Selasa, 27 September 2011

Belajar Baca Bareng Nikita

Cukup lama sekali saya tidak bermain dengan Nikita. Empat hari  lalu akhirnya saya berinteraksi langsung dengannya lagi. Saya mengajaknya membaca buku besar yang saya lihat di dalam garasi kos kami. Siang itu, kami pun akhirnya membaca buku berjudul Keluarga Kelinci dan Buku Raksasa Berjendela. Buku besar sekali yang ingin sekali saya memilikinya. Buku yang cocok sekali untuk mengajak anak-anak belajar membaca dan berhitung, mengenalkan lawan kata dan aktivitas sehari anak-anak. 
Ini buku besar yang benar-benar
membuat saya ingin mengoleksinya
Saya minta Nikita membaca terlebih dahulu. Dia mengeja satu persatu huruf pada paragraf pengantar yang ada di pojok kiri atas halaman. 
"k..e..ke..l..u..lu...r...g..a...ga....keluarga...k..e..ke...l..i..li...n...c..i..ci...kelinci" eja Nikita (lama juga sich mengejanya dan saya pun musti bersabar menanti Nikita untuk menyelesaikan paragraf tersebut)

Selesai membaca bagiannya, saya yang sudah tak sabar langsung membaca nyaring, meminta pada Nikita untuk menyimak bacaan saya dengan baik sebelumnya.Giliran saya membaca selesai. Saya menjelaskan intruksi dari buku tersebut. 
Kemudian, saya memintanya tuk mencari angka 1-10 di balik 'jendela' kecil dan membaca 'kata'dibalik jendela tersebut. Awalnya Nikita begitu bersemangat,tapi dia lelah juga dengan ejaannya yang memakan waktu. Ketika ditanya suatu gambar yang ada, dia bergaya membaca padahal dia hanya menebak saja.
"Hey, dibaca yang benar. Kamu nebak kan? Ayo dibaca baik-baik, Nikita harus latihan dengan keras. Kan sebentar lagi punya adik", ujar saya. Ia pun mendadak bersemangat. Kelar membaca satu topik bacaan di buku tersebut. Kami pun melanjutkan membaca halaman selanjutnya dengan topik berbeda. Dia tampak mulai jenuh beberapa menit kemudian. 

"Wah Nikita udah mulai capek ya? tinggal dikit lagi tu, tinggal dua kata juga. Nanti mbak Marisa kasih kue deh", ujar saya sembari mengambil sekaleng kue Khong Guan yang dibawakan Ibunda saya dari Jember.
Setelah berhasil menyelesaikan, kami pun duduk bersantai di kamar saya. Dia bercerita panjang lebar dan bertanya macam-macam. Saya berusaha menjawab pertanyaannya dengan bahasa yang bisa dia tangkap. Kami mengobrol kecil tentang kematian sembari menikmati kue. 
"Mbak mbak kita kan nanti sudah ndak di sini lagi" ujarnya
"Ndak disini maksudnya apa? Nikita dan semuanya mau pindah?"
"Enggak. Itu lho, kita kan nanti sudah ndak disini lagi, kapan kita ke surganya?"

Awalnya kami membaca
di depan kamar kos saya
Pertanyaannya membuat saya kaget.
"Maksud kamu mati? ya kita ke surga kalo kita semua sudah mati", jawab saya
"Itu kapan ya mbak? masih lama gak ya?"
"Aku tu gak pengen pergi dari sini mbak"
"Waduh mbak marisa ndak tahu kita ke surganya kapan, siapapun ndak tau. Semua orang ndak tau. 
Yang tahu hanya Allah"
"Kalau gitu aku mau nanya ke Allah saja mbak"
"Nah, kalo kamu nanya ke Allah berarti kamu harus shalat dan berdoa"
"Berarti aku musti shalat dan doa dulu ya?"
"Iya dong"
Lalu, kami pindah ke dalam kamar^_^


Percakapan itu cukup membuat saya terbengong dan heran, mengingat saya memperhatikan perkembangan dia selama ini. Tak pernah menyangka nilai agama telah ia terima padahal kedua orangtuanya notabene tidak mengajarkan itu. Usut punya usut, ternyata sang kakak yang mengajarkannya. Malam harinya, ketika mencari Nikita karena saya hendak membatalkan janji kami tuk meneruskan membaca halaman selanjutnya. Sang Ibu memberitahu saya bahwa Nikita sedang shalat bareng sang kakak. Alhamdulillah, doaku dua tahun lalu untuknya terkabulkan. Kelak kamu akan tumbuh menjadi seorang anak shalihah yang akan memberikan warna keindahan pada ayah bundamu Nikita...amiiin3x.