Sabtu, 14 Mei 2011

Mengenalkan Permainan Tradisional pada Arje dan Abi

Main-main...
Sekarang saya sedang ketagihan bermain dengan anak-anak, karena asyik sekali ternyata bermain dengan mereka (Apakah ini mengindikasikan bahwa masa kecil saya kurang bahagia? hihihihihihi, tidak juga). Hemm, yuk membaca cerita saya bermain permainan tradisional dengan Arje dan Abi di Museum Anak Kolong Tangga!

Masih ingat cerita saya tentang Arje dan Abi, dua kakak beradik dari Jakarta yang 'diculik' Bu Asih dari acara diskusi Opung mereka? Ya, ini cerita mereka yang penasaran dengan permainan tradisional yang dipajang di teras depan Museum Anak Kolong Tangga. Kelar keliling melihat koleksi Museum dan mengisi buku tamu. Saya mengajak Arje dan Abi ke teras depan Museum, terdapat  6 macam permainan tradisional di sana, yakni: angklung, hula hop, dakon, gamelan, panca lele, dan enggrang.

"Sini sini Je Bi...ini ada beberapa maenan tradisional. Kalian pilih saja", saya duduk di antara maenan yang dipajang. Arje tampak bingung, sementara si Abi bergegas mengambil hula hop dan memainkannya. Dia mengambil hula hop yang besar.
"Bukan itu bukan untuk Abi. Ini yang pas untukmu"
Hula hop yang besar saya berikan pada Arje. Arje pun memainkannya. Setelah puas bermain Hula Hop. Arje pun percaya diri dan mulai berani bertanya.
"Oh aku tau ini", ujarnya ketika melihat dakon.
Serius sekali ya dia^^
"Apa namanya?" tanya saya, dengan dia hanya mengelengkan kepala.
"Ini namanya dakon. Bisa main dakon tidak kamu Je?"
Sekali lagi Arje hanya menggelengkan kepala.
"Hemm, kakak juga lupa memainkannya" ujar saya ragu dan takut salah tuk mengajarinya karena saya tidak yakin aturan bermain dakon ala Jawa, sementara saya dulu sering juga bermain dakon ala Sumatra (maklum dulu saya pernah tinggal di Pematang Siantar, Sumatra Utara, selama 5 tahun). Saya pun meminta teman relawan yang sedang asyik duduk di sana, tuk mengajari Arje. Akhirnya Arje pun asyik bermain dakon bersama kakak pengunjung, sementara saya dan Zulfa, yang notabene relawan Museum justru hanya menjadi penonton, hehehe^^v. Cukup lama Arje terlihat asyik bermain dakon hingga akhirnya si Abi yang merasa dicuekin, memberantakan biji-biji sawo milik Arje. Selesai sudah. Tapi, pandangan Arje tertumpu ke sebuah papan kayu yang ada di sana. "Kalau itu permainan apa Kak?"
"Itu Panca Lele, permainan dari Srilanka"
"Main itu yuk Kak" ajaknya polos
Saya hanya nyengir dan merasa tidak enak,"Hehehe...kakak gak bisa mainin tu. Bu Asih yang bisa. Itu lho Ibu yang tadi mengajak kamu ke sini" jelas saya.
"Oooooooooohh" dia tampak kecewa. Kemudian mereka pamit ke bawah. Namun, tak lama kemudian Arje kembali dan berlari menghampiri saya, Zulfa dan Lingga yang masih bersantai di depan teras Museum. "Kak Marisa yang mana?"
"Ya itu kakak. Kenapa?" jawab saya
"Kata Ibu tadi, kak Marisa yang bisa main ... apa itu tadi? Yang ini" ujarnya menunjuk Panca Lele. Ternyata dia masih penasaran juga.
"Wah Ibu Asih salah tu, kakak gak bisa main samasekali. Sebentar kakak tanya teman relawan yang lain" Dan ternyata ada Agus yang bisa memainkan Panca Lele, board games asli Srilanka itu

Arje sedang fokus mendengarkan penjelasan mas Agus
Sementara Agus mengajari Arje bermain Panca Lele, Abi pun saya kenalkan dengan Enggrang (untuk info permainan Indonesia, sila klik: http://mydol.wordpress.com/author/pinkhun/ ). Permainan yang menggunakan bambu berukuran 30-60 cm sebagai pengganti alas kaki itu, saya rasa sangat tepat untuk Abi yang tidak bisa diam^^v. Abi tampak antusias dan bergegas naik dengan semangat.
"Dilepas dulu sepatunya, nanti jatuh kalo pake sepatu". Abi tidak memperdulikan ucapan saya. Dia nekat naek sementara saya dan Kiki menahan galah bambu tersebut agar si Abi tidak jatuh. Karena tidak kuat, saya minta bantuan Agus untuk membantu si Abi.
"Biar kakak yang bermain Panca Lele dengan Arje, tapi Arje ajarin kakak dulu ya!" pinta saya pada  Arje. "Ya, sini Kak!"

Untuk anak yang berusia 6 tahun, cara Arje menjelaskan permainan Panca Lele dengan runut merupakan tanda bahwa anak ini cerdas. Syukurlah Dek, kamu telah bermain ke Museum Anak Kolong Tangga, jadi kelak esok dirimu dan Abi tidak melupakan akar budaya kalian. Meski kita bermain dan berbagi pengetahuan hanya sebentar, tapi kakak yakin pengalaman sejam ini tidak akan kalian lupakan.

Selesai diberi penjelasan, kami pun memulai permainan. Si Arje telah mendahului permainan saya. Langkah kerang kecil Arje lebih dahulu dibandingkan saya. Saya pun nyeletuk "Wah tampaknya kakak kalah nich. Tuh Arje udah mau sampe final"


Liat hasil perbuatan Abi^^v
"Belum Kak. Ini masih ada satu putaran lagi. Kakak gak boleh nyerah dong. Siapa tau malah kakak yang menang" ujarnya menenangkan saya. Sungguh pernyataan yang tak saya sangka akan muncul dari mulut kecilnya. Ya Allah, hilangkan keraguan dan putus asa saya untuk memperjuangkan keindahan masa depan anak-anak kecil seperti Arje dan Abi ini. Pikiran dan hati mereka yang masih murni dan masih bisa dibentuk tuk menjadi insan yang bermanfaat dan berguna untuk bumi ini. Satu langkah kecil Kami, para relawan, yang memang tidak berarti (hanya bermain dan mengenalkan permainan tradisional) tapi  insyaallah memberikan warna indah di dalam kehidupan anak-anak kecil yang berkunjung ke museum dan bermain bersama Kami. Pengalaman menghargai kebudayaan masa lampau dan bermain dengan permainan tradisional yang benar-benar mengasah kemampuan motorik dan kognitif mereka. Pengalaman yang pasti membekas dalam kehidupan mereka dan memberikan pengaruh baik dalam kehidupan..amiin3x.