Kamis, 31 Maret 2011

Belajar Mencintai Buku

Sepertinya kehidupan saya sekarang tak pernah jauh-jauh dari kehidupan anak-anak dan perpustakaan. Impian di masa lalu terwujud sedikit demi sedikit dan mulai menampakkan hasilnya. Bertemu dengan teman-teman yang memiliki visi dan misi yang sama untuk anak-anak Indonesia. Kembali bermain dengan anak-anak kecil dan berusaha menumbuhkan minat baca pada mereka. Salah satu pengalaman yang mengesankan tuk memperjuangkan keindahan hidup anak-anak itu adalah pengalaman ketika belajar bersama anak-anak di Sukmo Elang, Jember-Jawa Timur.

Ini dia ruang belajar adek-adek kecilku di Sukmo Elang, Jember-Jawa Timur
Cerita awal tentang Taman Bacaan Sulaeman Dawud di sana, tak lepas dari peran Bapak Totok dan teman saya, Evin, yang memiliki kepedulian cukup tinggi pada orang-orang di sekitarnya. Awalnya, obrolan tentang berbuat untuk anak-anak ini terjadi di FB (thanks God tuk kepintaran dan inspirasi yang Engkau berikan pada si Mark). Kebetulan saat itu, saya sedang ber-nazar tuk menyumbangkan uang teman yang diberikan kepada saya dengan paksaan (maksa saya menerimanya karena saya yang dibilang baik padanya). Daripada keikhlasan saya ternodai, uang itupun saya niatkan tuk menjadi dana bantuan bagi orang-orang yang lebih membutuhkan.
Singkat cerita, kami pun bertemu di alam nyata, mengunjungi langsung lokasi Sukmo Elang dan bertemu dengan adek-adek kecil yang kurang tersentuh mordenisasi itu. Aliran listrik telah masuk kesana, tapi adek kecil itu tampaknya tak terlalu mengerti tentang tayangan di televisi. Yang mereka tahu, hanyalah lagu-lagu India populer yang telah di-bahasa madura-kan. Dijelaskan tentang daerah Jogja yang sedang mengalami letusan gunung merapi saja mereka tampak tak paham. Dugaan saya, mereka tak mengerti apa yang ada di televisi, mungkin karena kendala bahasa.
Maklum saja, bahasa yang dipakai sehari-hari bahasa Madura dan masyarakat di sana samasekali bukan masyarakat yang pernah merasakan bangku sekolah. Baru anak-anak mereka inilah yang merasakan pendidikan. Wajar saja, jika mereka tidak begitu mengenal bahasa Indonesia (ini baru asumsi saya:p). Selain itu, daerah Sukmo Elang yang terpencil itu memang sulit diakses, dan karena itu tak ada sekolah di sana. Hanya ada sekitar 14 KK (saya lupa tepatnya berapa) di areal yang awalnya hendak dijadikan Kawasan Wisata Religi itu.Saya dan Evin tak mau tau dan berurusan dengan rencana besar Pak Totok itu, kami menawarkan diri tuk fokus memberikan bantuan bagi anak-anak di dusun tersebut. So, setelah berkenalan, kami pun menjadi guru dadakan mereka. Biasanya setiap senin-sabtu ada dua orang guru honorer, lulusan SMA yang direkrut Pak Totok tuk mengajar adek-adek kecil yang begitu antusias mengenal banyak hal tentang dunia ini dan alam (Pak Totok menanamkan nilai-nilai kecintaan pada alam)
Saya memang telah membawa bekal dua buku yang siap saya ceritakan pada mereka. Satu buku tentang Cerita 360 Hari dan satunya lagi buku Asal-Usul Benda di Sekitar Kita. Buku 360 Hari itu sebenarnya sudah mbrodol, so saya memutuskan untuk membaca buku satunya.
Lihat, lembaran buku saya yang
diperebutkan oleh mereka
Bingung tuk memulai dari mana, saya pun memutar otak bagaimana membuat kesan pertama mereka terhadap buku itu bagus. Kemudian, saya pun membaca terlebih dahulu salah satu artikel di buku tersebut. Ketika tampil, saya pun beraksi "Siapa yang punya boneka?".
"Kalian tahu gak sich kalo dulu ternyata boneka itu bukan untuk maenan, tapi untuk sembayang?" ujar saya memancing rasa ingin tahu mereka dan mengunakan istilah sesuatu yang lebih mereka mengerti dibandingkan yang lain. Dalam hal ini, istilah "ritual' saya ganti dengan "sembayang" agar mereka memahami apa yang sedang saya ceritakan, mencari padan kata yang sesuai dengan nilai yang mereka anut.
"Apakah kalian juga tahu kalo dulu nenek-nenek kita tidak pakai sampo dan sabun seperti yang kita pakai sekarang? tetapi memakai merang dan menggosok badan dengan batu putih, batu pualam?"
"Belum tau kan tentang ini? kakak juga belum tau kalo bukan karena buku ini", sembari menunjukan buku yang dimaksud. Lalu, membuka bagian daftar isi.
"Nah, di dalam buku ini ada banyak hal yang bisa kalian ketahui: cerita tentang es krim, gimana es krim dibuat, coklat, dan masih banyak lagi. Ayo sekarang kalian ingin mengetahui tentang apa? Kita baca sama-sama ya?"
Saya tunjuk dua anak untuk membaca buku bersama saya di depan. Itung-itung nge-tes kemampuan baca dan memupuk ke-pede-an mereka. Selesai membaca, giliran Evin ber'aksi'. Ibu-ibu mereka juga berdatangan melihat aksi kami berdua.

Bahkan mereka belum mengetahui seni melipat kertas
dari Jepang / origami
Kelar tampil seadanya, kami pun meminjamkan buku yang saya bawa tuk dibaca masing2 mereka. Dan jadi-lah salah satu buku yang memang sudah mbrodol, semakin mbrodol karena dirobek per halamannya karena terlalu banyaknya anak yang penasaran dengan buku yang saya bawa. Untuk mengantisipasi semakin bertebaran tak jelas, saya pun mengajak sebagian dari mereka bermain origami, membuat kupu-kupu dari kertas. Adik-adik cewek yang tampak antusias setelah saya perlihatkan kupu-kupu yang saya buat. Sementara adik-adik yang laki-laki sibuk merebut isi buku saya.
Ya walau sederhana aksi kami saat itu, insyaallah membawa sedikit pengalaman baru bagi mereka. Pulang dari Sukmo Elang, kami pun memulai strategi tuk menyebarkan info tentang daerah terpencil yang tak memiliki sekolah dengan anak-anaknya yang antusias tuk belajar. Ketika luang, tiap sabtu kami menyebarkan brosur di Alun-Alun Jember sembari olahraga, selebihnya melalui share info di FB. Alhamdulillah, mendapat respon baik dari teman dan relasi kakak sepupu (komunitas We Care Community Jember) dan beberapa bulan kemudian, Taman Bacaan Sulaiman Dawud telah terisi dengan banyak buku. Tinggal mengisi program pendidikan di sana...Bismillah.

Ini dia teman-teman kakakku yang hebat dan memperjuangkan
buku-buku di Taman Bacaan Sulaiman Dawud. Foto by: Primasari H