Minggu, 01 Juli 2012

Kontroversi Tor-Tor, Harus Lebih Produktif & Peduli Budaya Indonesia Demi Untuk Anak-Anak Indonesia

Entah untuk yang berapa kalinya, pemerintahan kita seperti kebakaran jenggot jika ada kasus pengklaiman warisan budaya Indonesia oleh negara lain. Tapi entah berapa kali pula, usaha nyata tidak kunjung terlihat. Kasus terakhir adalah rencana pengklaiman tari Tor Tor dan alat musik Gordang Sambilan asal Mandailing, Sumatera Utara sebagai warisan nasional oleh Malaysia.

Saya jadi teringat dengan pernyataan Kepala Kajian dan Penelitian Budaya Melayu dari Universitas Negeri Yogyakarta, Mahyudin Al Mudra pada artikel berita di VOA Indonesia yang berjudul Indonesia akan Daftarkan Tari Tor Tor ke UNESCO dimuat pada tanggal 20 Juni 2012. Beliau berpendapat Isu klaim budaya Indonesia oleh Malaysia harus disikapi secara lebih produktif, tidak cuma sekedar respon reaktif berupa kecaman. Saya sangat setuju dengan pendapat Beliau. Sikap produktif seperti apa yang bisa dilakukan? Ya, tentu saja, lebih mengenalkan budaya bangsa sendiri pada masyarakat Indonesia. Apa saja itu? Banyak ragam dan cara. Salah satunya mengenalkan budaya melalui kurikulim Pendidikan Pusaka.
Indonesia sendiri memiliki beragam budaya yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Ada sekitar 350 suku bangsa di negeri ini. Budaya yang dimaksud di sini tidak hanya kekayaan kesenian tradisional tetapi juga termasuk pengetahuan, kepercayaan, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat (Edward Burnett Tylor). Oleh karena itu, Koentjaraningrat merumuskan tujuh unsur kebudayaan, yakni: 1) Sistem mata pencaharian hidup, 2) Ilmu pengetahuan atau teknologi, 3) Bahasa, 4) Sistem kepercayaan atau Religi, 5) Sistem organisasi sosial, 6) Kesenian, dan 7) Peralatan dan perlengkapan hidup manusia. Tapi dari 7 unsur kebudayaan tersebut, hanya tiga elemen yang sering dibahas dan dikenalkan pada anak-anak, yakni: kesenian, sistem mata pencaharian hidup, dan sistem kepercayaan atau religi. Coba lihat kurikulum yang ditawarkan di sekolah. Buku-buku yang membahas dengan dalam tentang masing-masing unsur kebudayaan dari suatu suku bangsa Indonesia tidak banyak. Kita hanya menemui gambar baju adat dan rumah adat di Atlas dan RPUL yang tidak banyak dibuka ketika di kelas. Penjelasan tentang baju dan rumah adat itu pun terbatas hanya pada nama, tidak pada bentuk dan info tentang fungsi dari bagian-bagiannya.

Gambar kartun   dengan pakaian adat Jawa kreasi saya.2009 

Pada tahun 2009 yang lalu, BPPI Yogyakarta mengembangkan kurikulum baru untuk sekolah yakni Pendidikan Pusaka. Saya pribadi sangat tertarik sekali dengan gagasan tentang pusaka budaya. Hal-hal yang dibahas dalam pusaka budaya (dikutip dari pendidikanpusaka.org) adalah 
1. Pusaka keluarga
2. Bangunan tua di sekitar tempat tinggal
3. Bangunan dan monumen bersejarah
4. Kawasan permukiman/perkampungan tradisional
5. Situs prasejarah
6. Peralatan hidup
7. Pusaka industri (contoh: pabrik, jalur kereta api, mesin transportasi)
8. Tradisi lisan, 
9. Tradisi tulis, literatur, dan kearsipan, 
10. Permainan tradisional, 
11. Pertunjukan boneka tradisional, wayang,
12. Tarian, 
13. Musik
14.Olah raga, ketangkasan, dan bela diri
15. Kerajinan tangan dan seni rupa
16. Perdapuran/kulinari
17. Pengobatan tradisional
18. Adat istiadat/tata perilaku


Program pendidikan pusaka ini sendiri telah diujicobakan 13 sekolah dasar (SD) di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Beberapa buku pendidikan pusaka budaya yang telah diterbitkan periode 2010 adalah 
1. Aku Dapat Menganyam, 
2. Apotek Hidup, 
3. Ayo Belajar Membatik, 
4. Belalang, Makanan Khas dari Wonosari, 
5. Bakpia, Kelezatan dari Yogya, 
6. Dhakon, 
7. Geplak, 
8. Gobag Sodor, 
9. Gumbregan, 
10. Jelajah ke Bukit Turgo,
11. Jumputan (Seni Celup Ikat), 
12. Kipo, Makanan Tradisional Gunungkidul, 
13. Panatacara, 
14. Sejarah Masjid Syuhada, 
15. Sejarah SD Ungaran, 
16. Selokan Mataram, 
17. Tamansiswa, 
18. Tari Kraton Putri, 
19. Tempe, Thiwul, Makanan Kesukaanku.


Format bukunya dikemas menarik dengan gambar, seperti komik. Namun, gaung kegiatan dan program ini tidak lagi terdengar. Program ini pun baru sebatas membahas tentang pusaka budaya D.I. Yogyakarta dan Jawa, belum meluas pada pusaka daerah lain yang memang kurang dijamah. Hal yang sama terjadi pada kreativitas pada gambar kartun sebagai souvenir kaos, gantungan kunci atau pernak-pernik lucu aksesoris, tokoh kartun Jawa/Bali dengan baju adat Jawa/Bali lebih banyak dicipta dibandingkan daerah lain.

Lalu, saya sendiri apa yang saya lakukan? Saya sendiri hanya lakukan sedikit usaha. Saya hanya menulis surat untuk anak didik teman-teman saya yang pernah dan masih jadi Pengajar Muda di beberapa daerah di pelosok Indonesia. Surat tersebut berisi penjelasan tentang pusaka budaya Bugis, Bali dan Toraja. Saya pun hanya iseng membuat gambar-gambar kartun Jawa dan rumah adat Tongkonan Toraja untuk mempermanis surat tersebut. Usaha lain saya hanyalah bercerita kecil ke anak-anak SD tentang pusaka budaya Bugis, Bali dan Toraja tadi sewaktu KKN 2008 lalu, dan pada anak-anak Merapi di Shelter Gondang 1 (teman-teman kecil perpustakaan yang didirikan mandiri oleh anak muda Jogja melalui Komunitas Jendela), Cangkringan Jogja. Selain itu, saya hanya menggambar kartun-kartun lucu orang Jawa, Padang dan Batak bersama seorang teman waktu kuliah di Antropologi, tapi sayang kami tidak mempublikasikannya.

So, yuk teman-teman Antropologi dan Arkeologi kita lebih produktif. Kita bisa tu bekerjasama dengan teman-teman dari Arsitektur, Teknik Sipil, Sastra Nusantara, Sejarah, dll multidisplin gitu tuk membuat karya pendidikan pusaka untuk anak-anak Indonesia. Kita bisa tu menciptakan game adventure yang mengajak anak-anak mempersiapkan ritual adat suatu suku bangsa. Atau, yuk kita membuat buku dengan gambar-gambar lucu yang menjelaskan pusaka budaya suku bangsa di Indonesia seperti yang telah kita peroleh ilmunya di bangku kuliah.

Atau tuk teman-teman wirausahawan/i, ayuk buat desain kaos (contoh kaos buatan Dagadu, OleOlang), pin, gantungan kunci, souvenir lucu atau produk-produk kreatif lainnya yang mengangkat tema pusaka budaya masing-masing suku bangsa di Indonesia. Ada 350 etnik lho, potensi yang besar kan? Profit didapat, pelestarian dan pengenalan budaya pada masyarakat luas juga diperoleh.

Respon anak-anak pelosok membaca surat 'pusaka budaya' buatan saya .
Foto oleh Matilda N (Saumlaki) dan Ester D (Halmahera) 

Referensi: 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar