Senin, 27 Februari 2012

Jendelist, Anak-Anak Merapi dan ID Cerita Jogja

26 Februari 2012. Saya bersama relawan Komunitas Jendela kembali ke Atas. Kali ini, program jaga perpustakaannya bekerjasama dengan ID Cerita Yogyakarta. Ada tiga relawan dari IDCerita, dan ternyata salah satu relawannya teman dekat saya, Niam (Dunia selalu terasa sempit jika semua hal terkait Jogja :p).
Tiba di shelter, teman-teman kecil kami sudah menanti bersama Jendelist lain, Ridwan dan Bayu, yang sudah tiba terlebih dahulu. Gadis kecil dg baju batik yang dikenakannya langsung meraih tangan saya ketika saya duduk di antara mereka. "Nama kamu siapa? mbak Marisa belum berkenalan ni"
"Rika" ujarnya sembari tetap memegang erat tangan saya. Cukup aneh juga dengan reaksinya yang langsung merangkul tangan saya.




"Mbak Marisa..Mbak Marisa, nanti kita baca buku lagi kan?" tanya Diah. Langsung ditodong seperti itu, antara kaget dan bersyukur berarti beberapa teman kecil kami sudah mulai menyukai aktivitas yang kami lakukan di Shelter sejak November tahun lalu itu. Alhamdulillah. "Iya nanti, setelah kita mendengarkan cerita dari mas dan mbak ID Cerita" jawab saya. Tak ingin lagi merusak program yang sudah dirancang Yanti, Wawan dan Ridwan sebagai Jendelist Program Komunitas Jendela Jogja.
"Ya ya...kalo gitu kita pindah ke Balai Dusun aja mbak, jangan di sini" ajaknya. Kami pun pindah melakukan aktivitas Story Telling ID Cerita di Balai Dusun.


Siang itu, Niam sudah menyiapkan cerita yang berisi motivasi tuk senang membaca dan berani bermimpi.
"Sebelum mas cerita, mas mau tanya ni. Apa kalian punya idola? Ayo sebutkan idola kalian?" tanya Niam
"Wah sopo yo mas?" jawab Diah yang ada di samping saya
"Itu mas Arif bukan idola kalian po?" tanya saya
"Bukan mbak, mas Arif itu sahabat kami" jawabnya.
"Cherry Belle" celetuk Ridwan. Mereka pun menanggapinya dengan sorakan.
Setelah mendapatkan jawaban, Niam pun memulai ceritanya.


"Baiklah sekarang saya akan membawa adik-adik memasuki dunia dalam buku si Albert. Apa kalian ingin masuk ke dunia itu juga?" tanya Niam di tengah cerita.
"Emoh ora gelem" ujar Diah
Niam tetap melanjutkan ceritanya, dia paham benar hadapin teman-teman kecil kami ini. Meski beberapa kali terlihat anak-anak Merapi ini pecah fokus karena aktivitas yang terjadi di sekitar Balai Dusun. Niam selalu bisa membuat mereka kembali mendengarkan ceritanya.
"Yang mas ceritain tadi itu, beneran lho. Si Albert itu beneran pernah hidup di dunia. Kalian pengen tahu gak?" tanya Niam dengan mengambil secarik kertas dengan gambar seseorang.
"Nah tadi mas ceritakan seperti apa si Albert itu kan? Ayo sebutkan si Albert kayak apa?"
"Acak-acakan, jelek, gak suka senyum", jawab beberapa anak antusias.
"Iya benar. Nah ini dia si Albert" ujar Niam menunjukan gambar si Albert Einstein.
"Wah aku ngerti, pernah liat si Albert di buku" ujar Jannah seketika setelah melihat wajah si Einstein.
"Benarkah? buku apa?" tanya Niam
"Itu lho mas buku BODOH. Sik aku ambilkan", Jannah pun bergegas ke rumahnya dan mengambil buku. Dan ternyata buku BODOH yang dia maksud adalah buku PINTAR. Teman-teman kecil kami pun berebutan ingin melihat wajah si Albert di dalam buku.






"Mbak, kalau udah selesai kita jalan-jalan yuk!" ajak Diah dan Arum
"Jalan-jalan kemana?" tanya saya
"Itu ke sana, beda dengan yang kemaren kok mas Ridwan" jelas si Arum pada Ridwan yang gak mau jalan-jalan kalau tujuannya sama kayak sebelumnya.
"Baiklah kita jalan-jalan. Tapi izin dulu yuk!" pinta saya. Ridwan pun meminta izin ke Sekre Kaliadem.
Siang itu setelah mendengarkan ID Cerita Jogja, kami pun menjelajah area sekitar shelter. Mereka mengajak ke Batu Kura-Kura, tapi karena jalannya terlalu sulit dan ada Vika dan Rahmat yang kecil, kami hanya menjelajah sampai ke area aliran sungai yang telah mati lalu kembali.


Kembali ke Shelter, kami ishoma dulu. Setelah itu, kembali ke Balai Anak (sebutan tuk perpustakaan). Beberapa anak mengambil buku, saya pun mengambil buku Ensiklopedia Jendela IPTEK yang diminta Diah bacakan. "Bukan yang ini udah kita baca mbak. Kalo yang ini belum" jelasnya ketika melihat isi buku.
Kami pun mulai membaca bersama lagi. Semi yang dulu tak berantusias pun, ikut bergabung dan berebut tempat duduk di samping saya dengan Arum.
"Sik aku juga mau ambil buku ah", ujar Arum. Dan si Semi pun merebut tempat duduk Arum dan duduk di samping saya. Asyik menjelaskan isi buku dan membaca bersama Diah dan Semi. Vika, 4 thn, berceletuk "Aku juga mau ambil buku"
Gadis mungil itu masuk ke perpustakaan dan mengambil 2 majalah Bobo, lalu kembali duduk depan saya, Diah dan Semi. Dia pun mengikuti cara kakak-kakaknya, bertanya tentang isi buku:


"Mbak ini apa?" 


Siang itu benar-benar berkesan bagi saya. Diah, Arum, Tifa dan sekarang Semi plus Vika udah mulai 'jatuh cinta' dengan buku. Semoga pengalaman berbagi yang tak begitu intens ini membekas di hati mereka.

Today a reader, tomorrow a leader.

Margaret Fuller