Senin, 26 Maret 2012

Pilih Jadi Tae Ho atau Pilih Jadi Diri Sendiri?

Minggu, 25 Maret 2012.
Jujur jaga perpustakaan siang ini kurang persiapan, maklum ide nonton film Tae Ho baru muncul Sabtu sore, hehe. Tiba di Shelter, ternyata perpustakaan masih tutup. Teman-teman kecil kami tidak ada.


"Wah, apa kami terlambat? Anak2 sudah pergi tampil Jathilan kah?" batin saya.
Beberapa Jendelist juga belum tampak. Saya dan adik pun, Dian (adik sahabat dari Kalimantan), menunggu di Balai Dusun. Langit cerah pagi itu. Sembari menunggu waktu, Dian pamit main ayunan, saya pun tenggelam dalam lamunan 'Tuhan sudah setahun sejak hari dimana sy tiba di Shelter ini. Waktu cepat berlalu ya? Tak menyangka Komunitas Jendela tetap bertahan dan sudah ada 10 anak yang aktif dan rutin maen tiap minggunya ke perpustakaan shelter. Perjuangan memang harus seperti itu, naik turun dan diri kita tetap diharuskan pantang menyerah tuk gapai mimpi itu"


Dari kejauhan tampak sepeda motor Wawan, salah satu Jendelist. Saya pun memanggil Dian dan mengajaknya tuk segera ke perpustakaan shelter.
Setelah pintu dibuka, wah berantakan sekali dan penuh debu. Kami pun berinisiatif tuk membersihkan dan memperbaiki listrik perpustakaan karena kami menduga anak-anak tidak akan ke perpustakaan. Selesai membersihkan, saya pun meminta semua Jendelist kumpul dan nonton film tentang Tae Ho (sebenarnya itu bukan film, tapi dokumentasi tentang Tae Ho). Saya mencoba ajak diskusi Jendelist, kira-kira setelah nonton Tae Ho, anak-anak kita minta melakukan apa? Ide awal saya sich hanya ingin menanamkan rasa syukur pada anak-anak Shelter tuk semua hal yang mereka miliki, hanya saja bingung seperti apa formatnya.


Asyik diskusi, mendadak beberapa anak Shelter datang.
"Lho kalian gak nonton Jathilan?" tanya Wawan. "Kita gak nonton kok, mas", jawab Semi dan Puput.
Baiklah, meski hanya ada sebagian anak-anak dan kami sudah telanjur di sana, bukankah lebih baik rencana tetap dijalankan?


Ada Semi, Puput, Tifa, Fahri, dan Titik. "Ayo duduk semua. Pagi ini, kita akan nonton tentang teman kita dari Korea" jelas saya
"Kalian tau gak Korea dimana?"
"Engggggggaaaak" jawab mereka polos
"Lho mana ni petanya? Gak ada ya Mu?" tanya saya ketika melihat sekeliling ruangan dan tak menjumpai satu peta besar sumbangan saya, pada Heri (Jendelist yang sering saya panggil Mujianti, hehe)


"Hemm, petanya gak ada. Kalian ingat gak Jepang yang waktu itu lho, nah Korea itu tetangganya Jepang. Baiklah, kiita mulai aja nontonnya. Nanti setelah nonton, mbak Marisa pengen kalian menulis tentang diri kalian" ujar saya.


"Nulis apa mbak?" tanya Semi
"Tentang rasa syukur. Hemm, maksud mbak, kalian pernah kan gak bersyukur? Gak bersyukur itu seperti ini, 'Wah kenapa ya saya gak cantik", "Kok saya gak pintar' 'Kok begini' 'Kok begitu'. Jadi, kita mulai nonton yuk!"ajak saya.


Setengah jam, suasana di perpustakaan hanya terdengar celotehan beberapa anak yang kaget melihat kondisi Tae Ho. "Lho kok iso yo?" tanya Semi heran dengan kondisi Tae Ho, walau tak memiliki tangan namun dapat melakukan semua sendiri.


Kelar nonton, kertas-kertas dibagikan. Lalu anak-anak pun menulis dan bertebaran di ruang perpustakaan tuk cari ruang menulis sendiri. Selesai menulis, saya minta mereka semua kumpul lagi. Dan meminta mereka bercerita, "Hari ini, mbak punya 3 bintang. Yang pengen dapat bintang, mbak Marisa minta menceritakan isi tulisannya tadi ke teman-temanya. Ayo siapa yang berani"
Mereka tampak kaget dan gak berani. Lalu, Puput berinisiatif cerita karena tergiur dengan reward bintangnya, maklum yg dapat bintang terbanyak bakal dapat kesempatan piknik, hehe.
"Aku gak bersyukur karena aku malas belajar mbak" jelasnya
"Kamu kenapa kok malas belajar?", tanya saya
"Kalo di sekolah itu kan capek mbak. Berangkat ke sekolah, olahraga" jelasnya polos
"Emang kamu gak suka pelajaran apa sich?"
"PKN ama matematika mbak"
"Hemm, baiklah itu aja pertanyaan mbak Marisa. Ayo tepuk tangan tuk Puput! Mas Wawan, minta bintangnya ya" pinta saya pada Wawan
Setelah itu bergiliran Titik bercerita tentang rasa tak bersyukurnya yg tak memiliki komputer dan Tifa yang selalu diejek temannya.


"Lho, Tik. Kamu kok gak bersyukur gak punya komputer. Itu HP kan komputer juga. Kalian tau gak sich, kalo HP itu perpaduan antara komputer dan telepon biasa" jelas saya.
"Udah pada tau gak telepon biasa jaman dulu kayak apa?' tanya saya dan mereka bingung
"Yo wis, mbak Marisa carikan bukunya dulu, biar kalian tahu"
Setelah mendapatkan bukunya, Semi dan Tifa pun mengelilingi saya. "Ini lho Semi, Tifa telepon biasa itu"
Kemudian Titik ikutan nimbrung, "Nah jadi Titik, tidak tepat kamu kalo tidak bersyukur gak punya komputer"
Mendadak terlintas sesuatu di kepala saya, "Oh iya, sekarang mbak Marisa tanya: Pilih mana gak punya komputer, diejek teman, gak punya duit atau jadi kayak Tae Ho, punya komputer, uang dan semua-semuanya tapi gak punya ke dua tangan?"
"Wah bingung mbak" jawab Semi
Sunyi sejenak, wajah mereka tampak berpikir dan mulai mempertanyakan diri sendiri.
"Ayo Tifa pilih apa? Semi? Titik?"
"Tapi susah je mbak gak punya duit", jawab Semi polos
"Tapi kamu masih punya tangan dan kaki lengkap, masih bisa belajar dan bergerak dengan semuanya kan? Gak kayak Tae Ho terbatas geraknya?" jawab saya
"Iya benar juga, yo wis mbak aku milih ndak punya apa-apa"
"Kamu Titik? Pilih komputer apa jadi kayak Tae Ho?"
"Aku pilih gak punya komputer mbak" jawabnya setelah sempat bingung tadi
"Nah, gitu bersyukurlah tuk semua yang kalian miliki. Tae Ho yang gak punya tangan aja masih semangat tuk belajar dan berkerja keras. Kalian juga, musti lebih rajin belajar ya" pinta saya.


"Hemm, ayo sudah mbak Marisa jelaskan tentang buku ini. Sekarang saatnya baca buku sendiri-sendiri" pinta saya lagi
Mereka langsung bergerak dan berebutan ambil buku. Sumpah, walau tahu mereka telah berantusias dengan buku dari cerita Jendelist dan mengetahui sendiri, tetap saja saya terkaget dengan respon mereka yang cepat dan berantusias ketika diminta membaca buku. Barakallah, teman-teman kecilku :D




Cekidot cerita lain versi Jendelist di -->  bit.ly/H59aQZ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar