Senin, 02 Mei 2011

Arje dan Abi, Dua Kakak Adik Gemesin di Museum Anak Kolong Tangga

Minggu, 1 Mei 2011, saya memang berjanji untuk memberikan waktu saya pada Museum. Saya menawarkan diri untuk menjaga museum siang hari hingga sore, menemani Ibu Asih. Salah satu relawan juga menawarkan diri untuk menemani juga. Lumayan jadi ramai. Ternyata siang itu, relawan Divisi Workshop sedang berkumpul untuk mempersiapkan workshop kunjungan pada tanggal 5 Mei ini. Dan kali ini benar-benar ramai.
Tak ada yang berkunjung, saya pun mengeluarkan buku bacaan yang memang saya persiapkan dari kos. Sembari duduk di selasar depan Museum yang dipenuhi maenan, saya pun membaca buku tentang Budaya Perbankan (lumayan menyicil ilmu tuk persiapan S2, hehehe).
Setengah jam berlalu, Ibu Asih yang awalnya pamit untuk shalat, kembali dengan membawa dua anak, tampaknya kakak beradik.
"Siapa Bu?" tanya saya
Arje dan Abi di depan salah satu
Vitrin Boneka 
"Ini mbak, daripada mereka di bawah dengerin sambutan dan acaranya orang dewasa. Ya saya ajak ke sini", ujar Ibu Asih sembari mengajak masuk dua adek kecil ganteng dengan kemeja kotak-kotak itu.

Saya pun beraksi, mari 'mempesona' adek-adek kecil ini dan 'meracuni' mereka dengan permaenan tradisional dan kecintaan pada budaya leluhur.

"Ayoooooooo masuk..kita liat maenan dari seluruh dunia!"
"Nah, itu tu ada maenan dari Jepang. Kalian tahu tidak?"
Si Sulung berhasil dicuri perhatiannya.
"Iyakah ini maenan dari Jepang Kak?"
"Iya, coba deh dilihat"
"Iiiih iya"
"Kalo gitu ada gasing gak Kak?"
"Gasing??? Ada dong..tu di sebelah sana. Tapi itu gasing tradisional"
Si Kakak memang sedang membawa gasing, tapi gasing modern. Sementara si Adik juga berebut ingin bercerita sembari sesekali berlari kesana kemari (gak bisa diem tu anak).
Setelah bercerita banyak hal tentang gasing modern yang dia ketahui. Saya ajak si Sulung yang bernama Arje itu ke vitrin kaca yang berisi koleksi boneka dari Cina, Polandia dan yang lain. Sementara, si Abi yang tidak bisa diam, bersama Ibu Asih. Saya dan Ibu Asih juga bergantian menarik perhatian mereka untuk tetap fokus dengan usaha kami mengenalkan permainan tradisional yang belum mereka kenal.
Arje membaca label Sepatu Suku Hudar
Abi dan Arje antusias sekali ketika melihat koleksi senjata yang ada. Reaksi yang sama juga ditujukan Arje dan Abi ketika saya menunjukan dua alas kaki anak-anak Suku Hudar.

 "Hey, sepatu mereka ini dipakai untuk mencegah agar teman kita di sana tidak jatuh tersandung"
"Hahh? gak jatuh kak?kok bisa dia tidak terjatuh hanya memakai sepatu itu?"tanya Arje kritis.
Sementara Abi kembali berlari setelah ditunjukan koleksi yang ada.
"Hemm..coba Arje baca label yang ada di situ!", saya minta Arje membaca penjelasan yang ada di label.  Selain untuk menjawab keheranannya, secara tidak langsung saya ingin agar dia mengetahui fungsi label-label yang ada di museum dan tidak malas membaca.
"Je Je lihat-lihat ada barongsai di sini" Abi berteriak ketika dia melihat ada boneka Barongsai dan memanggil Arje.
Arje berusaha untuk fokus dengan bacaannya, setelah membaca, dia baru mengikuti langkah si Abi.

Nah, langkah si Arje mengikuti Abi menuju ke Panggung Boneka Dunia.
"Iya ini Barongsai tapi kecil ya?"
"Tapi apa benar itu namanya Barongsai?" tanya saya memancing
"Coba dilihat Je, itu boneka berada di urutan berapa. Kamu lihat kan, ia ada di urutan 2. Sekarang kita lihat label. Apa tulisan yang ada di sana?"
Arje pun kembali membaca label. Dan ketika dia melihat boneka unik yang dia ingin tahu apa itu, dia sudah mengetahui apa yang harus dilakukan.

Dia serius membaca, meski masih terbata-bata
Selesai mengelilingi museum. Arje pun mengisi buku tamu. Dia begitu antusias mengisi semua yang harus diisi, termasuk kesan dan pesan. Walau tulisannya belum sempurna, maklum baru berumur 6 tahun. Ia pun menuliskannya untuk Abi. Setelah ditanya lebih lanjut, dia ternyata bukan anak Jogja, tapi anak Jakarta yang sedang liburan ke Jogja sekaligus menghadiri pertemuan Opung-nya di bawah (Mereka berdua cucu Dr. Herman Siregar, tokoh yang sedang tampil dan pembicara di lantai 1 Taman Budaya waktu itu. Saya pun tak terlalu paham siapa Beliau, mencari di mbah google pun tak ketemu ).

Saya bersyukur sekali setidaknya Arje dan Abi yang notabene anak-anak Ibukota yang memang tidak mengenal permainan tradisional, telah kami kenalkan sedikit tentang kekayaan budaya Indonesia dan Dunia. Semoga menjadi salah satu momen mengesankan dalam hidup kalian Arje dan Abi^^