Rabu, 27 April 2011

Pentingnya Dirimu Wahai Ayah-Share pengetahuan dari Seminar "Pede Berbicara Seks pada Anak Anda" part 1

Awalnya, saya kira minggu lalu bakal menjadi momen long weekend yang menyedihkan. Ternyata tidak, malah menjadi momen yang menyenangkan dan penuh dengan cinta plus ilmu pengetahuan: silaturahim dengan ibu guru dan teman SD waktu di Pontianak dulu, temu kangen dengan ayah dan ibu angkat, plus mendatangi seminar "Pede Berbicara Seks pada Anak Anda" 23 April lalu di Semarang. So, let's see apa yang bisa saya bagikan dari pengalaman datang ke seminar keren dengan pembicara Elly Risman, Psi itu!*terlalu banyak ilmu yang saya dapatkan, jadi bingung mulai dari mana*

Apa yang akan Anda jawab ketika anak, adek kecil atau kerabat Anda yang masih anak-anak bertanya seperti ini "Kenapa dedek bayi punya 'itu' ya? Kok beda dengan punyaku?"

Sebelum menjelaskan ini, alangkah lebih baiknya saya memberitahukan perbedaan seks dan seksualitas *seperti yang dijelaskan Bunda Elly Risman*
Seks adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan kelamin; menjadi laki-laki dan perempuan
Seksualitas adalah totalitas pribadi seorang individu tentang apa yang dipercayai, rasakan, pikirkan, dan bagaimana bereaksi; tentang berbudaya, bersosial dan berseksual; tentang tampilan seseorang ketika berdiri, tersenyum, berpakaian, tertawa dan menangis; sesuatu yang menunjukkan siapa diri kita.
(intine seksualitas ini pembentukan tampakan seksual individu. Sikap ketika berinteraksi dengan individu lain, entah dia menjadi genit, tomboy, bersikap normal, dll)

Seminar yang seharusnya didatangi oleh pasangan muda pra nikah^^v
Pertanyaan seperti itu baru sebagian kecil pertanyaan anak-anak tentang seks. Dan itu, bisa dikategorikan pertanyaan sederhana yang biasa saja. Karena Bunda Elly Risman, Psi menunjukan hasil tulisan pertanyaan seorang anak SD (atau SMP ya?) seperti ini: "Berapa kali kita melakukan seks?", "Ngentot itu apaan sich?", dsb
Kenapa bisa muncul pertanyaan seperti itu??

Bunda menjelaskan tentang kehebatan dari perkembangan teknologi informasi yang sekarang telah memberikan akses informasi yang cepat bagi siapapun yang memiliki HP dan laptop dengan koneksi internet. Gempuran informasi yang tidak bisa disaring dengan ketat itu telah merasuki kehidupan anak-anak dan memberikan mereka kemudahan memperoleh informasi dari siapapun dan apapun. Contohnya saja video Luna-Ariel yang ternyata dapat dinikmati juga oleh anak-anak SMP. Bunda menunjukan hasil wawancara video yayasannya yang mewawancarai anak SMP, SMA dan mahasiswa yang menjawab tentang pengalaman pertama kalinya mereka melihat video porno. Apa dampaknya dari menonton video porno sejak kecil? Otak akan mengalami kebuntuan dan dipenuhi dengan visualisasi adegan porno yang merusak mental anak-anak, serta menjadikan mereka pelaku kekerasan seksual. Sementara orang tua sendiri tidak selamanya berada di dekat anak dan mengontrol gempuran informasi yang dia peroleh, entah itu di sekolah atau luar rumah maupun di rumah sendiri (Check it out: http://www.radarjogja.co.id/component/content/article/2-utama/13436-kebanyakan-meniru-dari-orang-lebih-tua.html ).

Untuk hal ini, Bunda Elly Risman pun memberikan tips. 
"Untuk Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak sekalian, saya bertanya pernahkah sebelum memberikan atau membelikan handphone dan laptop. Bapak dan Ibu memberikan pesan agar anak-anak Ibu dan Bapak berhati-hati terhadap nomer dan informasi yang tidak dikenal? Pesankan pada mereka bahwa semua peralatan komunikasi yang diberikan agar digunakan untuk hal baik dan untuk memudahkan komunikasi antar keluarga dan kebutuhan sekolah mereka saja"

Bunda selalu menekankan pentingnya komunikasi antara orang tua dan anak-anak. "Berapa lama waktu kebersamaan ibu-ibu dan bapak-bapak dengan anak-anak kalian masing dalam sehari?" 
Bunda pun berkeliling dan bertanya pada beberapa peserta. "Empat jam", "Tujuh jam"..ujar mereka.
"Baik empat dan tujuh jam ya? kalo begitu saya gambarkan situasi rumah masing-masing kita"
Bunda pun memperagakan suasana pagi ketika ibu membangunkan anak-anak, suasana teriakan pagi hari seorang ibu yang membangunkan anaknya untuk shalat dan bersiap ke sekolah. Para peserta yang kebanyakan guru dan orang tua SDI Al Azhar 14 pun tertawa memaklumi adegan tersebut juga terjadi di rumah mereka masing-masing. "Kenapa Ibu-Ibu tertawa?Seperti tadi kan kurang lebih suasana pagi di rumah ibu-ibu? Berapa menit kalo dihitung Ibu-Ibu berinteraksi dengan anak-anak? hanya 7 menit Bu. Itu hanya Ibu saja, bagaimana dengan Bapak? Bapak kemana? Tiap pagi Bapak-Bapak itu biasanya duduk baca koran dan minum kopi. Hey, Bapak..saya mohon sekali perhatian kalian dan partisipasi kalian. Negeri ini adalah negeri fatherless...Kami, Para Ibu, membutuhkan peran kalian untuk mendidik seksualitas anak-anak. Karena negeri ini, juga dunia, sedang dibombardir dengan penghancuran anak-anak kita. Dunia sedang menghadapi narkoba, terorisme dan pornografi"
"Tanpa kalian, anak-anak perempuan Kami akan kehilangan sosok pria atau lawan jenis anutan dan jika hal ini terjadi mereka akan mencari sosok pria di luar rumah mereka yang dapat membuat mereka terjerumus pada hal-hal yang tidak kita inginkan, pelecehan seksual dan rendahnya nilai seksualitas mereka"
Bunda pun mencontohkan adegan rumah tangga ketika seorang anak gadis mengenakan pakaian minim ke luar rumah. "Kita ibu-ibu pasti akan berbicara panjang lebar mengomeli anak kita tersebut tapi tidak didengar, coba jika si Bapak yang angkat berbicara 'Ganti. Kalo tidak, tidak boleh keluar!'. Si anak akan ngeloyor kembali ke kamar dan menganti pakaiannya tanpa ada protes sekalipun. Itu kekuatan peran Bapak dalam rumah tangga"

"Coba jika ada seorang bapak berkata seperti ini pada anak gadisnya 'Nak, buah hati kesayangan Ayah. Tolong jaga dirimu dengan baik, nak. Jangan sampe seorang pria pun menyentuhmu dari ujung rambut hingga ujung kaki jika belum waktunya dirimu menikah dan menjadi milik pria tersebut. Kamu harta karun Ayah, nak. Jika ada yang berani menyentuhmu sebelum waktunya, tidak akan Ayah maafkan pria tersebut. Menurut Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak sekalian...apakah ada anak gadis yang mendapatkan ucapan ini akan melakukan seks bebas?", tambahnya.

Oleh karena itu,pentingnya komunikasi orang tua dan anak-anak dalam tiap 30 menit setiap harinya. Berbicara dan ngobrol tentang banyak hal, utamanya aktivitas dan curhatan anak-anak. Tidak hanya berbicara tentang pekerjaan rumah dari sekolah. Bunda Risman pun menekankan perlunya landasan agama dalam mendidik seksualitas anak-anak, tidak meng'ekspor' pengetahuan agama dan tanggungjawab pada guru sekolah dan les. Tentang cara mendidik seksualitas anak-anak dengan landasan agama ini dan menjawab pertanyaan kritis anak-anak tentang seks, insyaallah saya share-kan di lain waktu. BERSAMBUNG......^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar