Sabtu, 23 Juli 2011

Mempersempit Mimpi untuk Anak-Anak

Hari ini Hari Anak Nasional di Indonesia.
Saya tidak merayakannya malah mengevaluasi diri sendiri. Ya saya memutuskan untuk mempersempit impian saya untuk anak-anak. Apa pula yg saya maksud dengan mempersempit itu? Dan kenapa malah memutuskan hal ini?

Baiklah saya jawab pertanyaan pertama. Mempersempit impian untuk anak-anak maksudnya saya melepaskan semua keanggotaan relawan saya pada dua komunitas anak yang telah saya ikuti selama tiga tahun ini. Pertama, saya sebagai relawan Museum Anak Kolong Tangga Jogja. Kedua, relawan Komunitas Jendela yang memiliki tagline We are not just building Library. We are building Future.

Apa kabar kalian, teman kecilku di Bangka?

Memang keputusan ini bukanlah keputusan yang mudah mengingat keputusan saya berbuat untuk anak-anak telah terbentuk sejak saya kuliah S1 di Antropologi UGM. Keputusan yang bermula dari pemikiran saya bahwa negeri ini akan menuju ke arah yang lebih baik jika banyak orang lebih peduli pada anak-anak, mendidik dan membentuk karakter mereka. Pembentukan karakter yang dapat saya lakukan dengan membuat sebuah karya berupa buku yang berisi pengenalan pada budaya suku-suku bangsa Indonesia (ini sesuai sekali dengan latarbelakang pendidikan S1 saya^^v), meski proses pembuatan buku ini belum terwujud juga (saya lebih banyak cerita ttg suku-suku tersebut pada anak-anak yang saya temui). Mendidik anak-anak dengan tidak hanya membacakan buku cerita dan membagi pengetahuan yang saya ketahui pada anak-anak di sekitar saya, tetapi juga bergabung menjadi bagian dari 'wadah' yang memiliki fokus pada anak-anak (terkait hal inilah saya dulu memutuskan tuk menjadi relawan Museum Anak Kolong Tangga, membantu tuk mengumpulkan buku bacaan bagi Taman Bacaan Sukmo Elang dan menjadi relawan Komunitas Jendela).

Sekarang, saya memutuskan untuk fokus pada anak-anak masa depan saya. Terlalu fokus dengan kegiatan menjadi relawan dan berbuat untuk anak-anak, saya sampai melupakan kewajiban saya untuk mulai menabung keuangan masa depan. Dan lebih banyak bersyukur dengan rezeki yang cukup untuk makan dan minum sebulan. Egois memang, tapi kalau teringat hasil diskusi dengan seorang teman beberapa waktu lalu agar sekarang saya lebih memikirkan diri sendiri dan jika ingin 'berbuat', lebih baik memulai dari diri sendiri tanpa perlu muluk-muluk ikut 'wadah' idealis. Dia mencontohkan dirinya sendiri yang melepaskan komunitas yang peduli alam, memutuskan untuk 'berbuat' pada alam dengan mendisplinkan diri sendiri dengan menjadi vegetarian saja dan memakai listrik secukupnya. Saya rasa saya pun bisa memutuskan tetap memegang idealisme dengan tetap 'berbuat' meski sekarang tak seluas dahulu kala. Lebih mempersiapkan diri menjadi seorang ibu yang baik untuk anak-anak saya kelak dan mendidik adik dan sodara saya sendiri. Itu saja sudah cukup dan lebih berarti.

Selain itu, alasan pribadi yang sangat membuat saya tak nyaman dan sudah tak ikhlas lagi 'berbuat' untuk anak-anak juga menjadi alasan kuat saya memutuskan hal ini. Tak lain dan tak bukan karena saya sudah mulai tak ikhlas 'berbuat' untuk anak di kedua komunitas tersebut. Suatu alasan yg cukup emosional, hehe. Namun, keputusan sudah saya buat. Sekarang saya lebih disibukan dengan mempersiapkan diri menjadi kakak, sodara bagi adik-adik dan kerabat, serta kelak ibu yang baik untuk anak-anak saya.
Lalu kebiasaan saya mengoleksi buku2 lucu dan menarik untuk anak2 akankah terhenti? tentu saja tidak saya tetap mengoleksi buku-buku cerita yang bagus untuk anak-anak dan membacakannya untuk mereka yang ada di dekat saya.

Sibuk mempersiapkan diri tuk
malaikat kecil saya yang akan
sepintar dan semanis Winnie
Apakah cerita tentang anak-anak di blog ini akan terhenti seiring keputusan yang saya buat? Tentu saja tidak, jika saya memiliki cerita tentang adik atau sodara kecil saya. Saya pasti akan kembali bercerita.

Sampai Jumpa
Maruchan