Senin, 23 Juli 2012

Janji Setahun Lalu

20 Juli 2012 akhirnya janji yang sempat tertunda setahun lalu tertunaikan. Ya janji saya untuk mengabari teman-teman kecil perpustakaan Burung Biru Museum Anak Kolong Tangga Jogja akhirnya terwujud.
Ceritanya ni setahun lalu, ada liputan dari SCTV untuk kegiatan di Museum Anak Kolong Tangga Jogja. Siang itu, kami mengajak anak-anak sekitar Sekretariat Yayasan Dunia Damai-Museum Anak Kolong Tangga Jogja untuk bermain di Museum sebagai rewards karena mereka telah mengikuti beberapa program perpustakaan yang diberikan untuk mereka. Alhasil, Panji, Yudha, Nona, dkk yang hadir dan mengikuti workshop Membuat Wayang. Seperti apa hasil liputan siang itu, sila kunjungi link berikut ini: 
Liburan di Museum Anak Kolong Tangga

Suasana workshop Wayang siang itu 

Nah, kelar liputan dan bermain bersama itu, seharusnya setelah mengetahui jadwal publish hasil liputan SCTV itu saya mengabari teman-teman kecil Museum tersebut. Tetapi saya terlambat memberitahukan info tersebut pada teman-teman kecil kami. Maklum saya sendiri tidak sempat melihat hasil liputan SCTV ketika publish ke khalayak umum karena sibuk mengurus usaha kedai jus buah saya di Jember. Ya setahun berlalu dengan memendam perasaan tidak enak selama itu, alhamdulillah, Jumat siang itu saya bersama dengan Primi, teman relawan di Museum akhirnya merealisasikan janji itu. 

Namun, karena amat sangat terlambat, saya mengganti janji menunjukan video hasil liputan SCTV tersebut dengan buku tulis hasil donasi dari teman saya Bonnie C Nova. Bonnie memberikan amanah agar donasi buku tulisnya diberikan pada mereka yang membutuhkan. Nah, karena setahun lalu, saya tidak memiliki momentum yang pas untuk memberikan buku-buku tulis itu, maka sekaranglah saya berikan buku-buku tersebut. Memanfaatkan momentum tahun ajaran baru memberikan buku tulis untuk anak-anak Surokarsan yang notabene hidup sederhana di pinggiran Kali Code.
(Maaf Bonnie amanahmu baru kurealisasikan sekarang, pun untuk donasikan buku-buku tulis itu ke anak-anak Merapi. Tak ingin memberikan buku pada momentum yang biasa saja, tak apakan? Apa aku telah melanggar amanahmu?)

Siang itu, saya dan Primi langsung meluncur ke rumah Panji. Kebetulan dia dan sang ayah sedang asyik nongkrong di pos ronda. Saya sempat lupa dan malah ingat dengan Ipin, kakak Panji. Setelah mengingat, baru deh sadar, hehehe. Saya menjelaskan kedatangan saya dan memintanya untuk mengingat siapa saja yang ikut kegiatan liputan setahun lalu. Dia mencoba mengingatnya dan memanggil Yudha dan Nana. Ada 8 buku tulis berserta alat tulis donasi Bonnie yang saya serahkan dan titipkan ke Panji untuk diberikan pada teman-temannya yang lain. Alhamdulillah akhirnya dua janji terealisasikan :)
Janji setahun lalu akhirnya saya tepati :)
Pengen tahu lebih lanjut tentang Museum Anak Kolong Tangga Jogja, sila follow twitter-nya:
@kolongtangga 

Senin, 16 Juli 2012

Sarasehan Literasi Media Komunitas Rimotevi & Komunitas Jendela di Merapi

8 Juli 2012 menjadi hari yang membuat saya pribadi gugup sekali. Maklum hari itu adalah hari spesial buat saya dan relawan Komunitas Jendela. Hari itu, saya dan relawan Komunitas Jendela mempersiapkan acara diskusi dengan warga shelter Gondang 1 Merapi. Sebuah diskusi yang dedikasikan untuk orang tua anak-anak shelter yang telah aktif mengikuti kegiatan Komunitas Jendela selama hampir setahun ini. Diskusi tersebut diisi oleh teman-teman kami dari Komunitas Rimotevi Yogyakarta dengan tema Televisi, Lawan atau Kawan?

Berhubung saya PJ kegiatan, otomatis saya mondar-mandir ke dua lokasi kegiatan. Kegiatan pertama diskusi Rimotevi dg warga di masjid dan menonton film untuk anak-anak shelter di perpustakaan. Nah siang itu, salah satu relawan Komunitas Jendela, Szasza, yang bertugas dg Rimotevi melakukan livetweet. Seperti apa diskusi saat itu, ini dia tweet kegiatannya:

Yeay! Acara Sarasehan Bersama komunitas Jendela dan @rimotevi di Shelter Gondang 1 sudah dimulai :)
Kak @marismanise menampilkan foto2 keg. Jendela bersama adik2 Shelter Gondang 1 slama setahun ini :) laporan ke orang tua adik2 :D
Setelah kak @marismanise cerita kegiatan Jendela, kakak2 @rimotevi mulai mengajak 'ngobrol' orangtua dr adik2 Shelter Gondang 1

Seru nih! kakak2 @rimotevi lempar wacana > Televisi, teman atau lawan?
Orang tua yg datang, yang kebanyakan ibu2 ini antusias sekali menjawab pertanyaan tadi :)

Teman para anak2, ketika TV menayangkan pengajian. Berita jika beritanya positif. Pangkur Jenggleng krn budaya, dsb

Lawan para anak, ketika TV menayangkan berita kekerasan, sinetron, beberapa kartun yg muatannya tidak layak utk anak, dsb

Kapan biasanya anak nonton TV? Pagi, sore, malam. Padahal idealnya 2 jam/hari, jika lebih dr 4-5 jam akan menunjukan masalah emosi. :o

Selain masalah emosi, anak2 pun jd kurang bergerak/mengalami gangguan motorik. Padahal otak-otot anak2 perlu dilatih agar berkembang.

Dan tidak dapat dielakkan anak2 yg merupakan 'pengcopy' yg baik jadi mudah meniru tayangan2 yg buruk.

Mau tidak mau, TV memang menarik krn tanpa memerlukan pemikiran, siapa saja bisa nonton TV. Beda dg internet, koran, majalah

Karena itu kita perlu LITERASI MEDIA, pengetahuan & kemampuan utk akses,analisis,evaluasi,produksi pesan komunikasi dlm berbagai bentuk

Suasana diskusi bersama Rimotevi. Foto oleh Mentari
Siapa yang untung ketika kita nonton TV? Kita kah? Atau pihak lain?

Cara kerja TV: penonton banyak > rating tinggi > iklan banyak. Nah, siapa yg untung?

Th 2010,berita Merapi di TV yg bbagai macam mnimbulkan kecemasan2 tidak tepat.Artinya kita perlu waspada dg tayangan2 tmasuk berita

Nah, ada 5 pedoman dasar literasi media agar kita kritis thd media, agar tidak 'terjebak' kecemasan/perasaan/sangka yg tidak tepat

1. Tayangan di media adl buatan,sebagian besar direkayasa,bahkan berita pun dibuat sedemikian rupa shg kita terpengaruh&percaya adanya

2. Tayangan TV adl representasi dr realitas yg mengandung nilai2. Kita perlu mengerti bagaimana 'menyaring' nilai2 tsb

3. Ada teknik2 ttentu utk menarik perhatian pemirsa, makanya kita bisa terharu, marah, dsb. Hati-hati terbawa suasana :D

4. Tayangan yg sama dapat bermakna berbeda jika dilihat oleh orang yg berbeda.

5. Media massa btujuan cari UNTUNG. Nah, waspada lah kita agar tidak menguntungkan mereka dan malah merugikan diri 

... dg LITERASI MEDIA diharapkan dapat membatasi dan mengontrol tayangan yg kita konsumsi

Suasana di dalam perpustakaan.
Foto oleh Mentari
Lalu, bagaimana suasana di perpustakaan? Nah ini dia yang bermasalah anak-anak mulai jenuh setelah setengah jam pemutaran film. Maklum tidak ada teks bahasa di film The Nanny and Big Bang yang diputarkan untuk mereka. Jujur, saya lebih fokus mempersiapkan diskusi untuk warganya dibandingkan mendampingi si teman-teman kecil ini. Saya lupa menganalisa kesukaan anak-anak. Ya mereka sangat suka sekali film horror yang ada monster dan hantunya. Dan ketika sudah berada di penghujung waktu, saya menunjukan film Spiderwick ke Mike, Semi, dkk mereka amat penasaran dan meminta saya berjanji agar lain kali mau menonton film tersebut dengan mereka.

Tepat pukul 05.30 acara selesai, setelah shalat magrib berjamaah. Kami pun pamit pulang. Saya dan Jendelist memutuskan makan malam bareng dulu.  Selesai makan, salah satu relawan, Mentari K bercerita, “Ini buat semangat kita semua. Tadi pas selesai acara, aku bilang sama salah satu Ibu: ‘Ibu terimakasih sudah datang ke acara kami hari ini’ . Eh si Ibu malah bilang gini: ‘Justru saya yang berterimakasih mbak. Sejak ikut Jendela anak saya jadi suka baca buku dan rajin belajar. Terus Ibu yang itu, anaknya dapat rangking 3 dan sering pinjam buku di sekolahnya”


Malam itu, saya menitikkan air mata ketika mendengar cerita Mentari. Perjuangan saya dan teman-teman untuk ‘menghidupkan’ perpustakaan shelter selama hampir setahun, mulai dari tak ada anak shelter samasekali, ruangan perpustakaan yang selalu diberantakan dg mainan tanpa disentuh buku-bukunya, masalah relawan yang hanya sedikit berkomitmen, hingga ada beberapa anak shelter yang aktif mengikuti program yang kami tawarkan setiap minggunya, akhirnya membuahkan hasil meski itu hanya terjadi di kehidupan beberapa anak shelter. Tapi bagi saya dan relawan Komunitas Jendela, ini adalah capaian yang luar biasa mengingat kami bekerja hanya bermodalkan niat baik dan semangat untuk berbagi.
Foto bareng setelah penutupan acara. Foto oleh Heri P

Rabu, 04 Juli 2012

Evolusi Nilai Moral Baru Anak melalui Film Dongeng

Sudah nonton film Brave belum? Itu lho film anak baru yang diadaptasi dari dongeng animasi Snow White keluaran Disney tahun 1937. Saya sendiri sebenarnya belum menyempatkan diri untuk menontonnya. Namun, ketika membaca artikel tentang film Brave di VOA Indonesia, saya jadi tergelitik untuk menulis respon atas artikel tersebut plus, tentu saja, saya jadi lebih ingin nonton nich (Untung udah masuk musim liburan ya?)

Artikel VOA tersebut berjudul Tak Ada Lagi Putri Tak Berdaya dalam Film Adaptasi Dongeng Klasik, membahas tentang re-interpretasi nilai moral film Snow White dalam dua versi, yakni Brave dan Snow White and the Huntsman. Putri-putri cantik era klasik itu tidak lagi diceritakan sebagai sosok yang rapuh dan lemah. Mereka menjelma menjadi sosok putri cantik yang kuat dan pemberani sekaligus cerdas. Interpretasi baru tentang karakter tokoh utama ini memberikan nilai baru tentang sosok wanita modern ke dalam imajinasi anak-anak yang menontonnya.
Film merupakan media yang tepat dan cepat untuk menanamkan nilai moral pada diri anak-anak. Mengapa? Hal ini karena film memiliki 3 tujuan sebagai media pembelajaran. Muh. Alfi Fajerin dalam artikelnya Film sebagai Media Pembelajaran menjelaskan tiga tujuan fungsi film berupa  kognitif, psikomotor, dan afektif. Fajerin menjabarkan fungsi film dari segi kognitif, yakni:
1. mengajarkan pengenalan kembali atau pembedaan stimulasi gerak yang relevan, seperti kecepatan obyek yang bergerak, dan sebagainya
2. mengajarkan aturan dan prinsip. Film dapat juga menunjukkan deretan ungkapan verbal, seperti pada gambar diam dan media cetak. Misalnya untuk mengajarkan arti ikhlas, ketabahan, dan sebagainya.
3. memperlihatkan contoh model penampilan, terutama pada situasi yang menunjukkan interaksi manusia.
Sementara pada aspek afektif, Fajerin menjelaskan film dapat mempengaruhi emosi dan sikap seseorang, yakni dengan menggunakan berbagai cara dan efek. Ia merupakan alat yang cocok untuk memperagakan informasi afektif, baik melalui efek optis maupun melalui gambaran visual yang berkaitan.

Menurut saya, evolusi penanaman nilai baru modern ke dalam diri anak-anak di Dunia Modern ini sudah dimulai sejak film Echanted. Enchanted dirilis pada tahun 2007 di Amerika Serikat merupakan film musikal produksi Walt Disney Pictures dan Josephson Entertainment. Film Echanted menceritakan sosok putri cantik, Gisselle di dunia dongeng yang mendadak terlempar ke kehidupan nyata di kota New York. Diceritakan di film tersebut, seorang Ayah Robert Philip  yang tidak menyukai putrinya membaca cerita dongeng klasik Putri Salju, Putri Tidur, dan sebagainya. Ia menyarankan sang anak untuk lebih membaca buku-buku kisah biografi tokoh-tokoh sejarah. Harapannya satu agar si anak mulai melihat dunia sebagai realitas yang sebenarnya daripada hidup dengan imajinasi kehidupan dongeng. Itu salah satu adegan yang ditampilkan di Echanted.

Adegan lain yang menarik adalah ketika Gisselle meminta bantuan pada kakek pengemis di sudut kota dengan pikiran lugu dan polosnya tentang kakek baik hati ala dunia dongeng namun berakhir dengan dirampoknya kalung miliknya oleh si kakek, seakan menggambarkan betapa dunia dongeng dan dunia nyata jauh berbeda. Beberapa adegan memang sengaja dibuat dan dikemas untuk menyadarkan penonton akan poin perbedaan dunia nyata dan dunia dongeng tersebut. Penonton diajak untuk mendekontruksi nilai dan pemahaman mereka tentang sosok putri dan gadis baik hati yang lugu dan polos. Sosok putri klasik yang lemah dan tidak berdaya. Anak-anak yang menonton ini memang dibawa pada suatu nilai baru akan sosok putri modern yang positif, kuat dan tahu apa yang diinginkan untuk dirinya sendiri, bukan lagi sosok putri yang menunggu datangnya keajaiban.

Sumber Foto: Wikipedia.com dan 21Cineplex.com

Kembali pada film Brave dan Snow White and the Huntsman, kedua film ini menjadi film adaptasi dongeng klasik terbaru yang menjadi elemen lanjutan evolusi nilai moral baru tentang sosok putri cantik pada anak-anak. Suatu nilai tentang sosok wanita yang ideal dalam dunia modern dimana tujuan dari aspek kognitif dari suatu film lebih ditonjolkan. Putri-putri klasik yang menjelma dengan karakter baru di dalam film adaptasi dongeng klasik ini tampil sebagai contoh baru anak-anak dunia modern. 

Referensi:
Muh. Alfi Fajerin. Film Sebagai Media Pembelajaran, diakses melalui http://griyadownload.blogspot.com/2012/01/film-sebagai-media-pembelajaran.html

Senin, 02 Juli 2012

My Dreams, Belajar & Bermain Kata dalam Bahasa Inggris

Mike, Saya & Fika (Gbr kiri). Si Mike (Gbr kanan)
30 Juni 2012. Saya kembali aktif di kegiatan jaga perpustakaan Komunitas Jendela Yogyakarta. Tema jaga perpustakaan siang itu adalah My Dream. Hari kamis, kami sudah melakukan briefing sebelum naik ke Atas. Puput sebagai PJ jaga perpus shelter Sabtu kemaren telah merancang program hari itu.

Siang hari, saya tiba di shelter pukul 01.05 wib bersama Zulfa, kemudian Bayu, Puput, Shela dan Tya plus adiknya. Shela, Puput, dan Tya memanggil dan menjemput beberapa anak shelter. Saya, Bayu dan Zulfa menyiapkan tempat di ruang kosong depan perpustakaan. Tya tiba dengan menggendong anak shelter yang belum saya kenal. Setelah berkumpul beberapa anak, kami pun memulai kegiatan.
Tya memulai dengan menjelaskan dan mengingatkan tentang tema belajar bahasa Inggris seminggu sebelumnya. Tika, Mike dan beberapa anak menjawab dengan menyebutkan beberapa profesi
 "Dokter"
"Guru"
"Bahasa inggrisnya?' tanya Tya sembari menulis jawaban mereka.
Tika dan Mike terlihat berhati-hati menjawab.
"Ya benar. Doctor, Teacher"
"Ejaannya?" tanya Tya lagi.
Mereka pun mengeja dengan campuran ejaan ala Indonesia dan bahasa Inggris.
Shela dan Puput membantu untuk membenarkan ejaan mereka yang bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Setelah menyebut beberapa pekerjaan yang lain dan mengambil gambar beberapa profesi, anak-anak mulai terlihat tidak tertarik. "Nah itu tadi kan nama cita-cita pekerjaan yang kalian senangi. Sekarang, kita akan memilih peralatan dan perlengkapan dari masing-masing pekerjaan tadi. Ini ada gambar peralatan dari masing-masing pekerjaan. Contohnya ni Guru. Bapak dan Ibu Guru butuh peralatan apa hayo?"
"Pensil"
"Papan Tulis"
"Terus apalagi?" tanya Shela lagi. Mereka terdiam, bingung.
Saya pun meminta Shela untuk menganti taktik, meminta anak-anak untuk berlomba mengambil gambar kartu profesi. Shela mengumpulkan semua gambar profesi.
"OK sekarang, mbak minta kalian mencari peralatan dan perlengkapan dari pekerjaan yang kalian inginkan. Kakak tanya dulu, Tika ingin jadi apa? Semi? Mike? Diah? Didik?"
"Guru"
"Dokter"
"Guru"
"Guru"
'Tentara"
"Baik, sekarang mbak akan menebarkan masing-masing perlengkapan profesi. Kalian mbak beri waktu 10 detik untuk mengambil gambar peralatan sesuai dengan profesi kalian. Mbak Puput tolong dihitung ya waktunya" ujar Shela, tampak wajah anak-anak antusias. Mereka bersiap untuk berebut. Shela menebarkan gambar-gambar di hadapan mereka, ketika ia berucap "Mulai"
Anak-anak pun teriak dan berebut satu sama lain. Semi yang berada di belakang dan tak bisa berebut, mendadak malas dan ngambek. "Ah emoh ah", ia berdiri dan pergi.
"Lho kok pergi?" tanya saya.
"Eh Semi Semi...ini gambar buat Dokter" ujar Diah menyerahkan gambar sarung tangan kedokteran.
"Ini juga" ujar Mike menyerahkan alat pengukur tekanan darah.
"Semi semi ini lho dibantu teman-temannya" ujar saya
Semi hanya cemberut di pojokan.
"Ini lho kamu dibantu teman-temannya nyari gambar buat Bu Dokter Semi...dihargai dong bantuan mereka" jelas saya. Semi pun tersenyum dan kembali bergabung. "Ini juga Semi" Arum menyerahkan gambar suntikan.
"Emoh aku yang ini" tolak Semi
"Itu kan suntikan dipakai Dokter juga" jelas saya
"Wedi aku mbak" ujarnya
"Ya gpp, ambil aja. Kan Arum udah bantu nyariin buat kamu" jelas saya. Ia pun mengambil gambar yang diserahkan Arum.

"Jadi udah pada dapat semua kan? Sekarang, tolong sebutkan perlengkapan itu dalam bahasa Inggris. Kita mulai dari Erna" pinta Tya.
Setelah mendengar itu, Semi dan Diah beranjak pergi. Mereka tampak takut. Saya pun menghampiri "Lho lho kok pergi toh ya? Pada takut ya? Haduuuuuuuuuuuuh, ini lho bukan dikelas. Gakkan ada hukuman. Nanti juga dibantu kok sama mbak mas-nya. Ayo gabung lagi. Kita kan belajar bareng ni"
Mereka pun menurut dan kembali bergabung.

Siang itu, selesai belajar dan bermain bareng. Semi menceritakan bahwa esok hari, Minggu 1 Juli 2012, si Mike akan tampil untuk PILDACIL mewakili Kaliadem.
"Oh ya benarkah? Jam berapa?" tanya saya
"Jam 8 mbak"
"Wah kalau gitu. Ayo Mike coba latihan sekarang...di depan mbak dan mas" pinta saya.
Mike tampak malu. Tapi setelah diyakinkan, Mike pun berlatih di depan kami. Setelah berlatih, kami, Jendelist, bermain sejenak lalu ketika adzan Ashar terdengar. Saya pamit untuk shalat dulu, menarik Bayu dan yang lainnya. Ternyata anak-anak shelter mengikuti kami. Semi, Mike dan Didik pun ikut shalat bersama kami.

Jaga perpustakaan Komunitas Jendela siang itu benar-benar terasa bermakna sekali. Entahlah kami, Jendelist, telah memberikan pengaruh seberapa besar ke dalam kehidupan anak-anak Shelter Gondang 1 Merapi. Memang tidak banyak anak yang mampu kami jangkau, hanya Semi, Diah, Mike, Fika, Arum, dan Didik yang tiap akhir pekan selama setahun ini, kami relawan telah berinteraksi secara intens. Semoga ini tidak sia-sia...amiiin3x.

Minggu, 01 Juli 2012

Kontroversi Tor-Tor, Harus Lebih Produktif & Peduli Budaya Indonesia Demi Untuk Anak-Anak Indonesia

Entah untuk yang berapa kalinya, pemerintahan kita seperti kebakaran jenggot jika ada kasus pengklaiman warisan budaya Indonesia oleh negara lain. Tapi entah berapa kali pula, usaha nyata tidak kunjung terlihat. Kasus terakhir adalah rencana pengklaiman tari Tor Tor dan alat musik Gordang Sambilan asal Mandailing, Sumatera Utara sebagai warisan nasional oleh Malaysia.

Saya jadi teringat dengan pernyataan Kepala Kajian dan Penelitian Budaya Melayu dari Universitas Negeri Yogyakarta, Mahyudin Al Mudra pada artikel berita di VOA Indonesia yang berjudul Indonesia akan Daftarkan Tari Tor Tor ke UNESCO dimuat pada tanggal 20 Juni 2012. Beliau berpendapat Isu klaim budaya Indonesia oleh Malaysia harus disikapi secara lebih produktif, tidak cuma sekedar respon reaktif berupa kecaman. Saya sangat setuju dengan pendapat Beliau. Sikap produktif seperti apa yang bisa dilakukan? Ya, tentu saja, lebih mengenalkan budaya bangsa sendiri pada masyarakat Indonesia. Apa saja itu? Banyak ragam dan cara. Salah satunya mengenalkan budaya melalui kurikulim Pendidikan Pusaka.
Indonesia sendiri memiliki beragam budaya yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Ada sekitar 350 suku bangsa di negeri ini. Budaya yang dimaksud di sini tidak hanya kekayaan kesenian tradisional tetapi juga termasuk pengetahuan, kepercayaan, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat (Edward Burnett Tylor). Oleh karena itu, Koentjaraningrat merumuskan tujuh unsur kebudayaan, yakni: 1) Sistem mata pencaharian hidup, 2) Ilmu pengetahuan atau teknologi, 3) Bahasa, 4) Sistem kepercayaan atau Religi, 5) Sistem organisasi sosial, 6) Kesenian, dan 7) Peralatan dan perlengkapan hidup manusia. Tapi dari 7 unsur kebudayaan tersebut, hanya tiga elemen yang sering dibahas dan dikenalkan pada anak-anak, yakni: kesenian, sistem mata pencaharian hidup, dan sistem kepercayaan atau religi. Coba lihat kurikulum yang ditawarkan di sekolah. Buku-buku yang membahas dengan dalam tentang masing-masing unsur kebudayaan dari suatu suku bangsa Indonesia tidak banyak. Kita hanya menemui gambar baju adat dan rumah adat di Atlas dan RPUL yang tidak banyak dibuka ketika di kelas. Penjelasan tentang baju dan rumah adat itu pun terbatas hanya pada nama, tidak pada bentuk dan info tentang fungsi dari bagian-bagiannya.

Gambar kartun   dengan pakaian adat Jawa kreasi saya.2009 

Pada tahun 2009 yang lalu, BPPI Yogyakarta mengembangkan kurikulum baru untuk sekolah yakni Pendidikan Pusaka. Saya pribadi sangat tertarik sekali dengan gagasan tentang pusaka budaya. Hal-hal yang dibahas dalam pusaka budaya (dikutip dari pendidikanpusaka.org) adalah 
1. Pusaka keluarga
2. Bangunan tua di sekitar tempat tinggal
3. Bangunan dan monumen bersejarah
4. Kawasan permukiman/perkampungan tradisional
5. Situs prasejarah
6. Peralatan hidup
7. Pusaka industri (contoh: pabrik, jalur kereta api, mesin transportasi)
8. Tradisi lisan, 
9. Tradisi tulis, literatur, dan kearsipan, 
10. Permainan tradisional, 
11. Pertunjukan boneka tradisional, wayang,
12. Tarian, 
13. Musik
14.Olah raga, ketangkasan, dan bela diri
15. Kerajinan tangan dan seni rupa
16. Perdapuran/kulinari
17. Pengobatan tradisional
18. Adat istiadat/tata perilaku


Program pendidikan pusaka ini sendiri telah diujicobakan 13 sekolah dasar (SD) di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Beberapa buku pendidikan pusaka budaya yang telah diterbitkan periode 2010 adalah 
1. Aku Dapat Menganyam, 
2. Apotek Hidup, 
3. Ayo Belajar Membatik, 
4. Belalang, Makanan Khas dari Wonosari, 
5. Bakpia, Kelezatan dari Yogya, 
6. Dhakon, 
7. Geplak, 
8. Gobag Sodor, 
9. Gumbregan, 
10. Jelajah ke Bukit Turgo,
11. Jumputan (Seni Celup Ikat), 
12. Kipo, Makanan Tradisional Gunungkidul, 
13. Panatacara, 
14. Sejarah Masjid Syuhada, 
15. Sejarah SD Ungaran, 
16. Selokan Mataram, 
17. Tamansiswa, 
18. Tari Kraton Putri, 
19. Tempe, Thiwul, Makanan Kesukaanku.


Format bukunya dikemas menarik dengan gambar, seperti komik. Namun, gaung kegiatan dan program ini tidak lagi terdengar. Program ini pun baru sebatas membahas tentang pusaka budaya D.I. Yogyakarta dan Jawa, belum meluas pada pusaka daerah lain yang memang kurang dijamah. Hal yang sama terjadi pada kreativitas pada gambar kartun sebagai souvenir kaos, gantungan kunci atau pernak-pernik lucu aksesoris, tokoh kartun Jawa/Bali dengan baju adat Jawa/Bali lebih banyak dicipta dibandingkan daerah lain.

Lalu, saya sendiri apa yang saya lakukan? Saya sendiri hanya lakukan sedikit usaha. Saya hanya menulis surat untuk anak didik teman-teman saya yang pernah dan masih jadi Pengajar Muda di beberapa daerah di pelosok Indonesia. Surat tersebut berisi penjelasan tentang pusaka budaya Bugis, Bali dan Toraja. Saya pun hanya iseng membuat gambar-gambar kartun Jawa dan rumah adat Tongkonan Toraja untuk mempermanis surat tersebut. Usaha lain saya hanyalah bercerita kecil ke anak-anak SD tentang pusaka budaya Bugis, Bali dan Toraja tadi sewaktu KKN 2008 lalu, dan pada anak-anak Merapi di Shelter Gondang 1 (teman-teman kecil perpustakaan yang didirikan mandiri oleh anak muda Jogja melalui Komunitas Jendela), Cangkringan Jogja. Selain itu, saya hanya menggambar kartun-kartun lucu orang Jawa, Padang dan Batak bersama seorang teman waktu kuliah di Antropologi, tapi sayang kami tidak mempublikasikannya.

So, yuk teman-teman Antropologi dan Arkeologi kita lebih produktif. Kita bisa tu bekerjasama dengan teman-teman dari Arsitektur, Teknik Sipil, Sastra Nusantara, Sejarah, dll multidisplin gitu tuk membuat karya pendidikan pusaka untuk anak-anak Indonesia. Kita bisa tu menciptakan game adventure yang mengajak anak-anak mempersiapkan ritual adat suatu suku bangsa. Atau, yuk kita membuat buku dengan gambar-gambar lucu yang menjelaskan pusaka budaya suku bangsa di Indonesia seperti yang telah kita peroleh ilmunya di bangku kuliah.

Atau tuk teman-teman wirausahawan/i, ayuk buat desain kaos (contoh kaos buatan Dagadu, OleOlang), pin, gantungan kunci, souvenir lucu atau produk-produk kreatif lainnya yang mengangkat tema pusaka budaya masing-masing suku bangsa di Indonesia. Ada 350 etnik lho, potensi yang besar kan? Profit didapat, pelestarian dan pengenalan budaya pada masyarakat luas juga diperoleh.

Respon anak-anak pelosok membaca surat 'pusaka budaya' buatan saya .
Foto oleh Matilda N (Saumlaki) dan Ester D (Halmahera) 

Referensi: