Selasa, 18 Desember 2012

You Cook, I Eat


Yuhuuuuuuuuuuu akhirnya pameran You Cook, I Eat yang telah direncanakan dan disiapkan sejak 2 tahun lalu dibuka pada tanggal 16 Desember 2012. Saya dan beberapa 'mantan' relawan Museum angkatan 2008 begitu antusias dan senang menghadiri pameran tersebut. Maklum selain silaturahim dengan Bapak Rudi Coren, kurator museum, kami pun dapat berjumpa dan sedikit ngobrol plus narsis dengan beberapa relawan yang masih bertahan di sana. 

Rundown acara


So apa itu Pameran You Cook, I Eat. Pameran ini merupakan pameran yang berusaha mengangkat nilai budaya makan dengan segala aspeknya. Jadi tidak hanya fakta tentang makanan dari berbagai belahan dunia yang akan ditemui pada pameran ini, tetapi juga segala sesuatu terkait dengan semua aktivitas sebelum makanan dihidangkan hingga persoalan sosial: kelaparan yang terjadi di beberapa negara di Afrika dan Timur Tengah juga diangkat. Ada peralatan dan perangkat untuk mengolah makanan, ada pula beragam bentuk makanan olahan hingga folklore tentang manusia kanibal. Nah, karena pameran ini diselenggarakan oleh Museum Mainan Anak Pertama di Indonesia, Museum Anak Kolong Tangga Jogja maka, tentu saja, ada beberapa mainan masak-memasak dan replikanya. Lebih serunya terdapat pula, replika dapur orang Jawa yang dibangun di salah satu sudut ruangan, lengkap dengan semua perabot, lampu dan lain-lain. Penasaran? 

Ayok kunjungi Pameran You Cook, I Eat di Taman Budaya Jogja mulai dari tanggal 16-26 Desember 2012. Liburan sekaligus bernostalgia dan menambah pengetahuan tentang budaya makan dunia dapat diagendakan lho ^_^v. Jangan lupa juga untuk berkunjung ke stan-stan penjual makanan tradisional dan pernak-pernik lucu karya seniman Jogja. 

Selebihnya, biarkan foto yang berbicara =D



Kamis, 15 November 2012

Sharing Session 'Cerita Rakyat vs Cerita Modern'

Alhamdulillah, akhir tahun 1433 H kemaren saya tutup dengan kegiatan yang amat sangat positif , apa itu?
Sharing session & diskusi tentang Cerita Rakyat vs Cerita Modern bareng teman-teman mahasiswi PAUD Universitas Yogyakarta. Ada 20 mahasiswi yang hadir dan mereka tampak antusias, utamanya setelah Shela, relawan Komunitas Jendela Jogja, mengajak mereka bermain Opposite sebelum diskusi dimulai *maklum mereka belum pernah bermain permainan ini, hehe
"Nah itu tadi, sedikit cara yang relawan Komunitas Jendela lakukan untuk menarik minat baca anak" ujar saya setelah selesai bermain. "Oke kita lanjutkan diskusinya ya!"

Selama kurang lebih 20 menit, saya memaparkan ke teman-teman baru saya ini tentang pentingnya membacakan cerita atau mendongeng pada anak-anak sebelum tidur. Manusia memancarkan 4 gelombang otak, nah salah satu yang berpengaruh adalah gelombang Alpha. Gelombang ini dapat menjadi suatu 'media' bagi orang tua untuk menanamkan nilai-nilai moral, kebaikan dan impian ke dalam pikiran alam bawah sadar anak-anak. Agar kelak dia dewasa, ketika mengalami kegalauan ataupun mulai kehilangan pegangan, nilai-nilai yang 'tertanam' dalam pikiran alam bawah sadarnya dapat membimbing dan menguatkannya.

Saya pun membagikan pengalaman-pengalaman saya ketika menghadapi tingkah pola anak-anak agar mereka tertarik membaca. Kakak, guru atau pun orang tua dapat menggunakan keunikan buku-buku cerita yang penuh dengan gambar warna-warni ataupun desain dua/tiga dimensi untuk membuat anak-anak tertarik. Selain itu, celetukan, intonasi dan mimik juga dapat menjadi 'senjata' agar mereka mau menoleh dan membaca buku bersama.

Saya pun berusaha memancing interaksi dengan teman-teman PAUD UNY dengan pertanyaan : "Apakah cerita rakyat Indonesia itu merupakan cerita yang mengajarkan kekerasan dan konflik?"

Ada sekitar 6 orang yang bertanya dalam diskusi tersebut. Ada yang bertanya tentang cerita apa yang baik untuk anak-anak usia dini dan SD, konflik seperti apa yang harus diceritakan pada mereka, seberapa efektifkah sebuah cerita itu diceritakan selain ketika sebelum tidur, bagaimana membuat cerita yang baik dengan memberikan unsur konflik di dalam cerita, dsb.

Selesai diskusi, ada satu peserta diskusi yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang komunitas anak yang fokus dengan kegiatan membaca, karena dia ingin mempraktekan ilmunya. Dan dia pun tertarik untuk mengikuti kegiatan di Komunitas Jendela, hemm memang harus seperti itu belajar dengan teori di kampus dan dibarengi dengan praktek di kehidupan nyata, itu baru belajar yang powerful banget =D


The fact that I can plant a seed and it becomes a flower, share a bit of knowledge and it becomes another's, smile at someone and receive a smile in return, are to me continual spiritual exercises ~ Leo Buscaglia


*Tulisan ini didekasikan untuk sobat saya: terimakasih Azzah sudah memberikan kesempatan & dukungan tuk berbagi bersama teman2 PAUD UNY, luv u :-*,

Rabu, 15 Agustus 2012

Beraksi bersama Komunitas Jendela Jember

Jember, 14 Agustus 2012. Yup ini hari spesial buat relawan Jendela Jember, karena ini adalah hari dimana kami beraksi untuk pertama kalinya di Kota Jember. 

Sore itu, kami begitu senang ketika tiba di Alun-Alun Kota. Banyak anak yang bermain bola. Awalnya kami menduga bahwa tidak akan ada anak samasekali, maklum survei dua kali ke Alun-Alun kami hanya melihat satu dua anak yang bermain di sana. 

Setelah menata tempat dan menebarkan buku bacaan seadanya di atas tikar. Saya pun meminta Jendelist untuk mengajak anak-anak yang sedang beraktivitas di Alun-Alun. 
"Ayo rek! Kita ajak anak-anak"
Mereka diam.
"Lho kok gak bergerak mencari anak-anak?" tanya saya
"Hehehe mbak aja dulu. Tunjukin ke kami gimana mengajak anak-anak kecil itu" ujar si Pandhu dan Pieter.
Hadeeh, saya lupa ini aksi pertama kami di Jember. Ya sudah, saya maju duluan. Kemudian, Emas, Pieter, Inna dan Deasy ikut mengajak anak-anak. Awalnya ada 3 anak laki-laki yang akhirnya tertarik, tetapi karena kami tidak segera memulai permainan dan sibuk mencari anak-anak yang lain. Mereka pergi.
Di seberang saya, gadis kecil bersama adiknya melihat ke arah kami. Tampaknya tertarik, saya pun memutuskan meniup balon, melambaikan balon yang sudah jadi kepada mereka. Lalu, mereka pun menghampiri.

"Ya sudahlah daripada tidak ada anak sama sekali. Lebih baik mengajak mereka saja", batin saya.

Nama anak kecil itu adalah Nabila dan si adik bernama Ali. Setelah mendapatkan balon, saya pun memulai aksi saya, membuka buku dan mulai menunjukan isi buku lalu meminta Nabila membaca bersama saya. Dia pun berminat tuk membaca dengan saya. Yup buku cerita saya tentang Na dan Rori itu benar-benar menarik. 

Sementara, saya asyik bercerita dg Nabila dan Ali. Beberapa relawan meniup balon agar menarik perhatian anak-anak. Beberapa yang lain sibuk mengelilingi Alun-Alun dan mengajak anak-anak. Setelah berusaha beberapa kali, akhirnya datang anak kecil lain. Namanya Riris. Awalnya dia bermuka masam ketika diajak, sempat membuat 'shock' (<--berlebihan ya kata ini?) karena penolakannya. Tapi menjadi senang ketika dia akhirnya bersedia ikut. (Anak-anak gitu lho, musti dirayu beberapa kali baru mereka bersedia)

Setelah terkumpul 3 anak, kami pun memutuskan memulai permainan saja, berharap anak lain yang ada di sana melihat dan tertarik bergabung karena permainan kami. Karena hanya ada 3 anak yang ikut, semua relawan (kecuali instruktur permainan) ikut bermain. Sore itu, kami bermain Opposite. Ketika asyik bermain Opposite, ada satu anak laki-laki yang sedari tadi bermain sepeda di sekitar kami, ikutan bergabung. Namanya Gabriel (Mukanya mirip dg Yudha, anak Museum). Setelah Gabriel bergabung, seorang anak laki-laki yang bermain bola di dekat kami juga akhirnya ikutan bergabung, tapi sayang dia hanya bermain sebentar. Selesai bermain Opposite, kami pun memulai permainan Karet Estafet. Lucu sekali melihat anak-anak kecil dan relawan Jendela Jember bermain dengan perbedaan usia mereka yang cukup jauh. 


Selesai bermain, anak-anak yang sudah merasakan senang pun kami ajak membaca buku. Dan mereka pun meluangkan waktunya membaca bersama beberapa relawan. Sore itu, relawan Jendela Jember sudah belajar bagaimana membuat program, walau aksi kami tidak begitu diminati banyak anak (mungkin karena mendadak ya? *alesan). Tapi bagi saya yang terpenting adalah masing-masing relawan Jendela Jember sudah memahami bagaimana cara kerja 'berbagi' ala Komunitas Jendela Jogja. Sore itu juga ada 4 relawan baru yang gabung, tapi satu relawan (cowok) malu-malu kucing tuk gabung, hehehe. Ada juga donasi buku dari Deasy dan Onik (Yeaaah, terimakasih...hamdalah :D ). 

Semoga kami bisa terus ber'aksi' dan membagi pengetahuan terus-menerus di kota kami ini. Bismillah ..... ^_^



Foto oleh Maulana Choriawan
NB: 
Trims ya kerja kerasnya tim program Kadek, Yuni, Emas, Yoga dan Pieter, dokumentasi Wawan, bagian berkicau Ratna, Pak Kordinator Dido, Inna & Deasy yg muter2 sebarin brosur bersama Yuni, relawan baru Vika dan Zaa plus Tum (makasih dah datang dan ikutan isi acara). Good jobs, Jendelist :D

Senin, 23 Juli 2012

Janji Setahun Lalu

20 Juli 2012 akhirnya janji yang sempat tertunda setahun lalu tertunaikan. Ya janji saya untuk mengabari teman-teman kecil perpustakaan Burung Biru Museum Anak Kolong Tangga Jogja akhirnya terwujud.
Ceritanya ni setahun lalu, ada liputan dari SCTV untuk kegiatan di Museum Anak Kolong Tangga Jogja. Siang itu, kami mengajak anak-anak sekitar Sekretariat Yayasan Dunia Damai-Museum Anak Kolong Tangga Jogja untuk bermain di Museum sebagai rewards karena mereka telah mengikuti beberapa program perpustakaan yang diberikan untuk mereka. Alhasil, Panji, Yudha, Nona, dkk yang hadir dan mengikuti workshop Membuat Wayang. Seperti apa hasil liputan siang itu, sila kunjungi link berikut ini: 
Liburan di Museum Anak Kolong Tangga

Suasana workshop Wayang siang itu 

Nah, kelar liputan dan bermain bersama itu, seharusnya setelah mengetahui jadwal publish hasil liputan SCTV itu saya mengabari teman-teman kecil Museum tersebut. Tetapi saya terlambat memberitahukan info tersebut pada teman-teman kecil kami. Maklum saya sendiri tidak sempat melihat hasil liputan SCTV ketika publish ke khalayak umum karena sibuk mengurus usaha kedai jus buah saya di Jember. Ya setahun berlalu dengan memendam perasaan tidak enak selama itu, alhamdulillah, Jumat siang itu saya bersama dengan Primi, teman relawan di Museum akhirnya merealisasikan janji itu. 

Namun, karena amat sangat terlambat, saya mengganti janji menunjukan video hasil liputan SCTV tersebut dengan buku tulis hasil donasi dari teman saya Bonnie C Nova. Bonnie memberikan amanah agar donasi buku tulisnya diberikan pada mereka yang membutuhkan. Nah, karena setahun lalu, saya tidak memiliki momentum yang pas untuk memberikan buku-buku tulis itu, maka sekaranglah saya berikan buku-buku tersebut. Memanfaatkan momentum tahun ajaran baru memberikan buku tulis untuk anak-anak Surokarsan yang notabene hidup sederhana di pinggiran Kali Code.
(Maaf Bonnie amanahmu baru kurealisasikan sekarang, pun untuk donasikan buku-buku tulis itu ke anak-anak Merapi. Tak ingin memberikan buku pada momentum yang biasa saja, tak apakan? Apa aku telah melanggar amanahmu?)

Siang itu, saya dan Primi langsung meluncur ke rumah Panji. Kebetulan dia dan sang ayah sedang asyik nongkrong di pos ronda. Saya sempat lupa dan malah ingat dengan Ipin, kakak Panji. Setelah mengingat, baru deh sadar, hehehe. Saya menjelaskan kedatangan saya dan memintanya untuk mengingat siapa saja yang ikut kegiatan liputan setahun lalu. Dia mencoba mengingatnya dan memanggil Yudha dan Nana. Ada 8 buku tulis berserta alat tulis donasi Bonnie yang saya serahkan dan titipkan ke Panji untuk diberikan pada teman-temannya yang lain. Alhamdulillah akhirnya dua janji terealisasikan :)
Janji setahun lalu akhirnya saya tepati :)
Pengen tahu lebih lanjut tentang Museum Anak Kolong Tangga Jogja, sila follow twitter-nya:
@kolongtangga 

Senin, 16 Juli 2012

Sarasehan Literasi Media Komunitas Rimotevi & Komunitas Jendela di Merapi

8 Juli 2012 menjadi hari yang membuat saya pribadi gugup sekali. Maklum hari itu adalah hari spesial buat saya dan relawan Komunitas Jendela. Hari itu, saya dan relawan Komunitas Jendela mempersiapkan acara diskusi dengan warga shelter Gondang 1 Merapi. Sebuah diskusi yang dedikasikan untuk orang tua anak-anak shelter yang telah aktif mengikuti kegiatan Komunitas Jendela selama hampir setahun ini. Diskusi tersebut diisi oleh teman-teman kami dari Komunitas Rimotevi Yogyakarta dengan tema Televisi, Lawan atau Kawan?

Berhubung saya PJ kegiatan, otomatis saya mondar-mandir ke dua lokasi kegiatan. Kegiatan pertama diskusi Rimotevi dg warga di masjid dan menonton film untuk anak-anak shelter di perpustakaan. Nah siang itu, salah satu relawan Komunitas Jendela, Szasza, yang bertugas dg Rimotevi melakukan livetweet. Seperti apa diskusi saat itu, ini dia tweet kegiatannya:

Yeay! Acara Sarasehan Bersama komunitas Jendela dan @rimotevi di Shelter Gondang 1 sudah dimulai :)
Kak @marismanise menampilkan foto2 keg. Jendela bersama adik2 Shelter Gondang 1 slama setahun ini :) laporan ke orang tua adik2 :D
Setelah kak @marismanise cerita kegiatan Jendela, kakak2 @rimotevi mulai mengajak 'ngobrol' orangtua dr adik2 Shelter Gondang 1

Seru nih! kakak2 @rimotevi lempar wacana > Televisi, teman atau lawan?
Orang tua yg datang, yang kebanyakan ibu2 ini antusias sekali menjawab pertanyaan tadi :)

Teman para anak2, ketika TV menayangkan pengajian. Berita jika beritanya positif. Pangkur Jenggleng krn budaya, dsb

Lawan para anak, ketika TV menayangkan berita kekerasan, sinetron, beberapa kartun yg muatannya tidak layak utk anak, dsb

Kapan biasanya anak nonton TV? Pagi, sore, malam. Padahal idealnya 2 jam/hari, jika lebih dr 4-5 jam akan menunjukan masalah emosi. :o

Selain masalah emosi, anak2 pun jd kurang bergerak/mengalami gangguan motorik. Padahal otak-otot anak2 perlu dilatih agar berkembang.

Dan tidak dapat dielakkan anak2 yg merupakan 'pengcopy' yg baik jadi mudah meniru tayangan2 yg buruk.

Mau tidak mau, TV memang menarik krn tanpa memerlukan pemikiran, siapa saja bisa nonton TV. Beda dg internet, koran, majalah

Karena itu kita perlu LITERASI MEDIA, pengetahuan & kemampuan utk akses,analisis,evaluasi,produksi pesan komunikasi dlm berbagai bentuk

Suasana diskusi bersama Rimotevi. Foto oleh Mentari
Siapa yang untung ketika kita nonton TV? Kita kah? Atau pihak lain?

Cara kerja TV: penonton banyak > rating tinggi > iklan banyak. Nah, siapa yg untung?

Th 2010,berita Merapi di TV yg bbagai macam mnimbulkan kecemasan2 tidak tepat.Artinya kita perlu waspada dg tayangan2 tmasuk berita

Nah, ada 5 pedoman dasar literasi media agar kita kritis thd media, agar tidak 'terjebak' kecemasan/perasaan/sangka yg tidak tepat

1. Tayangan di media adl buatan,sebagian besar direkayasa,bahkan berita pun dibuat sedemikian rupa shg kita terpengaruh&percaya adanya

2. Tayangan TV adl representasi dr realitas yg mengandung nilai2. Kita perlu mengerti bagaimana 'menyaring' nilai2 tsb

3. Ada teknik2 ttentu utk menarik perhatian pemirsa, makanya kita bisa terharu, marah, dsb. Hati-hati terbawa suasana :D

4. Tayangan yg sama dapat bermakna berbeda jika dilihat oleh orang yg berbeda.

5. Media massa btujuan cari UNTUNG. Nah, waspada lah kita agar tidak menguntungkan mereka dan malah merugikan diri 

... dg LITERASI MEDIA diharapkan dapat membatasi dan mengontrol tayangan yg kita konsumsi

Suasana di dalam perpustakaan.
Foto oleh Mentari
Lalu, bagaimana suasana di perpustakaan? Nah ini dia yang bermasalah anak-anak mulai jenuh setelah setengah jam pemutaran film. Maklum tidak ada teks bahasa di film The Nanny and Big Bang yang diputarkan untuk mereka. Jujur, saya lebih fokus mempersiapkan diskusi untuk warganya dibandingkan mendampingi si teman-teman kecil ini. Saya lupa menganalisa kesukaan anak-anak. Ya mereka sangat suka sekali film horror yang ada monster dan hantunya. Dan ketika sudah berada di penghujung waktu, saya menunjukan film Spiderwick ke Mike, Semi, dkk mereka amat penasaran dan meminta saya berjanji agar lain kali mau menonton film tersebut dengan mereka.

Tepat pukul 05.30 acara selesai, setelah shalat magrib berjamaah. Kami pun pamit pulang. Saya dan Jendelist memutuskan makan malam bareng dulu.  Selesai makan, salah satu relawan, Mentari K bercerita, “Ini buat semangat kita semua. Tadi pas selesai acara, aku bilang sama salah satu Ibu: ‘Ibu terimakasih sudah datang ke acara kami hari ini’ . Eh si Ibu malah bilang gini: ‘Justru saya yang berterimakasih mbak. Sejak ikut Jendela anak saya jadi suka baca buku dan rajin belajar. Terus Ibu yang itu, anaknya dapat rangking 3 dan sering pinjam buku di sekolahnya”


Malam itu, saya menitikkan air mata ketika mendengar cerita Mentari. Perjuangan saya dan teman-teman untuk ‘menghidupkan’ perpustakaan shelter selama hampir setahun, mulai dari tak ada anak shelter samasekali, ruangan perpustakaan yang selalu diberantakan dg mainan tanpa disentuh buku-bukunya, masalah relawan yang hanya sedikit berkomitmen, hingga ada beberapa anak shelter yang aktif mengikuti program yang kami tawarkan setiap minggunya, akhirnya membuahkan hasil meski itu hanya terjadi di kehidupan beberapa anak shelter. Tapi bagi saya dan relawan Komunitas Jendela, ini adalah capaian yang luar biasa mengingat kami bekerja hanya bermodalkan niat baik dan semangat untuk berbagi.
Foto bareng setelah penutupan acara. Foto oleh Heri P

Rabu, 04 Juli 2012

Evolusi Nilai Moral Baru Anak melalui Film Dongeng

Sudah nonton film Brave belum? Itu lho film anak baru yang diadaptasi dari dongeng animasi Snow White keluaran Disney tahun 1937. Saya sendiri sebenarnya belum menyempatkan diri untuk menontonnya. Namun, ketika membaca artikel tentang film Brave di VOA Indonesia, saya jadi tergelitik untuk menulis respon atas artikel tersebut plus, tentu saja, saya jadi lebih ingin nonton nich (Untung udah masuk musim liburan ya?)

Artikel VOA tersebut berjudul Tak Ada Lagi Putri Tak Berdaya dalam Film Adaptasi Dongeng Klasik, membahas tentang re-interpretasi nilai moral film Snow White dalam dua versi, yakni Brave dan Snow White and the Huntsman. Putri-putri cantik era klasik itu tidak lagi diceritakan sebagai sosok yang rapuh dan lemah. Mereka menjelma menjadi sosok putri cantik yang kuat dan pemberani sekaligus cerdas. Interpretasi baru tentang karakter tokoh utama ini memberikan nilai baru tentang sosok wanita modern ke dalam imajinasi anak-anak yang menontonnya.
Film merupakan media yang tepat dan cepat untuk menanamkan nilai moral pada diri anak-anak. Mengapa? Hal ini karena film memiliki 3 tujuan sebagai media pembelajaran. Muh. Alfi Fajerin dalam artikelnya Film sebagai Media Pembelajaran menjelaskan tiga tujuan fungsi film berupa  kognitif, psikomotor, dan afektif. Fajerin menjabarkan fungsi film dari segi kognitif, yakni:
1. mengajarkan pengenalan kembali atau pembedaan stimulasi gerak yang relevan, seperti kecepatan obyek yang bergerak, dan sebagainya
2. mengajarkan aturan dan prinsip. Film dapat juga menunjukkan deretan ungkapan verbal, seperti pada gambar diam dan media cetak. Misalnya untuk mengajarkan arti ikhlas, ketabahan, dan sebagainya.
3. memperlihatkan contoh model penampilan, terutama pada situasi yang menunjukkan interaksi manusia.
Sementara pada aspek afektif, Fajerin menjelaskan film dapat mempengaruhi emosi dan sikap seseorang, yakni dengan menggunakan berbagai cara dan efek. Ia merupakan alat yang cocok untuk memperagakan informasi afektif, baik melalui efek optis maupun melalui gambaran visual yang berkaitan.

Menurut saya, evolusi penanaman nilai baru modern ke dalam diri anak-anak di Dunia Modern ini sudah dimulai sejak film Echanted. Enchanted dirilis pada tahun 2007 di Amerika Serikat merupakan film musikal produksi Walt Disney Pictures dan Josephson Entertainment. Film Echanted menceritakan sosok putri cantik, Gisselle di dunia dongeng yang mendadak terlempar ke kehidupan nyata di kota New York. Diceritakan di film tersebut, seorang Ayah Robert Philip  yang tidak menyukai putrinya membaca cerita dongeng klasik Putri Salju, Putri Tidur, dan sebagainya. Ia menyarankan sang anak untuk lebih membaca buku-buku kisah biografi tokoh-tokoh sejarah. Harapannya satu agar si anak mulai melihat dunia sebagai realitas yang sebenarnya daripada hidup dengan imajinasi kehidupan dongeng. Itu salah satu adegan yang ditampilkan di Echanted.

Adegan lain yang menarik adalah ketika Gisselle meminta bantuan pada kakek pengemis di sudut kota dengan pikiran lugu dan polosnya tentang kakek baik hati ala dunia dongeng namun berakhir dengan dirampoknya kalung miliknya oleh si kakek, seakan menggambarkan betapa dunia dongeng dan dunia nyata jauh berbeda. Beberapa adegan memang sengaja dibuat dan dikemas untuk menyadarkan penonton akan poin perbedaan dunia nyata dan dunia dongeng tersebut. Penonton diajak untuk mendekontruksi nilai dan pemahaman mereka tentang sosok putri dan gadis baik hati yang lugu dan polos. Sosok putri klasik yang lemah dan tidak berdaya. Anak-anak yang menonton ini memang dibawa pada suatu nilai baru akan sosok putri modern yang positif, kuat dan tahu apa yang diinginkan untuk dirinya sendiri, bukan lagi sosok putri yang menunggu datangnya keajaiban.

Sumber Foto: Wikipedia.com dan 21Cineplex.com

Kembali pada film Brave dan Snow White and the Huntsman, kedua film ini menjadi film adaptasi dongeng klasik terbaru yang menjadi elemen lanjutan evolusi nilai moral baru tentang sosok putri cantik pada anak-anak. Suatu nilai tentang sosok wanita yang ideal dalam dunia modern dimana tujuan dari aspek kognitif dari suatu film lebih ditonjolkan. Putri-putri klasik yang menjelma dengan karakter baru di dalam film adaptasi dongeng klasik ini tampil sebagai contoh baru anak-anak dunia modern. 

Referensi:
Muh. Alfi Fajerin. Film Sebagai Media Pembelajaran, diakses melalui http://griyadownload.blogspot.com/2012/01/film-sebagai-media-pembelajaran.html

Senin, 02 Juli 2012

My Dreams, Belajar & Bermain Kata dalam Bahasa Inggris

Mike, Saya & Fika (Gbr kiri). Si Mike (Gbr kanan)
30 Juni 2012. Saya kembali aktif di kegiatan jaga perpustakaan Komunitas Jendela Yogyakarta. Tema jaga perpustakaan siang itu adalah My Dream. Hari kamis, kami sudah melakukan briefing sebelum naik ke Atas. Puput sebagai PJ jaga perpus shelter Sabtu kemaren telah merancang program hari itu.

Siang hari, saya tiba di shelter pukul 01.05 wib bersama Zulfa, kemudian Bayu, Puput, Shela dan Tya plus adiknya. Shela, Puput, dan Tya memanggil dan menjemput beberapa anak shelter. Saya, Bayu dan Zulfa menyiapkan tempat di ruang kosong depan perpustakaan. Tya tiba dengan menggendong anak shelter yang belum saya kenal. Setelah berkumpul beberapa anak, kami pun memulai kegiatan.
Tya memulai dengan menjelaskan dan mengingatkan tentang tema belajar bahasa Inggris seminggu sebelumnya. Tika, Mike dan beberapa anak menjawab dengan menyebutkan beberapa profesi
 "Dokter"
"Guru"
"Bahasa inggrisnya?' tanya Tya sembari menulis jawaban mereka.
Tika dan Mike terlihat berhati-hati menjawab.
"Ya benar. Doctor, Teacher"
"Ejaannya?" tanya Tya lagi.
Mereka pun mengeja dengan campuran ejaan ala Indonesia dan bahasa Inggris.
Shela dan Puput membantu untuk membenarkan ejaan mereka yang bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Setelah menyebut beberapa pekerjaan yang lain dan mengambil gambar beberapa profesi, anak-anak mulai terlihat tidak tertarik. "Nah itu tadi kan nama cita-cita pekerjaan yang kalian senangi. Sekarang, kita akan memilih peralatan dan perlengkapan dari masing-masing pekerjaan tadi. Ini ada gambar peralatan dari masing-masing pekerjaan. Contohnya ni Guru. Bapak dan Ibu Guru butuh peralatan apa hayo?"
"Pensil"
"Papan Tulis"
"Terus apalagi?" tanya Shela lagi. Mereka terdiam, bingung.
Saya pun meminta Shela untuk menganti taktik, meminta anak-anak untuk berlomba mengambil gambar kartu profesi. Shela mengumpulkan semua gambar profesi.
"OK sekarang, mbak minta kalian mencari peralatan dan perlengkapan dari pekerjaan yang kalian inginkan. Kakak tanya dulu, Tika ingin jadi apa? Semi? Mike? Diah? Didik?"
"Guru"
"Dokter"
"Guru"
"Guru"
'Tentara"
"Baik, sekarang mbak akan menebarkan masing-masing perlengkapan profesi. Kalian mbak beri waktu 10 detik untuk mengambil gambar peralatan sesuai dengan profesi kalian. Mbak Puput tolong dihitung ya waktunya" ujar Shela, tampak wajah anak-anak antusias. Mereka bersiap untuk berebut. Shela menebarkan gambar-gambar di hadapan mereka, ketika ia berucap "Mulai"
Anak-anak pun teriak dan berebut satu sama lain. Semi yang berada di belakang dan tak bisa berebut, mendadak malas dan ngambek. "Ah emoh ah", ia berdiri dan pergi.
"Lho kok pergi?" tanya saya.
"Eh Semi Semi...ini gambar buat Dokter" ujar Diah menyerahkan gambar sarung tangan kedokteran.
"Ini juga" ujar Mike menyerahkan alat pengukur tekanan darah.
"Semi semi ini lho dibantu teman-temannya" ujar saya
Semi hanya cemberut di pojokan.
"Ini lho kamu dibantu teman-temannya nyari gambar buat Bu Dokter Semi...dihargai dong bantuan mereka" jelas saya. Semi pun tersenyum dan kembali bergabung. "Ini juga Semi" Arum menyerahkan gambar suntikan.
"Emoh aku yang ini" tolak Semi
"Itu kan suntikan dipakai Dokter juga" jelas saya
"Wedi aku mbak" ujarnya
"Ya gpp, ambil aja. Kan Arum udah bantu nyariin buat kamu" jelas saya. Ia pun mengambil gambar yang diserahkan Arum.

"Jadi udah pada dapat semua kan? Sekarang, tolong sebutkan perlengkapan itu dalam bahasa Inggris. Kita mulai dari Erna" pinta Tya.
Setelah mendengar itu, Semi dan Diah beranjak pergi. Mereka tampak takut. Saya pun menghampiri "Lho lho kok pergi toh ya? Pada takut ya? Haduuuuuuuuuuuuh, ini lho bukan dikelas. Gakkan ada hukuman. Nanti juga dibantu kok sama mbak mas-nya. Ayo gabung lagi. Kita kan belajar bareng ni"
Mereka pun menurut dan kembali bergabung.

Siang itu, selesai belajar dan bermain bareng. Semi menceritakan bahwa esok hari, Minggu 1 Juli 2012, si Mike akan tampil untuk PILDACIL mewakili Kaliadem.
"Oh ya benarkah? Jam berapa?" tanya saya
"Jam 8 mbak"
"Wah kalau gitu. Ayo Mike coba latihan sekarang...di depan mbak dan mas" pinta saya.
Mike tampak malu. Tapi setelah diyakinkan, Mike pun berlatih di depan kami. Setelah berlatih, kami, Jendelist, bermain sejenak lalu ketika adzan Ashar terdengar. Saya pamit untuk shalat dulu, menarik Bayu dan yang lainnya. Ternyata anak-anak shelter mengikuti kami. Semi, Mike dan Didik pun ikut shalat bersama kami.

Jaga perpustakaan Komunitas Jendela siang itu benar-benar terasa bermakna sekali. Entahlah kami, Jendelist, telah memberikan pengaruh seberapa besar ke dalam kehidupan anak-anak Shelter Gondang 1 Merapi. Memang tidak banyak anak yang mampu kami jangkau, hanya Semi, Diah, Mike, Fika, Arum, dan Didik yang tiap akhir pekan selama setahun ini, kami relawan telah berinteraksi secara intens. Semoga ini tidak sia-sia...amiiin3x.

Minggu, 01 Juli 2012

Kontroversi Tor-Tor, Harus Lebih Produktif & Peduli Budaya Indonesia Demi Untuk Anak-Anak Indonesia

Entah untuk yang berapa kalinya, pemerintahan kita seperti kebakaran jenggot jika ada kasus pengklaiman warisan budaya Indonesia oleh negara lain. Tapi entah berapa kali pula, usaha nyata tidak kunjung terlihat. Kasus terakhir adalah rencana pengklaiman tari Tor Tor dan alat musik Gordang Sambilan asal Mandailing, Sumatera Utara sebagai warisan nasional oleh Malaysia.

Saya jadi teringat dengan pernyataan Kepala Kajian dan Penelitian Budaya Melayu dari Universitas Negeri Yogyakarta, Mahyudin Al Mudra pada artikel berita di VOA Indonesia yang berjudul Indonesia akan Daftarkan Tari Tor Tor ke UNESCO dimuat pada tanggal 20 Juni 2012. Beliau berpendapat Isu klaim budaya Indonesia oleh Malaysia harus disikapi secara lebih produktif, tidak cuma sekedar respon reaktif berupa kecaman. Saya sangat setuju dengan pendapat Beliau. Sikap produktif seperti apa yang bisa dilakukan? Ya, tentu saja, lebih mengenalkan budaya bangsa sendiri pada masyarakat Indonesia. Apa saja itu? Banyak ragam dan cara. Salah satunya mengenalkan budaya melalui kurikulim Pendidikan Pusaka.
Indonesia sendiri memiliki beragam budaya yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Ada sekitar 350 suku bangsa di negeri ini. Budaya yang dimaksud di sini tidak hanya kekayaan kesenian tradisional tetapi juga termasuk pengetahuan, kepercayaan, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat (Edward Burnett Tylor). Oleh karena itu, Koentjaraningrat merumuskan tujuh unsur kebudayaan, yakni: 1) Sistem mata pencaharian hidup, 2) Ilmu pengetahuan atau teknologi, 3) Bahasa, 4) Sistem kepercayaan atau Religi, 5) Sistem organisasi sosial, 6) Kesenian, dan 7) Peralatan dan perlengkapan hidup manusia. Tapi dari 7 unsur kebudayaan tersebut, hanya tiga elemen yang sering dibahas dan dikenalkan pada anak-anak, yakni: kesenian, sistem mata pencaharian hidup, dan sistem kepercayaan atau religi. Coba lihat kurikulum yang ditawarkan di sekolah. Buku-buku yang membahas dengan dalam tentang masing-masing unsur kebudayaan dari suatu suku bangsa Indonesia tidak banyak. Kita hanya menemui gambar baju adat dan rumah adat di Atlas dan RPUL yang tidak banyak dibuka ketika di kelas. Penjelasan tentang baju dan rumah adat itu pun terbatas hanya pada nama, tidak pada bentuk dan info tentang fungsi dari bagian-bagiannya.

Gambar kartun   dengan pakaian adat Jawa kreasi saya.2009 

Pada tahun 2009 yang lalu, BPPI Yogyakarta mengembangkan kurikulum baru untuk sekolah yakni Pendidikan Pusaka. Saya pribadi sangat tertarik sekali dengan gagasan tentang pusaka budaya. Hal-hal yang dibahas dalam pusaka budaya (dikutip dari pendidikanpusaka.org) adalah 
1. Pusaka keluarga
2. Bangunan tua di sekitar tempat tinggal
3. Bangunan dan monumen bersejarah
4. Kawasan permukiman/perkampungan tradisional
5. Situs prasejarah
6. Peralatan hidup
7. Pusaka industri (contoh: pabrik, jalur kereta api, mesin transportasi)
8. Tradisi lisan, 
9. Tradisi tulis, literatur, dan kearsipan, 
10. Permainan tradisional, 
11. Pertunjukan boneka tradisional, wayang,
12. Tarian, 
13. Musik
14.Olah raga, ketangkasan, dan bela diri
15. Kerajinan tangan dan seni rupa
16. Perdapuran/kulinari
17. Pengobatan tradisional
18. Adat istiadat/tata perilaku


Program pendidikan pusaka ini sendiri telah diujicobakan 13 sekolah dasar (SD) di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Beberapa buku pendidikan pusaka budaya yang telah diterbitkan periode 2010 adalah 
1. Aku Dapat Menganyam, 
2. Apotek Hidup, 
3. Ayo Belajar Membatik, 
4. Belalang, Makanan Khas dari Wonosari, 
5. Bakpia, Kelezatan dari Yogya, 
6. Dhakon, 
7. Geplak, 
8. Gobag Sodor, 
9. Gumbregan, 
10. Jelajah ke Bukit Turgo,
11. Jumputan (Seni Celup Ikat), 
12. Kipo, Makanan Tradisional Gunungkidul, 
13. Panatacara, 
14. Sejarah Masjid Syuhada, 
15. Sejarah SD Ungaran, 
16. Selokan Mataram, 
17. Tamansiswa, 
18. Tari Kraton Putri, 
19. Tempe, Thiwul, Makanan Kesukaanku.


Format bukunya dikemas menarik dengan gambar, seperti komik. Namun, gaung kegiatan dan program ini tidak lagi terdengar. Program ini pun baru sebatas membahas tentang pusaka budaya D.I. Yogyakarta dan Jawa, belum meluas pada pusaka daerah lain yang memang kurang dijamah. Hal yang sama terjadi pada kreativitas pada gambar kartun sebagai souvenir kaos, gantungan kunci atau pernak-pernik lucu aksesoris, tokoh kartun Jawa/Bali dengan baju adat Jawa/Bali lebih banyak dicipta dibandingkan daerah lain.

Lalu, saya sendiri apa yang saya lakukan? Saya sendiri hanya lakukan sedikit usaha. Saya hanya menulis surat untuk anak didik teman-teman saya yang pernah dan masih jadi Pengajar Muda di beberapa daerah di pelosok Indonesia. Surat tersebut berisi penjelasan tentang pusaka budaya Bugis, Bali dan Toraja. Saya pun hanya iseng membuat gambar-gambar kartun Jawa dan rumah adat Tongkonan Toraja untuk mempermanis surat tersebut. Usaha lain saya hanyalah bercerita kecil ke anak-anak SD tentang pusaka budaya Bugis, Bali dan Toraja tadi sewaktu KKN 2008 lalu, dan pada anak-anak Merapi di Shelter Gondang 1 (teman-teman kecil perpustakaan yang didirikan mandiri oleh anak muda Jogja melalui Komunitas Jendela), Cangkringan Jogja. Selain itu, saya hanya menggambar kartun-kartun lucu orang Jawa, Padang dan Batak bersama seorang teman waktu kuliah di Antropologi, tapi sayang kami tidak mempublikasikannya.

So, yuk teman-teman Antropologi dan Arkeologi kita lebih produktif. Kita bisa tu bekerjasama dengan teman-teman dari Arsitektur, Teknik Sipil, Sastra Nusantara, Sejarah, dll multidisplin gitu tuk membuat karya pendidikan pusaka untuk anak-anak Indonesia. Kita bisa tu menciptakan game adventure yang mengajak anak-anak mempersiapkan ritual adat suatu suku bangsa. Atau, yuk kita membuat buku dengan gambar-gambar lucu yang menjelaskan pusaka budaya suku bangsa di Indonesia seperti yang telah kita peroleh ilmunya di bangku kuliah.

Atau tuk teman-teman wirausahawan/i, ayuk buat desain kaos (contoh kaos buatan Dagadu, OleOlang), pin, gantungan kunci, souvenir lucu atau produk-produk kreatif lainnya yang mengangkat tema pusaka budaya masing-masing suku bangsa di Indonesia. Ada 350 etnik lho, potensi yang besar kan? Profit didapat, pelestarian dan pengenalan budaya pada masyarakat luas juga diperoleh.

Respon anak-anak pelosok membaca surat 'pusaka budaya' buatan saya .
Foto oleh Matilda N (Saumlaki) dan Ester D (Halmahera) 

Referensi: 

Rabu, 27 Juni 2012

Berlibur dan Tetap Berbagi bersama Anak-Anak Karimun Jawa

Sejak tanggal 23 Juni 2012 lalu saya sudah ada di Karimun Jawa. Ya, saya dan teman-teman kuliah mencari hiburan dan menikmati waktu libur yang telah tiba, setelah dua minggu lamanya kami ujian akhir. Dan di sinilah kami berada Karimun Jawa, sebuah pulau yang berada di utara pulau Jawa.
Namun, saya tak ingin perjalanan ini sia-sia dan hanya mendapatkan kesenangan pribadi saja. So, apa salahnya jika saya tetap bermanfaat dan terus berbagi? Alhasil, saya pun meminta izin pada Kordinator Komunitas Jendela dan tim manajemen Jogja untuk mendonasikan buku donatur ke anak-anak Karimun Jawa. Alhamdulillah di-ACC. Saya pun membawa 5 buku dari donatur mbak Anna dkk (Arisan Joy Club Magelang) plus dua paket buku tulis dari donatur Bonnie C. Nova, teman SD waktu di Pontianak, Kalimantan Barat.
Hari pertama, saya mendapatkan info dimana letak perpustakaan yg dimiliki masyarakat Karimun sekaligus jam operasionalnya. 


Pagi hari ke dua di Karimun, saya melihat 3 anak perempuan sedang asyik cuci baju di halaman depan penginapan. Saya hampiri mereka dan menanyakan tentang perpustakaan.
“Eh kalian tau gak perpustakaan di mana?”
“Perpustakaan mbak?”
“Iya taman bacaan”
“Oh ada di sana” menunjuk ke arah yg saya sudah tau kemana akan ia tunjuk.
“Kalian pernah gak ke perpustakaan?” tanya saya
“Enggak mbak" 
"Lho kenapa? Gak suka baca buku?" tanya saya heran
“Bayar 500 kalau baca” ujar anak yang lain
“Hah? Bayar?” saya takjub. Gile ya hari gini musti bayar? Saya pun terdiam, bingung antara donasikan buku atau tidak karena konsepnya beda dengan perpustakaan Komunitas Jendela
“Hemm, baiklah. Ini mbak bawa 5 buku cerita, kalian mau gak membacanya?” tanya saya
Mereka melirik ke arah buku yg saya bawa, terlihat mata mereka berbinar. “Nah, karena mbak Marisa pagi ini mau pergi ke Pulau Gosong. Buku ini kalian baca aja dulu, nanti jam5 sore mbak pulang, kalian kembalikan ya?”

Mereka mengangguk. Sembari menanti teman-teman yang lain, saya tetap duduk di dekat anak-anak itu dan berkenalan. Mereka bertiga adalah Anis, Vina dan Fira.
“Wah bukunya bagus-bagus ya mbak?” ujar Vina yang kelar membilas bajunya. “Iya, tapi kalau membaca selesaikan dulu tugas mencuci kalian” pinta saya. Dia pun mematuhi.



Mereka begitu bersemangat membaca buku-buku dari donatur Komunita Jendela.
Foto oleh Jon Polmer
Pagi itu, saya titipkan 5 buku pada mereka agar mereka baca sebelum saya donasikan. Mereka tampak sekali antusias membacanya. Kelar nyuci Anis, Vina dan Fira membaca bersama buku itu.

Malam hari, sehabis magrib, saya mencari Anis, Vina dan Fira ke rumah mereka. “Eh ayuk ke penginapan mbak Marisa dulu ajak saya”
Tiba di penginapan, “Ini mbak ada buku tulis  buat kalian yang membaca buku hari ini. Tapi sebelum itu, ceritakan dulu apa isi buku yang kalian baca” ujar saya pada mereka.
Fira mulai menceritakan tentang buku Raja Perut Lapar, meski dia hanya menceritakan sebagian cerita. Setelah mendapat buku, mereka langsung pulang membagikan buku pada dua anak lainnya yg tidak datang. Lalu, beberapa menit kemudian mereka kembali
“Mbak Marisa Mbak Marisa, kami boleh baca bukunya lagi gak?” tanya Vina
“Oh tentu saja boleh, sini! Kita baca bareng yuk”
Malam itu saya baca buku Tokotok Tokotok Capeeeeeeeek bareng Vina dan Fira. Selesai membaca itu, ‘Mbak Marisa, baca buku ini lagi ya?” pinta Fira. “Baiklah, tapi kita pindah yuk” saya ajak mereka baca buku bareng di lantai. Dan alhasil, malam itu saya berhasil menarik 3 anak laki-laki Karimun yang juga penasaran dengan isi dari cerita buku Raja Perut Lapar.
5 buku cerita dan 1 paket buku tulis untuk anak-anak Karimun Jawa
Foto oleh saya & Raditya Marta 

Kelar membaca, saya pun menyelesaikan amanah dari teman-teman relawan Komunitas Jendela Jogja. Saya meluncur ke perpustakaan Karimun Jawa dan mendonasikan buku-buku tersebut pada Bapak Undori sebagai salah satu pengelola. 

Senin, 26 Maret 2012

Pilih Jadi Tae Ho atau Pilih Jadi Diri Sendiri?

Minggu, 25 Maret 2012.
Jujur jaga perpustakaan siang ini kurang persiapan, maklum ide nonton film Tae Ho baru muncul Sabtu sore, hehe. Tiba di Shelter, ternyata perpustakaan masih tutup. Teman-teman kecil kami tidak ada.


"Wah, apa kami terlambat? Anak2 sudah pergi tampil Jathilan kah?" batin saya.
Beberapa Jendelist juga belum tampak. Saya dan adik pun, Dian (adik sahabat dari Kalimantan), menunggu di Balai Dusun. Langit cerah pagi itu. Sembari menunggu waktu, Dian pamit main ayunan, saya pun tenggelam dalam lamunan 'Tuhan sudah setahun sejak hari dimana sy tiba di Shelter ini. Waktu cepat berlalu ya? Tak menyangka Komunitas Jendela tetap bertahan dan sudah ada 10 anak yang aktif dan rutin maen tiap minggunya ke perpustakaan shelter. Perjuangan memang harus seperti itu, naik turun dan diri kita tetap diharuskan pantang menyerah tuk gapai mimpi itu"


Dari kejauhan tampak sepeda motor Wawan, salah satu Jendelist. Saya pun memanggil Dian dan mengajaknya tuk segera ke perpustakaan shelter.
Setelah pintu dibuka, wah berantakan sekali dan penuh debu. Kami pun berinisiatif tuk membersihkan dan memperbaiki listrik perpustakaan karena kami menduga anak-anak tidak akan ke perpustakaan. Selesai membersihkan, saya pun meminta semua Jendelist kumpul dan nonton film tentang Tae Ho (sebenarnya itu bukan film, tapi dokumentasi tentang Tae Ho). Saya mencoba ajak diskusi Jendelist, kira-kira setelah nonton Tae Ho, anak-anak kita minta melakukan apa? Ide awal saya sich hanya ingin menanamkan rasa syukur pada anak-anak Shelter tuk semua hal yang mereka miliki, hanya saja bingung seperti apa formatnya.


Asyik diskusi, mendadak beberapa anak Shelter datang.
"Lho kalian gak nonton Jathilan?" tanya Wawan. "Kita gak nonton kok, mas", jawab Semi dan Puput.
Baiklah, meski hanya ada sebagian anak-anak dan kami sudah telanjur di sana, bukankah lebih baik rencana tetap dijalankan?


Ada Semi, Puput, Tifa, Fahri, dan Titik. "Ayo duduk semua. Pagi ini, kita akan nonton tentang teman kita dari Korea" jelas saya
"Kalian tau gak Korea dimana?"
"Engggggggaaaak" jawab mereka polos
"Lho mana ni petanya? Gak ada ya Mu?" tanya saya ketika melihat sekeliling ruangan dan tak menjumpai satu peta besar sumbangan saya, pada Heri (Jendelist yang sering saya panggil Mujianti, hehe)


"Hemm, petanya gak ada. Kalian ingat gak Jepang yang waktu itu lho, nah Korea itu tetangganya Jepang. Baiklah, kiita mulai aja nontonnya. Nanti setelah nonton, mbak Marisa pengen kalian menulis tentang diri kalian" ujar saya.


"Nulis apa mbak?" tanya Semi
"Tentang rasa syukur. Hemm, maksud mbak, kalian pernah kan gak bersyukur? Gak bersyukur itu seperti ini, 'Wah kenapa ya saya gak cantik", "Kok saya gak pintar' 'Kok begini' 'Kok begitu'. Jadi, kita mulai nonton yuk!"ajak saya.


Setengah jam, suasana di perpustakaan hanya terdengar celotehan beberapa anak yang kaget melihat kondisi Tae Ho. "Lho kok iso yo?" tanya Semi heran dengan kondisi Tae Ho, walau tak memiliki tangan namun dapat melakukan semua sendiri.


Kelar nonton, kertas-kertas dibagikan. Lalu anak-anak pun menulis dan bertebaran di ruang perpustakaan tuk cari ruang menulis sendiri. Selesai menulis, saya minta mereka semua kumpul lagi. Dan meminta mereka bercerita, "Hari ini, mbak punya 3 bintang. Yang pengen dapat bintang, mbak Marisa minta menceritakan isi tulisannya tadi ke teman-temanya. Ayo siapa yang berani"
Mereka tampak kaget dan gak berani. Lalu, Puput berinisiatif cerita karena tergiur dengan reward bintangnya, maklum yg dapat bintang terbanyak bakal dapat kesempatan piknik, hehe.
"Aku gak bersyukur karena aku malas belajar mbak" jelasnya
"Kamu kenapa kok malas belajar?", tanya saya
"Kalo di sekolah itu kan capek mbak. Berangkat ke sekolah, olahraga" jelasnya polos
"Emang kamu gak suka pelajaran apa sich?"
"PKN ama matematika mbak"
"Hemm, baiklah itu aja pertanyaan mbak Marisa. Ayo tepuk tangan tuk Puput! Mas Wawan, minta bintangnya ya" pinta saya pada Wawan
Setelah itu bergiliran Titik bercerita tentang rasa tak bersyukurnya yg tak memiliki komputer dan Tifa yang selalu diejek temannya.


"Lho, Tik. Kamu kok gak bersyukur gak punya komputer. Itu HP kan komputer juga. Kalian tau gak sich, kalo HP itu perpaduan antara komputer dan telepon biasa" jelas saya.
"Udah pada tau gak telepon biasa jaman dulu kayak apa?' tanya saya dan mereka bingung
"Yo wis, mbak Marisa carikan bukunya dulu, biar kalian tahu"
Setelah mendapatkan bukunya, Semi dan Tifa pun mengelilingi saya. "Ini lho Semi, Tifa telepon biasa itu"
Kemudian Titik ikutan nimbrung, "Nah jadi Titik, tidak tepat kamu kalo tidak bersyukur gak punya komputer"
Mendadak terlintas sesuatu di kepala saya, "Oh iya, sekarang mbak Marisa tanya: Pilih mana gak punya komputer, diejek teman, gak punya duit atau jadi kayak Tae Ho, punya komputer, uang dan semua-semuanya tapi gak punya ke dua tangan?"
"Wah bingung mbak" jawab Semi
Sunyi sejenak, wajah mereka tampak berpikir dan mulai mempertanyakan diri sendiri.
"Ayo Tifa pilih apa? Semi? Titik?"
"Tapi susah je mbak gak punya duit", jawab Semi polos
"Tapi kamu masih punya tangan dan kaki lengkap, masih bisa belajar dan bergerak dengan semuanya kan? Gak kayak Tae Ho terbatas geraknya?" jawab saya
"Iya benar juga, yo wis mbak aku milih ndak punya apa-apa"
"Kamu Titik? Pilih komputer apa jadi kayak Tae Ho?"
"Aku pilih gak punya komputer mbak" jawabnya setelah sempat bingung tadi
"Nah, gitu bersyukurlah tuk semua yang kalian miliki. Tae Ho yang gak punya tangan aja masih semangat tuk belajar dan berkerja keras. Kalian juga, musti lebih rajin belajar ya" pinta saya.


"Hemm, ayo sudah mbak Marisa jelaskan tentang buku ini. Sekarang saatnya baca buku sendiri-sendiri" pinta saya lagi
Mereka langsung bergerak dan berebutan ambil buku. Sumpah, walau tahu mereka telah berantusias dengan buku dari cerita Jendelist dan mengetahui sendiri, tetap saja saya terkaget dengan respon mereka yang cepat dan berantusias ketika diminta membaca buku. Barakallah, teman-teman kecilku :D




Cekidot cerita lain versi Jendelist di -->  bit.ly/H59aQZ

Senin, 27 Februari 2012

Jendelist, Anak-Anak Merapi dan ID Cerita Jogja

26 Februari 2012. Saya bersama relawan Komunitas Jendela kembali ke Atas. Kali ini, program jaga perpustakaannya bekerjasama dengan ID Cerita Yogyakarta. Ada tiga relawan dari IDCerita, dan ternyata salah satu relawannya teman dekat saya, Niam (Dunia selalu terasa sempit jika semua hal terkait Jogja :p).
Tiba di shelter, teman-teman kecil kami sudah menanti bersama Jendelist lain, Ridwan dan Bayu, yang sudah tiba terlebih dahulu. Gadis kecil dg baju batik yang dikenakannya langsung meraih tangan saya ketika saya duduk di antara mereka. "Nama kamu siapa? mbak Marisa belum berkenalan ni"
"Rika" ujarnya sembari tetap memegang erat tangan saya. Cukup aneh juga dengan reaksinya yang langsung merangkul tangan saya.




"Mbak Marisa..Mbak Marisa, nanti kita baca buku lagi kan?" tanya Diah. Langsung ditodong seperti itu, antara kaget dan bersyukur berarti beberapa teman kecil kami sudah mulai menyukai aktivitas yang kami lakukan di Shelter sejak November tahun lalu itu. Alhamdulillah. "Iya nanti, setelah kita mendengarkan cerita dari mas dan mbak ID Cerita" jawab saya. Tak ingin lagi merusak program yang sudah dirancang Yanti, Wawan dan Ridwan sebagai Jendelist Program Komunitas Jendela Jogja.
"Ya ya...kalo gitu kita pindah ke Balai Dusun aja mbak, jangan di sini" ajaknya. Kami pun pindah melakukan aktivitas Story Telling ID Cerita di Balai Dusun.


Siang itu, Niam sudah menyiapkan cerita yang berisi motivasi tuk senang membaca dan berani bermimpi.
"Sebelum mas cerita, mas mau tanya ni. Apa kalian punya idola? Ayo sebutkan idola kalian?" tanya Niam
"Wah sopo yo mas?" jawab Diah yang ada di samping saya
"Itu mas Arif bukan idola kalian po?" tanya saya
"Bukan mbak, mas Arif itu sahabat kami" jawabnya.
"Cherry Belle" celetuk Ridwan. Mereka pun menanggapinya dengan sorakan.
Setelah mendapatkan jawaban, Niam pun memulai ceritanya.


"Baiklah sekarang saya akan membawa adik-adik memasuki dunia dalam buku si Albert. Apa kalian ingin masuk ke dunia itu juga?" tanya Niam di tengah cerita.
"Emoh ora gelem" ujar Diah
Niam tetap melanjutkan ceritanya, dia paham benar hadapin teman-teman kecil kami ini. Meski beberapa kali terlihat anak-anak Merapi ini pecah fokus karena aktivitas yang terjadi di sekitar Balai Dusun. Niam selalu bisa membuat mereka kembali mendengarkan ceritanya.
"Yang mas ceritain tadi itu, beneran lho. Si Albert itu beneran pernah hidup di dunia. Kalian pengen tahu gak?" tanya Niam dengan mengambil secarik kertas dengan gambar seseorang.
"Nah tadi mas ceritakan seperti apa si Albert itu kan? Ayo sebutkan si Albert kayak apa?"
"Acak-acakan, jelek, gak suka senyum", jawab beberapa anak antusias.
"Iya benar. Nah ini dia si Albert" ujar Niam menunjukan gambar si Albert Einstein.
"Wah aku ngerti, pernah liat si Albert di buku" ujar Jannah seketika setelah melihat wajah si Einstein.
"Benarkah? buku apa?" tanya Niam
"Itu lho mas buku BODOH. Sik aku ambilkan", Jannah pun bergegas ke rumahnya dan mengambil buku. Dan ternyata buku BODOH yang dia maksud adalah buku PINTAR. Teman-teman kecil kami pun berebutan ingin melihat wajah si Albert di dalam buku.






"Mbak, kalau udah selesai kita jalan-jalan yuk!" ajak Diah dan Arum
"Jalan-jalan kemana?" tanya saya
"Itu ke sana, beda dengan yang kemaren kok mas Ridwan" jelas si Arum pada Ridwan yang gak mau jalan-jalan kalau tujuannya sama kayak sebelumnya.
"Baiklah kita jalan-jalan. Tapi izin dulu yuk!" pinta saya. Ridwan pun meminta izin ke Sekre Kaliadem.
Siang itu setelah mendengarkan ID Cerita Jogja, kami pun menjelajah area sekitar shelter. Mereka mengajak ke Batu Kura-Kura, tapi karena jalannya terlalu sulit dan ada Vika dan Rahmat yang kecil, kami hanya menjelajah sampai ke area aliran sungai yang telah mati lalu kembali.


Kembali ke Shelter, kami ishoma dulu. Setelah itu, kembali ke Balai Anak (sebutan tuk perpustakaan). Beberapa anak mengambil buku, saya pun mengambil buku Ensiklopedia Jendela IPTEK yang diminta Diah bacakan. "Bukan yang ini udah kita baca mbak. Kalo yang ini belum" jelasnya ketika melihat isi buku.
Kami pun mulai membaca bersama lagi. Semi yang dulu tak berantusias pun, ikut bergabung dan berebut tempat duduk di samping saya dengan Arum.
"Sik aku juga mau ambil buku ah", ujar Arum. Dan si Semi pun merebut tempat duduk Arum dan duduk di samping saya. Asyik menjelaskan isi buku dan membaca bersama Diah dan Semi. Vika, 4 thn, berceletuk "Aku juga mau ambil buku"
Gadis mungil itu masuk ke perpustakaan dan mengambil 2 majalah Bobo, lalu kembali duduk depan saya, Diah dan Semi. Dia pun mengikuti cara kakak-kakaknya, bertanya tentang isi buku:


"Mbak ini apa?" 


Siang itu benar-benar berkesan bagi saya. Diah, Arum, Tifa dan sekarang Semi plus Vika udah mulai 'jatuh cinta' dengan buku. Semoga pengalaman berbagi yang tak begitu intens ini membekas di hati mereka.

Today a reader, tomorrow a leader.

Margaret Fuller