang tak mau bermain secara fisik, bersosialiasi dan olahraga itu. 
“Hemm jadi gini, kamu liat ini?” ujar saya sembari menunjukan urat nadi saya. “Ini namanya pembuluh darah. Nah pembuluh darah ini mirip seperti pipa air”
“Jadi ketika kita tidak olaharaga dan banyak bergerak, darah yang lewat didalamnya akan mudah tersumbat. Dan itu yang akan membuat kita sakit. Coba Dika mainin pipa air. Beda gak pipa yang di dalamnya ada batu dengan yang tidak? Lebih deras mana air yang mengalir di pipa? Yang ada batunya atau tidak?”
“Sama aja” ujarnya keras kepala
“Beda dong. Coba deh besok-besok Dika coba sendiri, pasti yang ada batunya yang bikin air susah mengalir. “Wah kakak gak bawa bukunya sich, kalo kamu udah baca buku itu. Ada gambar banyak tentang tubuh kita lho. Kalo kamu baca itu pasti kamu langsung mau olahraga” jelas saya 
“Ah benar mbak? Minggu depan di bawa ya, mau aku baca!” pintanya, saya mengangguk meski kemudian baru tersadar bahwa Ensiklopedia itu bukan milik Jendela tapi milik anak-anak Perpustakaan Merapi. Minggu depan harus putar otak deh, agar mendapatkan info tentang anatomi tubuh.

Setelah ngobrol asyik dengan Dika hampir 15 menit-an, Jendelist yang tadi meninggalkan saya untuk memanggil anak-anak Perpustakaan Sapen pun datang. Kami pun memulai acara berbagi pagi hari itu.
Kegiatan pertama, tentu saja, games ice breaking. Jendelist mengajak anak-anak bermain kecil terlebih dulu, setelah itu inti kegiatan dimulai.  Hey ada kakak relawan baru juga yang ikutan gabung. Mereka adalah kak Fafa, kak Shinta dan kak Firman. 

“OK, sekarang kalian ambil kertas ini. Satu orang satu. Siapa yang mengetahui gambar Cicak, Anjing atau Tikus yang didapatkannya, harus segera bersuara seperti hewa yang tergambar di kertas itu ya. Dan cari kelompok kalian” jelas Shela. Suasana pun riuh dengan anak-anak yang menirukan suara hewan-hewan tersebut. Nah, saya pun mendapatkan krucil-krucil bernama Salma, Kiki, Laras, Mamat dan Hana untuk saya, Mentari dan Shinta damping. Pagi hari itu saya membaca bersama buku Rori 1 & 2. Saya minta kakak relawan dan masing-masing anak-anak membaca satu kalimat secara bergantian. Anak-anak kecil ini mengikuti aturan tersebut dengan antusias. Tak menyangka, Kiki yang notabene cowok dan kelas 5 SD tetap mau membaca secara bergiliran, meski dia tetap cerewet dan usil pada Mamat.

Saya akhiri kegiatan membaca bersama itu dengan pertanyaan, “Apa yang bisa kita pelajari dari cerita ini?”
“Persahabatan” jawab Kiki cepat
“Yup bener. Dan hewan yang setia dan menjadi sahabat pas bagi manusia ada 2 yakni: pertama adalah hewan kesayangan Nabi, tau apa itu?”
“Kucing” jawab mereka
“Kedua, hewan yang menemani Ashabul Khafi, tau kan apa?”
“Anjing” jawab Kiki
“Tapi mbak anjing itu kan najis” tambah Kiki
"Eits, tapi inget lho. Ada satu anjing yang menjadi sahabat muslim dan kelak akan masuk surga karena kesetiaannya pada 7 tuannya itu. Tau kan anjing tersebut anjingnya siapa?", jelas saya agar anak-anak tidak salah mempresepsikan najis menjadi suatu kebencian sehingga memandang sebelah mata dan curiga pada teman nonmuslim-nya.
"Iya aku tau mbak, anjing milik Ashabul Khafi" jawab Kiki.

Nah karena kelompok kami membaca bersama lebih cepat dari kelompok lain. Akibatnya, saya dan kakak relawan bingung mau ngapain, hingga akhirnya saya putuskan ngobrol ngalor ngidul menanyakan tentang masing-masing anak-anak tersebut *maklum kehadiran saya pagi hari itu adalah kehadiran pertama di perpustakaan Sapen. 
“Hoh jadi di sekolahmu isi perpustakaannya banyak tentang buku agama Islam, Ki? Emang buku apa yang kamu baca?” tanya saya 
“Buku tentang sejarah Islam mbak. Ada buku tebal tentang  sahabat-sahabat Nabi dan aku menghabiskannya dalam seminggu” jelasnya.
“Wohooo keren” ujar saya tidak terlalu percaya ucapannya. Setelah menanyakan tentang banyak hal tentang diri masing-masing mereka dan saya yang akhirnya paham bahwa si Kiki ini sangat menyukai pelajaran Sejarah setelah memberikan info tentang budaya beberapa suku padanya dan teman-temannya. 
“Woooh aku ngerti yo mbak cerita tentang perang suku Dayak dan Madura” jelas si Kiki
“Hah moso?” tanya saya gak percaya
“Yow is kutanyain, daerah asal awal mula terjadinya perang Dayak dan Madura ki dimana mbak?” tanya dia. 
“Sambas” jawab saya
“Bukan yo, tapi Sampit” ujar Kiki bangga. 
“Oh iya ya”
Sumpah ini anak ingatan dan hafalannya detail banget. Lalu, terbersit ide untuk bermain tebak-tebakan dengannya setelah beberapa kali saya ‘kalah’ menjawab pertanyaannya dan menyebabkan kehebohan pagi hari itu. 
“OK kalo gitu kita maen tebak2an. Karena gak ada bedak, yang gak bisa jawab lengannya dipukul dengan dua jari, seperti ini ya?” jelas saya sembari memperagakan gaya ‘hukuman’ kecil ala Korea untuk membuat suasana lebih hidup, meski jujur gak baik sich ni, hehe.
“Oh OK siap aku. Ayo Laras, Salma, Mamat kita lawan mbak-mbak ini” ujar si Kiki semangat. Tentu saja, saya, Mentari dan Shinta jadi satu tim dan akan menanyakan pertanyaan Bahasa Inggris, Geografi dan IPA. Mereka lebih akan bertanya tentang Sejarah dan Agama Islam.
Dan ternyata pertanyaan tim lawan yang dipimpin Kiki itu sulit sekali untuk kami, mahasiswi yang sudah lama tidak bersinggungan dengan sejarah. Kiki menanyakan pertanyaan:
“Apa itu Fujinkai?”
“Kenapa Jepang disebut sebagai saudara Indonesia?”
“Termasuk ke dalam bidang apakah Fujinkai itu?

Karena kami tak mampu menjawab, kami pun di’hukum’ dengan pukulan jari di lengan ala Korea. Kiki sangat senang mengetahui kami tidak bisa menjawab. Tapi permainan imbang kok, mereka juga tidak bisa menjawab beberapa pertanyaan bahasa Inggris dan IPA yang kami ajukan, hehe

Kelar tebakan-tebakan asyik, kami pun memulai kegiatan dengan menggambar hewan sesuai dengan kelompoknya. Kiki pamit pulang mengetahui kegiatan selanjutnya itu, dan saya meminta dia untuk pamit dan salim ke semuanya jika ingin pulang terlebih dahulu. Dia memang tidak suka kegiatan menggambar.  Selang setengah jam, anak-anak perpustakaan Sapen begitu tenang dan asyik dengan kertas dan pensil warna yang telah disiapkan kakak relawan. Selesai menggambar kegiatan pun selesai dan masing-masing kami pamit pulang dengan hati senang. Bagi kami, relawan, kegiatan berbagi ini menjadi suatu sarana untuk mendidik kami belajar jadi orang tua yang baik.




When you put faith, hope and love together, you can raise positive kids in a negative world ~ Zig Ziglar

Jumat, 25 Januari 2013

Reading Time: Berbagi Ala Komunitas Jendela bersama Anak-Anak Melayu yang Comel


Sejak kembali ‘hidup’ lagi, itu dari tahun 2007, saya telah bertekad untuk selalu bermanfaat dimanapun saya berada. Oleh karena itu, saya berusaha untuk berbagi dimanapun berada meski liburan sekalipun. Jika libur semester tahun lalu, saya asyik berbagi dengan anak-anak di Karimun, libur semester 2 ini saya yang memiliki agenda berkunjung ke Pontianak dalam rangka nikahan sobat tercinta, Nina Herfiana, berbagi dengan anak-anak Melayu Pontianak. Berbagi seperti apa?

Ya tentu saja berbagi ala Komunitas Jendela, yakni dengan mengenalkan kegiatan membaca yang asyik ke anak-anak. Seperti biasa andalan saya hanyalah buku cerita dan kemampuan suara keras saya, hehe.

Indah (Kiri). Keponakan dari  Si Pengantin (Kanan)


Jauh hari sebelum berangkat saya memang merencanakan untuk membawa buku cerita koleksi saya, Aku dipanggil Rori untuk bekal berbagi di Pontianak. Pagi itu, hari ke-2, setelah membaca sejenak buku Dahlan Iskan: Ganti Hati, terlihat salah satu keponakan sobat saya yang menyendiri. Namanya Indah, dia tidak bergabung dan bermain dengan sodaranya yang lain di rumah sebelah. Saya pun menutup buku dan mengajaknya bicara. Setelah itu, saya mengajaknya membaca buku. Kebetulan di sana ada adik kecil lain, Kania, saya pun mengajaknya. Asyik membaca bersama di depan teras rumah, mendadak sodara-sodara kecil yang lain yang tadi asyik bermain pun ikut bergabung. Mereka berebut minta giliran membuka ‘jendela’ kecil dari buku dua dimensi tersebut. Berhubung acara Mandi Berhias yang dijadwalkan pagi hari itu sudah hendak dimulai, saya pun menitipkan buku pada mereka dan meminta mereka untuk membaca bergantian. Saya berpesan pada Farah, keponakan sobat yang lebih besar, untuk memegang buku tersebut dan menyimpannya jika mereka semua sudah membaca.

Malam hari ke-4, saya berbagi dengan Chacha, keponakan sobat saya Henny Kristina. Anak imut yang selalu mengenakan baju pink tersebut memang bawel. Sembari berbaring, saya tidak membaca tulisan yang ada di buku, hanya menjabarkan gambar yang ada dengan bahasa sederhana karena Chacha belum bisa membaca. Saya memintanya menyebutkan binatang yang ada, berapa jumlahnya dan juga mengajaknya untuk menghitung jumlah binatang yang ada. Chacha sangat kritis sekali, dia selalu bertanya kenapa ini (buaya) ada di sini? Kenapa tadi dia ada di situ? Ini kenapa ‘pintu’nya dibuka?
Setelah itu, saya memintanya untuk menceritakan kembali. Dan dia tampak tidak percaya diri, lalu saya menyakinkan dia. Chacha pun mau membaca lagi dengan mengajukan rentetan pertanyaan lain yang berbeda. Selesai membaca, dia keluar dan kembali dengan membawa buku ceritanya.

Chacha langsung sigap berpose seketika
melihat kamera saya 
“Tante, ini buku Chacha” ujarnya sembari menyerahkan buku berwarna pink
“Buku apa ini?” tanya saya yang mencoba ngetes daya ingatnya, meski saya sendiri sudah membaca judul buku tersebut: Strawberry Shortcake
“Stroberi Shotkek” jawabnya.
“Chacha ingin membaca ini? Kita baca ini bareng ya?” pinta saya, dan dia mengganguk dengan tetap memegang buku Rori milik saya.

Setelah 5 halaman saya ajak dia membaca, dia tampak tak antusias. Buku tersebut memang full color, tapi tidak membuat anak untuk bisa berinteraksi. Alhasil, Chacha sibuk membuka buka lagi buku Aku Dipanggil Rori milik saya. Saya pun berusaha menyelesaikan meski Chacha cuek bebek, karena saya tidak ingin tindakan saya yang tidak menyelesaikan membaca buku menjadi nilai buruk: mengerjakan sesuatu setengah-setengah.