Rabu, 04 Juli 2012

Evolusi Nilai Moral Baru Anak melalui Film Dongeng

Sudah nonton film Brave belum? Itu lho film anak baru yang diadaptasi dari dongeng animasi Snow White keluaran Disney tahun 1937. Saya sendiri sebenarnya belum menyempatkan diri untuk menontonnya. Namun, ketika membaca artikel tentang film Brave di VOA Indonesia, saya jadi tergelitik untuk menulis respon atas artikel tersebut plus, tentu saja, saya jadi lebih ingin nonton nich (Untung udah masuk musim liburan ya?)

Artikel VOA tersebut berjudul Tak Ada Lagi Putri Tak Berdaya dalam Film Adaptasi Dongeng Klasik, membahas tentang re-interpretasi nilai moral film Snow White dalam dua versi, yakni Brave dan Snow White and the Huntsman. Putri-putri cantik era klasik itu tidak lagi diceritakan sebagai sosok yang rapuh dan lemah. Mereka menjelma menjadi sosok putri cantik yang kuat dan pemberani sekaligus cerdas. Interpretasi baru tentang karakter tokoh utama ini memberikan nilai baru tentang sosok wanita modern ke dalam imajinasi anak-anak yang menontonnya.
Film merupakan media yang tepat dan cepat untuk menanamkan nilai moral pada diri anak-anak. Mengapa? Hal ini karena film memiliki 3 tujuan sebagai media pembelajaran. Muh. Alfi Fajerin dalam artikelnya Film sebagai Media Pembelajaran menjelaskan tiga tujuan fungsi film berupa  kognitif, psikomotor, dan afektif. Fajerin menjabarkan fungsi film dari segi kognitif, yakni:
1. mengajarkan pengenalan kembali atau pembedaan stimulasi gerak yang relevan, seperti kecepatan obyek yang bergerak, dan sebagainya
2. mengajarkan aturan dan prinsip. Film dapat juga menunjukkan deretan ungkapan verbal, seperti pada gambar diam dan media cetak. Misalnya untuk mengajarkan arti ikhlas, ketabahan, dan sebagainya.
3. memperlihatkan contoh model penampilan, terutama pada situasi yang menunjukkan interaksi manusia.
Sementara pada aspek afektif, Fajerin menjelaskan film dapat mempengaruhi emosi dan sikap seseorang, yakni dengan menggunakan berbagai cara dan efek. Ia merupakan alat yang cocok untuk memperagakan informasi afektif, baik melalui efek optis maupun melalui gambaran visual yang berkaitan.

Menurut saya, evolusi penanaman nilai baru modern ke dalam diri anak-anak di Dunia Modern ini sudah dimulai sejak film Echanted. Enchanted dirilis pada tahun 2007 di Amerika Serikat merupakan film musikal produksi Walt Disney Pictures dan Josephson Entertainment. Film Echanted menceritakan sosok putri cantik, Gisselle di dunia dongeng yang mendadak terlempar ke kehidupan nyata di kota New York. Diceritakan di film tersebut, seorang Ayah Robert Philip  yang tidak menyukai putrinya membaca cerita dongeng klasik Putri Salju, Putri Tidur, dan sebagainya. Ia menyarankan sang anak untuk lebih membaca buku-buku kisah biografi tokoh-tokoh sejarah. Harapannya satu agar si anak mulai melihat dunia sebagai realitas yang sebenarnya daripada hidup dengan imajinasi kehidupan dongeng. Itu salah satu adegan yang ditampilkan di Echanted.

Adegan lain yang menarik adalah ketika Gisselle meminta bantuan pada kakek pengemis di sudut kota dengan pikiran lugu dan polosnya tentang kakek baik hati ala dunia dongeng namun berakhir dengan dirampoknya kalung miliknya oleh si kakek, seakan menggambarkan betapa dunia dongeng dan dunia nyata jauh berbeda. Beberapa adegan memang sengaja dibuat dan dikemas untuk menyadarkan penonton akan poin perbedaan dunia nyata dan dunia dongeng tersebut. Penonton diajak untuk mendekontruksi nilai dan pemahaman mereka tentang sosok putri dan gadis baik hati yang lugu dan polos. Sosok putri klasik yang lemah dan tidak berdaya. Anak-anak yang menonton ini memang dibawa pada suatu nilai baru akan sosok putri modern yang positif, kuat dan tahu apa yang diinginkan untuk dirinya sendiri, bukan lagi sosok putri yang menunggu datangnya keajaiban.

Sumber Foto: Wikipedia.com dan 21Cineplex.com

Kembali pada film Brave dan Snow White and the Huntsman, kedua film ini menjadi film adaptasi dongeng klasik terbaru yang menjadi elemen lanjutan evolusi nilai moral baru tentang sosok putri cantik pada anak-anak. Suatu nilai tentang sosok wanita yang ideal dalam dunia modern dimana tujuan dari aspek kognitif dari suatu film lebih ditonjolkan. Putri-putri klasik yang menjelma dengan karakter baru di dalam film adaptasi dongeng klasik ini tampil sebagai contoh baru anak-anak dunia modern. 

Referensi:
Muh. Alfi Fajerin. Film Sebagai Media Pembelajaran, diakses melalui http://griyadownload.blogspot.com/2012/01/film-sebagai-media-pembelajaran.html