Kamis, 20 Oktober 2011

Surat Kenangan dari Sheilla Armeillia A

DEAR : Sheilla Armeillia Astigfarani
TO      : Kakaku yang baik, and cantik (kak marisa)


"Ass...kak ini aku Sheilla. aku akan memberikan kenangan untuk kakak sebagai tanda terimakasih, karena kakak telah mengajar kami dengan baik. kakak telah membimbing kami sehingga kami seperti sekarang ini. Orang tuaku juga bilang terima kasih. Cuma ini yang bisa aku berikan untuk akak. Gak apa-apa kan.
Kak sudah dulu yaaa....
Oh...iya jaga kenangan ini dengan baik jangan sampai hilang dan jaga biodataku. Dan satu lagi jaga bintangku (Gemini). Sudah dulu ya kak...daah
Sampai Jumpa
Wassalam


Sheilla


Tadi malam selembar surat yang masih terbungkus rapi di dalam plastik ini melayang dari sela-sela buku yang  jatuh berantakan ketika saya hendak membuka lubang angin jendela kamar kos. Saya pun teringat gadis kecil berambut pendek kelas 6 di SDN 2 Pemali, Bangka, pengirim surat ini. Kalau tidak salah, dia murid baru. Pindahan dari Samarinda. Tak begitu akrab dan kenal dengan teman-temannya. Dan seperti biasa, saya selalu tertarik dengan anak baru. Kenapa bisa begitu? Mungkin karena pengalaman masa kecil saya telah memberikan saya banyak pelajaran. Entah kenapa setiap melihat anak baru di kelas, saya merasa harus berkenalan dan menemaninya. Saya seperti merasakan perasaan gugup dan sulit beradaptasi ala anak baru (maklum waktu SD dan SMP saya dua kali pindah sekolah mengikuti kepindahan tugas dinas bokap). Oleh karena itu, saya pasti akan selalu mendekatinya selama proses 'kegugupan' anak baru tersebut masih ada. Setelah dia mulai pede dan mulai berbaur, biasanya saya tidak terlalu berada di dekatnya lagi (Lha wong wes udah banyak temannya kan?)


Sheilla pun akhirnya mulai pede dan bisa beradaptasi. Saya sering menyapanya di kelas atau mengajak dia dan teman-temannya bermain di luar kelas (biasanya sore hari). Kami menghabiskan waktu bersama dengan bermain permainan tradisional Jawa yang saya bawa ke Bangka waktu KKN UGM 2008 lalu. Dia 'penghubung' saya dengan teman-teman sekelasnya, sengaja saya membuatnya jadi 'penghubung' saya pada teman kelasnya tuk mempermudah proses dia beradaptasi.
Setelah janjian di kelas, biasanya saya sms-an dengan dia untuk konfirmasi waktu bermain bersama. Nanti, dia mengkordinir. Alhasil, kegiatan bermain bersama anak-anak SDN 2 Pemali Bangka di Koulong Biru waktu itu terjadi karenanya.
Ini suasana kelas 6 SDN 2 Pemali Bangka waktu itu


Kalau saya ingat kembali, teman-teman kecil saya di kelas 6 SDN 2 Pemali ini adalah anak-anak yang membuat saya semakin jatuh cinta dengan jurusan saya, Antropologi. Bagaimana tidak jatuh cinta, ketika itu tampak jelas wajah mereka semua yang terkesima dan terpesona ketika mendengarkan cerita saya tentang suku-suku bangsa di Indonesia, khususnya suku bangsa Bugis, Bali, Toraja, Batak, dan Jawa. Dan kalau ingat itu, saya benar-benar rindu berada di depan kelas dan mengajar, khususnya mengajarkan indahnya perbedaan (tentang hal ini, saya mulai membuat surat kecil tentang cerita suku-suku bangsa di Indonesia tuk anak didik teman-teman saya yang menjadi Pengajar Muda di Indonesia Mengajar. Lain kali saya upload deh surat tersebut agar bisa diakses publik, tidak hanya guru-guru tetapi juga teman-teman kecil saya). Selain itu, rindu juga bermain-main dengan teman-teman kecil sembari belajar banyak hal di alam terbuka. Entah itu saya yang belajar dari mereka atau mereka yang saya bagikan pengetahuan yang saya tahu.


Hemm, bagaimana kabar Sheilla sekarang ya? Saya tidak tahu, saya sudah tidak berkomunikasi dengannya tapi surat dan kado kecil darinya masih tersimpan dan saya pergunakan dengan baik dan hati-hati sejak saat itu.
Apa kabarmu sekarang dek Sheilla? Kuharap internet dapat mengubungkan kita lagi. Nomer HP-mu hilang seiring kecerobohan kakak menghilangkan dua kali handphone kakak (satu kali dihilangkan adik, satunya lagi jelas kakak yang menghilangkan ^^v). Dan kakak berharap, namamu yang kakak ketik lengkap ini, suatu waktu dapat mempermudahmu tuk menemukan kakak lagi. Kakak yakin itu pasti kejadian yang tidak disengaja. 


Membaca isi suratnya lagi, saya terheran dengan kalimat "...karena kakak telah mengajar kami dengan baik. kakak telah membimbing kami sehingga kami seperti sekarang ini"
Kok berasa saya tidak pantas mendapatkan ucapan ini? saya kan hanya mengajar di sana selama seminggu. Tidak banyak pengetahuan yang saya bagikan. Pengetahuan yang saya berikan itu pun tak melebihi pengetahuan yang diberikan guru-guru mereka. Tapi, saya anggap pengalaman selama seminggu itu sebagai pengalaman berkesan dalam hidupnya. Dan jika memang benar seperti itu, maka perlu kamu ketahui dek Sheilla, justru pengalaman mengajar seminggu itu salah satu pengalaman terbaik pertama dalam hidup kakak. Kenapa seperti itu? itu karena pengalaman tersebut menjadi momentum bagi kakak tuk mengetahui siapa diri kakak dan apa 'karya' apa yang bisa kakak berikan tuk dunia ini.


Semoga Allah SWT menjadikan kalian pemuda-pemudi Indonesia yang mencintai  indahnya perbedaan, tumbuh menjadi anak kebanggaan orang tua kalian...amiiin3x

Tidak ada komentar:

Posting Komentar