Sabtu, 30 April 2011

Nemenin Cristhopher Menggambar, Pelukis Cilik Jogja

Siang itu, seorang adek cowok gemol yang sedang diminta mengisi buku tamu Pameran Celengan "Simpan Satu Rupiah" yang diadakan oleh Museum Anak Kolong Tangga Jogja di Benteng Vredeburg pada 2010 yang lalu, cukup menyita perhatian saya. Ayahnya memintanya tuk mengisi buku tamu dengan tujuan mengetes kemampuan menulis dan membacanya. Adek cowok itu menulis satu persatu huruf namanya sembari mengeja.....CHRISTHOPHER. Cukup cerewet memang jika melihat celotehannya.

Kelar menulis dan bertanya tentang kapan acara "Menggambar Cerita Komik Celengan", dia langsung berlari mengitari area Pameran. Nah, ketika acara dimulai. Adek gemesin itu langsung bersiap dan duduk lesehan bersama adek-adek kecil lainnya. Saya membantu tim relawan dari UKDW yang masih 'malu-malu' kucing menghadapi anak-anak. Mereka menjelaskan tentang apa yang harus dilakukan adek-adek kecil, mengambar cerita komik celengan dalam versi mereka masing-masing. Christhoper tidak terlalu memperdulikan penjelasan dari kakak-kakak relawan UKDW. Dia langsung ber'aksi' dengan crayon dan kertas putih yang telah kami bagikan. Sementara kedua orang tuanya duduk setia mengamati sang anak. Christhopher pun mencari posisi yang pe-we. Karena kesulitan mengambar dengan duduk akhirnya dia mengambil posisi telungkup dan mulai menggambar.

Melihat aksi menggambarnya, saya pun usil dan bertanya apa yang dia gambar. Cukup satu kali pertanyaan pancingan itu saja, si gemol gemesin ini langsung bercerita sembari menggambar.

"Ini pak dokter....pak dokter akan menjemput pasien yang sakit. Terus ini ini tank ambulance yang njemput pasien...bla bla" jelasnya sembari menggambar semua hal sebebasnya dari persepsi dia. Gambarnya pun tak se-normal anak-anak biasa. Dia benar-benar mengekspresikan dunia-nya.
Setelah mengamati gambar Christhopher, saya merasa familiar dengan bentuk-bentuk gambar dia. Khas gambar pelukis cilik Jogja.

"Ini ambulance-nya jemput pasien...terus terus amare-nya bunyi", celotehnya lagi
"Amare apa Chris?"
"Itu lho...amare amare yang bunyi nguing nguing nguing"
"Itu alarm", ujar ayahanda Chris yang sedari awal menunggu Chris dengan sabar.
"Bukan bukan alarm...itu amare", bantah si Chris
"Oke baiklah amare....lalu apa yang terjadi?", saya mencoba tuk mengikuti kemauan dia agar tidak takut berpendapat dan berekspresi. Dia menjelaskannya dengan antusias meski hasil gambar Chris diluar tema, tapi tak apalah....setidaknya dia telah menginspirasi adek-adek lain dengan keberanian berekspresi dan berani beda. Setelah melihat keseluruhan hasil gambar Chris dan mendengarkan ceritanya tentang gambar tersebut di hadapan adek-adek yang lain. Aku semakin yakin dia adalah Christhopher, pelukis cilik terkenal yang telah menggambar sejak berusia 4 tahun itu.

Selesai menggambar dan menjelaskan, Chris pun berlari pergi. Namun, sang ayah menegurnya dan meminta Chris untuk pamit pada semua orang yang mengikuti acara Menggambar Cerita Komik Celengan plus mengucapkan terimakasih pada masing-masing kakak relawan...pamit dengan menyalami semuanya.

Satu pelajaran penting yang dapat dipetik, sikap orang tua Chris yang tidak memaksa dan selalu mendukung Chris dengan setia duduk menanti sang anak selesai menggambar dari awal hingga akhir merupakan suatu wujud dukungan yang tak ternilai sekali bagi Chris. Sang ayah dan ibunda yang tetap menanamkan kesahajaan dan etika bergaul telah menanamkan kesederhanaan dan moralitas pada Chris sejak kecil, yang mungkin sedikit sekali kita temui dalam diri orang tua yang anak-anaknya tenar.

Yuk, menjadi orang tua yang bersahaja dan mengajarkan nilai-nilai etika yang sudah mulai luntur sekarang ini!

Untuk anak-anak Indonesia yang lebih baik..........