Senin, 11 April 2011

Anak-Anak Pengungsi Merapi Belajar dan Bermain Bersama Komunitas Jendela

         Ini cerita lain saya bersama anak-anak. Cerita yang dimulai juga dari Facebook ^^v. Cerita berawal dari sms seorang teman, Tifa, yang menginginkan saya share tentang pengalaman saya di Sukmo Elang. Dari share pengalaman tersebut, saya bertemu lagi dengan teman-teman yang begitu ingin berbuat untuk anak-anak Indonesia. Mereka membentuk komunitas yang disebut komunitas JENDELA.
         Setelah beberapa kali pertemuan dan seminggu persiapan, akhirnya kami pun terjun ke lapangan dan mendekati' anak-anak pengungsi Merapi yang tinggal di Shelter  Merapi Gondangan I, Wukirsari, Cangkringan dengan program outbond.
          Malam itu, tak pernah saya sangka bahwa daerah Cangkringan begitu dingin dan membekukan kaki saya. Karena sudah telanjur di sana saya pun mencoba bertahan, dan seorang anak kecil bernama Dika membuat saya bersemangat kembali. Ketika melihatnya pertama kali, saya teringat dengan Yogi, Ezi, Ayi dan Hori (teman kecil saya di Bangka). Caranya berbicara dan bersikap persis seperti empat anak cerewet dan terbandel di SMPN 2 Pemali itu, dan saya yakin anak ini unik plus pintar. Dugaan saya tidak meleset,
Dia benar-benar anak unik dan punya inisiatif tinggi plus sangat antusias dengan rencana Komunitas Jendela membuka taman bacaan di sana. Seorang teman, Arif, menceritakan bahwa setelah mengetahui bahwa akan ada taman bacaan di Shelter-nya, Dika menyerahkan sebuah papan bertuliskan :
                             "Maaf bila sudah selesai membaca buku 
                              harap buku di kembalikan ke tempatnya
                             Pengurus Perpustakaan


Ini Dika dengan karyanya^^
     Itu hasil karya Dika. Saya dan teman-teman benar-benar takjub dan terharu. Ya Allah, saya yakin masih banyak anak-anak kecil di daerah lain yang begitu haus akan ilmu pengetahuan dan menginginkan pula adanya taman bacaan di daerah mereka. Saya yakin masih banyak teman-teman yang peduli dengan teman-teman kecil di sekitarnya dan berbuat untuk mereka. Permudahkanlah jalan mereka.amiin3x.
Lanjut cerita bersama anak-anak pengungsi Merapi...
Esok pagi-nya, setelah melakukan persiapan seadanya. Kami pun memulai program Kami. Anak-anak tampak antusias dan menunggu di depan Sekretariat sejam sebelum acara dimulai. Setelah panitia datang semua, outbound pun dimulai. Saya mendapat tugas sebagai petugas konsumsi (Asyik^^v!). Tapi karena keterbatasan personalia (beberapa hal meleset tak sesuai dugaan), saya dan Tifa pun akhirnya jadi pemandu pos dadakan. Pos yang dibuat dadakan untuk anak-anak yang selesai terlebih dahulu melewati semua pos agar tetap berada di sekitar kami dan tidak pulang ke rumah. 
      Saat itu, ada sebagian anak-anak yang tidak ikut outbound juga asyik mewarnai gambar yang diberikan oleh salah satu teman relawan, Hety. Setelah selesai, mereka mulai ngacir satu per satu. Untunglah saat itu saya membawa dua buku cerita kecil yang selalu saya bawa kemana-mana kalo saya duga akan bertemu dengan anak-anak kecil. Sebagian dari mereka pun mengurungkan niat untuk pergi. Buku Rori! edisi 1 dan 2 pun saya bacakan bersama mereka. Selesai membaca, ada dua anak yang berebutan membaca buku itu.
"Hey hey..antri ya! Giliran. dia dulu yang membaca, setelah selesai baru kamu" tegur saya.
Karena buku saya hanya ada dua, sementara ada 6 anak. Kami pun bermain origami (Tentu saja Tifa yang notabene sarjana sastra Jepang ahli dalam hal ini:p). Anak-anak cowok sibuk membuat pesawat dengan caranya sendiri, sedangkan anak-anak perempuan minta diajarin membuat kupu-kupu. 
       Salah seorang anak cowok (saya lupa namanya) melemparkan gunting ketika Tifa hendak meminjam gunting tersebut. Kaget sekali kami ketika itu. Tifa pun menegur dan mengajari dia bagaimana mengembalikan gunting dengan baik. "Kalau hendak mengembalikan gunting, begini caranya. Ujung yang tajam dipegang, dan serahkan dua ujung pegangan gunting pada temanmu. Lalu ucapkan: Terimakasih ya!"
      Siang itu, bermain dengan anak-anak pengungsi Merapi benar-benar mengasyikkan. Walau saya tidak berinteraksi dengan semuanya,tapi anak-anak kecil seperti Tifa, Arum, Dika, dan beberapa anak yang saya hafal wajahnya tapi tidak namanya telah membuat saya bersemangat kembali. Ingin berlama-lama di sana dan mengajarkan mereka bagaimana bersikap dan membagi pengetahuan saya tentang dunia dan segala isinya, mengajarkan nilai-nilai perbedaan bahwa Beda Itu Indah sesuai dengan latarbelakang pendidikan saya di dunia Antropologi plus sesuai dengan ayat Al Qur'an: 


"Wahai Manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa..." (Surah Al Hujuraat: 13)



Walau saya hanya mampu menjangkau sebagian kecil anak-
anak di dekat saya. Saya yakin masih banyak teman-teman
saya lainnya di daerah lain yang juga melakukan hal yang sama..untuk
Indonesia yang lebih baik^^v