Kamis, 20 Oktober 2011

Surat Kenangan dari Sheilla Armeillia A

DEAR : Sheilla Armeillia Astigfarani
TO      : Kakaku yang baik, and cantik (kak marisa)


"Ass...kak ini aku Sheilla. aku akan memberikan kenangan untuk kakak sebagai tanda terimakasih, karena kakak telah mengajar kami dengan baik. kakak telah membimbing kami sehingga kami seperti sekarang ini. Orang tuaku juga bilang terima kasih. Cuma ini yang bisa aku berikan untuk akak. Gak apa-apa kan.
Kak sudah dulu yaaa....
Oh...iya jaga kenangan ini dengan baik jangan sampai hilang dan jaga biodataku. Dan satu lagi jaga bintangku (Gemini). Sudah dulu ya kak...daah
Sampai Jumpa
Wassalam


Sheilla


Tadi malam selembar surat yang masih terbungkus rapi di dalam plastik ini melayang dari sela-sela buku yang  jatuh berantakan ketika saya hendak membuka lubang angin jendela kamar kos. Saya pun teringat gadis kecil berambut pendek kelas 6 di SDN 2 Pemali, Bangka, pengirim surat ini. Kalau tidak salah, dia murid baru. Pindahan dari Samarinda. Tak begitu akrab dan kenal dengan teman-temannya. Dan seperti biasa, saya selalu tertarik dengan anak baru. Kenapa bisa begitu? Mungkin karena pengalaman masa kecil saya telah memberikan saya banyak pelajaran. Entah kenapa setiap melihat anak baru di kelas, saya merasa harus berkenalan dan menemaninya. Saya seperti merasakan perasaan gugup dan sulit beradaptasi ala anak baru (maklum waktu SD dan SMP saya dua kali pindah sekolah mengikuti kepindahan tugas dinas bokap). Oleh karena itu, saya pasti akan selalu mendekatinya selama proses 'kegugupan' anak baru tersebut masih ada. Setelah dia mulai pede dan mulai berbaur, biasanya saya tidak terlalu berada di dekatnya lagi (Lha wong wes udah banyak temannya kan?)


Sheilla pun akhirnya mulai pede dan bisa beradaptasi. Saya sering menyapanya di kelas atau mengajak dia dan teman-temannya bermain di luar kelas (biasanya sore hari). Kami menghabiskan waktu bersama dengan bermain permainan tradisional Jawa yang saya bawa ke Bangka waktu KKN UGM 2008 lalu. Dia 'penghubung' saya dengan teman-teman sekelasnya, sengaja saya membuatnya jadi 'penghubung' saya pada teman kelasnya tuk mempermudah proses dia beradaptasi.
Setelah janjian di kelas, biasanya saya sms-an dengan dia untuk konfirmasi waktu bermain bersama. Nanti, dia mengkordinir. Alhasil, kegiatan bermain bersama anak-anak SDN 2 Pemali Bangka di Koulong Biru waktu itu terjadi karenanya.
Ini suasana kelas 6 SDN 2 Pemali Bangka waktu itu


Kalau saya ingat kembali, teman-teman kecil saya di kelas 6 SDN 2 Pemali ini adalah anak-anak yang membuat saya semakin jatuh cinta dengan jurusan saya, Antropologi. Bagaimana tidak jatuh cinta, ketika itu tampak jelas wajah mereka semua yang terkesima dan terpesona ketika mendengarkan cerita saya tentang suku-suku bangsa di Indonesia, khususnya suku bangsa Bugis, Bali, Toraja, Batak, dan Jawa. Dan kalau ingat itu, saya benar-benar rindu berada di depan kelas dan mengajar, khususnya mengajarkan indahnya perbedaan (tentang hal ini, saya mulai membuat surat kecil tentang cerita suku-suku bangsa di Indonesia tuk anak didik teman-teman saya yang menjadi Pengajar Muda di Indonesia Mengajar. Lain kali saya upload deh surat tersebut agar bisa diakses publik, tidak hanya guru-guru tetapi juga teman-teman kecil saya). Selain itu, rindu juga bermain-main dengan teman-teman kecil sembari belajar banyak hal di alam terbuka. Entah itu saya yang belajar dari mereka atau mereka yang saya bagikan pengetahuan yang saya tahu.


Hemm, bagaimana kabar Sheilla sekarang ya? Saya tidak tahu, saya sudah tidak berkomunikasi dengannya tapi surat dan kado kecil darinya masih tersimpan dan saya pergunakan dengan baik dan hati-hati sejak saat itu.
Apa kabarmu sekarang dek Sheilla? Kuharap internet dapat mengubungkan kita lagi. Nomer HP-mu hilang seiring kecerobohan kakak menghilangkan dua kali handphone kakak (satu kali dihilangkan adik, satunya lagi jelas kakak yang menghilangkan ^^v). Dan kakak berharap, namamu yang kakak ketik lengkap ini, suatu waktu dapat mempermudahmu tuk menemukan kakak lagi. Kakak yakin itu pasti kejadian yang tidak disengaja. 


Membaca isi suratnya lagi, saya terheran dengan kalimat "...karena kakak telah mengajar kami dengan baik. kakak telah membimbing kami sehingga kami seperti sekarang ini"
Kok berasa saya tidak pantas mendapatkan ucapan ini? saya kan hanya mengajar di sana selama seminggu. Tidak banyak pengetahuan yang saya bagikan. Pengetahuan yang saya berikan itu pun tak melebihi pengetahuan yang diberikan guru-guru mereka. Tapi, saya anggap pengalaman selama seminggu itu sebagai pengalaman berkesan dalam hidupnya. Dan jika memang benar seperti itu, maka perlu kamu ketahui dek Sheilla, justru pengalaman mengajar seminggu itu salah satu pengalaman terbaik pertama dalam hidup kakak. Kenapa seperti itu? itu karena pengalaman tersebut menjadi momentum bagi kakak tuk mengetahui siapa diri kakak dan apa 'karya' apa yang bisa kakak berikan tuk dunia ini.


Semoga Allah SWT menjadikan kalian pemuda-pemudi Indonesia yang mencintai  indahnya perbedaan, tumbuh menjadi anak kebanggaan orang tua kalian...amiiin3x

Selasa, 27 September 2011

Belajar Baca Bareng Nikita

Cukup lama sekali saya tidak bermain dengan Nikita. Empat hari  lalu akhirnya saya berinteraksi langsung dengannya lagi. Saya mengajaknya membaca buku besar yang saya lihat di dalam garasi kos kami. Siang itu, kami pun akhirnya membaca buku berjudul Keluarga Kelinci dan Buku Raksasa Berjendela. Buku besar sekali yang ingin sekali saya memilikinya. Buku yang cocok sekali untuk mengajak anak-anak belajar membaca dan berhitung, mengenalkan lawan kata dan aktivitas sehari anak-anak. 
Ini buku besar yang benar-benar
membuat saya ingin mengoleksinya
Saya minta Nikita membaca terlebih dahulu. Dia mengeja satu persatu huruf pada paragraf pengantar yang ada di pojok kiri atas halaman. 
"k..e..ke..l..u..lu...r...g..a...ga....keluarga...k..e..ke...l..i..li...n...c..i..ci...kelinci" eja Nikita (lama juga sich mengejanya dan saya pun musti bersabar menanti Nikita untuk menyelesaikan paragraf tersebut)

Selesai membaca bagiannya, saya yang sudah tak sabar langsung membaca nyaring, meminta pada Nikita untuk menyimak bacaan saya dengan baik sebelumnya.Giliran saya membaca selesai. Saya menjelaskan intruksi dari buku tersebut. 
Kemudian, saya memintanya tuk mencari angka 1-10 di balik 'jendela' kecil dan membaca 'kata'dibalik jendela tersebut. Awalnya Nikita begitu bersemangat,tapi dia lelah juga dengan ejaannya yang memakan waktu. Ketika ditanya suatu gambar yang ada, dia bergaya membaca padahal dia hanya menebak saja.
"Hey, dibaca yang benar. Kamu nebak kan? Ayo dibaca baik-baik, Nikita harus latihan dengan keras. Kan sebentar lagi punya adik", ujar saya. Ia pun mendadak bersemangat. Kelar membaca satu topik bacaan di buku tersebut. Kami pun melanjutkan membaca halaman selanjutnya dengan topik berbeda. Dia tampak mulai jenuh beberapa menit kemudian. 

"Wah Nikita udah mulai capek ya? tinggal dikit lagi tu, tinggal dua kata juga. Nanti mbak Marisa kasih kue deh", ujar saya sembari mengambil sekaleng kue Khong Guan yang dibawakan Ibunda saya dari Jember.
Setelah berhasil menyelesaikan, kami pun duduk bersantai di kamar saya. Dia bercerita panjang lebar dan bertanya macam-macam. Saya berusaha menjawab pertanyaannya dengan bahasa yang bisa dia tangkap. Kami mengobrol kecil tentang kematian sembari menikmati kue. 
"Mbak mbak kita kan nanti sudah ndak di sini lagi" ujarnya
"Ndak disini maksudnya apa? Nikita dan semuanya mau pindah?"
"Enggak. Itu lho, kita kan nanti sudah ndak disini lagi, kapan kita ke surganya?"

Awalnya kami membaca
di depan kamar kos saya
Pertanyaannya membuat saya kaget.
"Maksud kamu mati? ya kita ke surga kalo kita semua sudah mati", jawab saya
"Itu kapan ya mbak? masih lama gak ya?"
"Aku tu gak pengen pergi dari sini mbak"
"Waduh mbak marisa ndak tahu kita ke surganya kapan, siapapun ndak tau. Semua orang ndak tau. 
Yang tahu hanya Allah"
"Kalau gitu aku mau nanya ke Allah saja mbak"
"Nah, kalo kamu nanya ke Allah berarti kamu harus shalat dan berdoa"
"Berarti aku musti shalat dan doa dulu ya?"
"Iya dong"
Lalu, kami pindah ke dalam kamar^_^


Percakapan itu cukup membuat saya terbengong dan heran, mengingat saya memperhatikan perkembangan dia selama ini. Tak pernah menyangka nilai agama telah ia terima padahal kedua orangtuanya notabene tidak mengajarkan itu. Usut punya usut, ternyata sang kakak yang mengajarkannya. Malam harinya, ketika mencari Nikita karena saya hendak membatalkan janji kami tuk meneruskan membaca halaman selanjutnya. Sang Ibu memberitahu saya bahwa Nikita sedang shalat bareng sang kakak. Alhamdulillah, doaku dua tahun lalu untuknya terkabulkan. Kelak kamu akan tumbuh menjadi seorang anak shalihah yang akan memberikan warna keindahan pada ayah bundamu Nikita...amiiin3x.

Sabtu, 23 Juli 2011

Mempersempit Mimpi untuk Anak-Anak

Hari ini Hari Anak Nasional di Indonesia.
Saya tidak merayakannya malah mengevaluasi diri sendiri. Ya saya memutuskan untuk mempersempit impian saya untuk anak-anak. Apa pula yg saya maksud dengan mempersempit itu? Dan kenapa malah memutuskan hal ini?

Baiklah saya jawab pertanyaan pertama. Mempersempit impian untuk anak-anak maksudnya saya melepaskan semua keanggotaan relawan saya pada dua komunitas anak yang telah saya ikuti selama tiga tahun ini. Pertama, saya sebagai relawan Museum Anak Kolong Tangga Jogja. Kedua, relawan Komunitas Jendela yang memiliki tagline We are not just building Library. We are building Future.

Apa kabar kalian, teman kecilku di Bangka?

Memang keputusan ini bukanlah keputusan yang mudah mengingat keputusan saya berbuat untuk anak-anak telah terbentuk sejak saya kuliah S1 di Antropologi UGM. Keputusan yang bermula dari pemikiran saya bahwa negeri ini akan menuju ke arah yang lebih baik jika banyak orang lebih peduli pada anak-anak, mendidik dan membentuk karakter mereka. Pembentukan karakter yang dapat saya lakukan dengan membuat sebuah karya berupa buku yang berisi pengenalan pada budaya suku-suku bangsa Indonesia (ini sesuai sekali dengan latarbelakang pendidikan S1 saya^^v), meski proses pembuatan buku ini belum terwujud juga (saya lebih banyak cerita ttg suku-suku tersebut pada anak-anak yang saya temui). Mendidik anak-anak dengan tidak hanya membacakan buku cerita dan membagi pengetahuan yang saya ketahui pada anak-anak di sekitar saya, tetapi juga bergabung menjadi bagian dari 'wadah' yang memiliki fokus pada anak-anak (terkait hal inilah saya dulu memutuskan tuk menjadi relawan Museum Anak Kolong Tangga, membantu tuk mengumpulkan buku bacaan bagi Taman Bacaan Sukmo Elang dan menjadi relawan Komunitas Jendela).

Sekarang, saya memutuskan untuk fokus pada anak-anak masa depan saya. Terlalu fokus dengan kegiatan menjadi relawan dan berbuat untuk anak-anak, saya sampai melupakan kewajiban saya untuk mulai menabung keuangan masa depan. Dan lebih banyak bersyukur dengan rezeki yang cukup untuk makan dan minum sebulan. Egois memang, tapi kalau teringat hasil diskusi dengan seorang teman beberapa waktu lalu agar sekarang saya lebih memikirkan diri sendiri dan jika ingin 'berbuat', lebih baik memulai dari diri sendiri tanpa perlu muluk-muluk ikut 'wadah' idealis. Dia mencontohkan dirinya sendiri yang melepaskan komunitas yang peduli alam, memutuskan untuk 'berbuat' pada alam dengan mendisplinkan diri sendiri dengan menjadi vegetarian saja dan memakai listrik secukupnya. Saya rasa saya pun bisa memutuskan tetap memegang idealisme dengan tetap 'berbuat' meski sekarang tak seluas dahulu kala. Lebih mempersiapkan diri menjadi seorang ibu yang baik untuk anak-anak saya kelak dan mendidik adik dan sodara saya sendiri. Itu saja sudah cukup dan lebih berarti.

Selain itu, alasan pribadi yang sangat membuat saya tak nyaman dan sudah tak ikhlas lagi 'berbuat' untuk anak-anak juga menjadi alasan kuat saya memutuskan hal ini. Tak lain dan tak bukan karena saya sudah mulai tak ikhlas 'berbuat' untuk anak di kedua komunitas tersebut. Suatu alasan yg cukup emosional, hehe. Namun, keputusan sudah saya buat. Sekarang saya lebih disibukan dengan mempersiapkan diri menjadi kakak, sodara bagi adik-adik dan kerabat, serta kelak ibu yang baik untuk anak-anak saya.
Lalu kebiasaan saya mengoleksi buku2 lucu dan menarik untuk anak2 akankah terhenti? tentu saja tidak saya tetap mengoleksi buku-buku cerita yang bagus untuk anak-anak dan membacakannya untuk mereka yang ada di dekat saya.

Sibuk mempersiapkan diri tuk
malaikat kecil saya yang akan
sepintar dan semanis Winnie
Apakah cerita tentang anak-anak di blog ini akan terhenti seiring keputusan yang saya buat? Tentu saja tidak, jika saya memiliki cerita tentang adik atau sodara kecil saya. Saya pasti akan kembali bercerita.

Sampai Jumpa
Maruchan

Sabtu, 14 Mei 2011

Mengenalkan Permainan Tradisional pada Arje dan Abi

Main-main...
Sekarang saya sedang ketagihan bermain dengan anak-anak, karena asyik sekali ternyata bermain dengan mereka (Apakah ini mengindikasikan bahwa masa kecil saya kurang bahagia? hihihihihihi, tidak juga). Hemm, yuk membaca cerita saya bermain permainan tradisional dengan Arje dan Abi di Museum Anak Kolong Tangga!

Masih ingat cerita saya tentang Arje dan Abi, dua kakak beradik dari Jakarta yang 'diculik' Bu Asih dari acara diskusi Opung mereka? Ya, ini cerita mereka yang penasaran dengan permainan tradisional yang dipajang di teras depan Museum Anak Kolong Tangga. Kelar keliling melihat koleksi Museum dan mengisi buku tamu. Saya mengajak Arje dan Abi ke teras depan Museum, terdapat  6 macam permainan tradisional di sana, yakni: angklung, hula hop, dakon, gamelan, panca lele, dan enggrang.

"Sini sini Je Bi...ini ada beberapa maenan tradisional. Kalian pilih saja", saya duduk di antara maenan yang dipajang. Arje tampak bingung, sementara si Abi bergegas mengambil hula hop dan memainkannya. Dia mengambil hula hop yang besar.
"Bukan itu bukan untuk Abi. Ini yang pas untukmu"
Hula hop yang besar saya berikan pada Arje. Arje pun memainkannya. Setelah puas bermain Hula Hop. Arje pun percaya diri dan mulai berani bertanya.
"Oh aku tau ini", ujarnya ketika melihat dakon.
Serius sekali ya dia^^
"Apa namanya?" tanya saya, dengan dia hanya mengelengkan kepala.
"Ini namanya dakon. Bisa main dakon tidak kamu Je?"
Sekali lagi Arje hanya menggelengkan kepala.
"Hemm, kakak juga lupa memainkannya" ujar saya ragu dan takut salah tuk mengajarinya karena saya tidak yakin aturan bermain dakon ala Jawa, sementara saya dulu sering juga bermain dakon ala Sumatra (maklum dulu saya pernah tinggal di Pematang Siantar, Sumatra Utara, selama 5 tahun). Saya pun meminta teman relawan yang sedang asyik duduk di sana, tuk mengajari Arje. Akhirnya Arje pun asyik bermain dakon bersama kakak pengunjung, sementara saya dan Zulfa, yang notabene relawan Museum justru hanya menjadi penonton, hehehe^^v. Cukup lama Arje terlihat asyik bermain dakon hingga akhirnya si Abi yang merasa dicuekin, memberantakan biji-biji sawo milik Arje. Selesai sudah. Tapi, pandangan Arje tertumpu ke sebuah papan kayu yang ada di sana. "Kalau itu permainan apa Kak?"
"Itu Panca Lele, permainan dari Srilanka"
"Main itu yuk Kak" ajaknya polos
Saya hanya nyengir dan merasa tidak enak,"Hehehe...kakak gak bisa mainin tu. Bu Asih yang bisa. Itu lho Ibu yang tadi mengajak kamu ke sini" jelas saya.
"Oooooooooohh" dia tampak kecewa. Kemudian mereka pamit ke bawah. Namun, tak lama kemudian Arje kembali dan berlari menghampiri saya, Zulfa dan Lingga yang masih bersantai di depan teras Museum. "Kak Marisa yang mana?"
"Ya itu kakak. Kenapa?" jawab saya
"Kata Ibu tadi, kak Marisa yang bisa main ... apa itu tadi? Yang ini" ujarnya menunjuk Panca Lele. Ternyata dia masih penasaran juga.
"Wah Ibu Asih salah tu, kakak gak bisa main samasekali. Sebentar kakak tanya teman relawan yang lain" Dan ternyata ada Agus yang bisa memainkan Panca Lele, board games asli Srilanka itu

Arje sedang fokus mendengarkan penjelasan mas Agus
Sementara Agus mengajari Arje bermain Panca Lele, Abi pun saya kenalkan dengan Enggrang (untuk info permainan Indonesia, sila klik: http://mydol.wordpress.com/author/pinkhun/ ). Permainan yang menggunakan bambu berukuran 30-60 cm sebagai pengganti alas kaki itu, saya rasa sangat tepat untuk Abi yang tidak bisa diam^^v. Abi tampak antusias dan bergegas naik dengan semangat.
"Dilepas dulu sepatunya, nanti jatuh kalo pake sepatu". Abi tidak memperdulikan ucapan saya. Dia nekat naek sementara saya dan Kiki menahan galah bambu tersebut agar si Abi tidak jatuh. Karena tidak kuat, saya minta bantuan Agus untuk membantu si Abi.
"Biar kakak yang bermain Panca Lele dengan Arje, tapi Arje ajarin kakak dulu ya!" pinta saya pada  Arje. "Ya, sini Kak!"

Untuk anak yang berusia 6 tahun, cara Arje menjelaskan permainan Panca Lele dengan runut merupakan tanda bahwa anak ini cerdas. Syukurlah Dek, kamu telah bermain ke Museum Anak Kolong Tangga, jadi kelak esok dirimu dan Abi tidak melupakan akar budaya kalian. Meski kita bermain dan berbagi pengetahuan hanya sebentar, tapi kakak yakin pengalaman sejam ini tidak akan kalian lupakan.

Selesai diberi penjelasan, kami pun memulai permainan. Si Arje telah mendahului permainan saya. Langkah kerang kecil Arje lebih dahulu dibandingkan saya. Saya pun nyeletuk "Wah tampaknya kakak kalah nich. Tuh Arje udah mau sampe final"


Liat hasil perbuatan Abi^^v
"Belum Kak. Ini masih ada satu putaran lagi. Kakak gak boleh nyerah dong. Siapa tau malah kakak yang menang" ujarnya menenangkan saya. Sungguh pernyataan yang tak saya sangka akan muncul dari mulut kecilnya. Ya Allah, hilangkan keraguan dan putus asa saya untuk memperjuangkan keindahan masa depan anak-anak kecil seperti Arje dan Abi ini. Pikiran dan hati mereka yang masih murni dan masih bisa dibentuk tuk menjadi insan yang bermanfaat dan berguna untuk bumi ini. Satu langkah kecil Kami, para relawan, yang memang tidak berarti (hanya bermain dan mengenalkan permainan tradisional) tapi  insyaallah memberikan warna indah di dalam kehidupan anak-anak kecil yang berkunjung ke museum dan bermain bersama Kami. Pengalaman menghargai kebudayaan masa lampau dan bermain dengan permainan tradisional yang benar-benar mengasah kemampuan motorik dan kognitif mereka. Pengalaman yang pasti membekas dalam kehidupan mereka dan memberikan pengaruh baik dalam kehidupan..amiin3x.

Senin, 02 Mei 2011

Arje dan Abi, Dua Kakak Adik Gemesin di Museum Anak Kolong Tangga

Minggu, 1 Mei 2011, saya memang berjanji untuk memberikan waktu saya pada Museum. Saya menawarkan diri untuk menjaga museum siang hari hingga sore, menemani Ibu Asih. Salah satu relawan juga menawarkan diri untuk menemani juga. Lumayan jadi ramai. Ternyata siang itu, relawan Divisi Workshop sedang berkumpul untuk mempersiapkan workshop kunjungan pada tanggal 5 Mei ini. Dan kali ini benar-benar ramai.
Tak ada yang berkunjung, saya pun mengeluarkan buku bacaan yang memang saya persiapkan dari kos. Sembari duduk di selasar depan Museum yang dipenuhi maenan, saya pun membaca buku tentang Budaya Perbankan (lumayan menyicil ilmu tuk persiapan S2, hehehe).
Setengah jam berlalu, Ibu Asih yang awalnya pamit untuk shalat, kembali dengan membawa dua anak, tampaknya kakak beradik.
"Siapa Bu?" tanya saya
Arje dan Abi di depan salah satu
Vitrin Boneka 
"Ini mbak, daripada mereka di bawah dengerin sambutan dan acaranya orang dewasa. Ya saya ajak ke sini", ujar Ibu Asih sembari mengajak masuk dua adek kecil ganteng dengan kemeja kotak-kotak itu.

Saya pun beraksi, mari 'mempesona' adek-adek kecil ini dan 'meracuni' mereka dengan permaenan tradisional dan kecintaan pada budaya leluhur.

"Ayoooooooo masuk..kita liat maenan dari seluruh dunia!"
"Nah, itu tu ada maenan dari Jepang. Kalian tahu tidak?"
Si Sulung berhasil dicuri perhatiannya.
"Iyakah ini maenan dari Jepang Kak?"
"Iya, coba deh dilihat"
"Iiiih iya"
"Kalo gitu ada gasing gak Kak?"
"Gasing??? Ada dong..tu di sebelah sana. Tapi itu gasing tradisional"
Si Kakak memang sedang membawa gasing, tapi gasing modern. Sementara si Adik juga berebut ingin bercerita sembari sesekali berlari kesana kemari (gak bisa diem tu anak).
Setelah bercerita banyak hal tentang gasing modern yang dia ketahui. Saya ajak si Sulung yang bernama Arje itu ke vitrin kaca yang berisi koleksi boneka dari Cina, Polandia dan yang lain. Sementara, si Abi yang tidak bisa diam, bersama Ibu Asih. Saya dan Ibu Asih juga bergantian menarik perhatian mereka untuk tetap fokus dengan usaha kami mengenalkan permainan tradisional yang belum mereka kenal.
Arje membaca label Sepatu Suku Hudar
Abi dan Arje antusias sekali ketika melihat koleksi senjata yang ada. Reaksi yang sama juga ditujukan Arje dan Abi ketika saya menunjukan dua alas kaki anak-anak Suku Hudar.

 "Hey, sepatu mereka ini dipakai untuk mencegah agar teman kita di sana tidak jatuh tersandung"
"Hahh? gak jatuh kak?kok bisa dia tidak terjatuh hanya memakai sepatu itu?"tanya Arje kritis.
Sementara Abi kembali berlari setelah ditunjukan koleksi yang ada.
"Hemm..coba Arje baca label yang ada di situ!", saya minta Arje membaca penjelasan yang ada di label.  Selain untuk menjawab keheranannya, secara tidak langsung saya ingin agar dia mengetahui fungsi label-label yang ada di museum dan tidak malas membaca.
"Je Je lihat-lihat ada barongsai di sini" Abi berteriak ketika dia melihat ada boneka Barongsai dan memanggil Arje.
Arje berusaha untuk fokus dengan bacaannya, setelah membaca, dia baru mengikuti langkah si Abi.

Nah, langkah si Arje mengikuti Abi menuju ke Panggung Boneka Dunia.
"Iya ini Barongsai tapi kecil ya?"
"Tapi apa benar itu namanya Barongsai?" tanya saya memancing
"Coba dilihat Je, itu boneka berada di urutan berapa. Kamu lihat kan, ia ada di urutan 2. Sekarang kita lihat label. Apa tulisan yang ada di sana?"
Arje pun kembali membaca label. Dan ketika dia melihat boneka unik yang dia ingin tahu apa itu, dia sudah mengetahui apa yang harus dilakukan.

Dia serius membaca, meski masih terbata-bata
Selesai mengelilingi museum. Arje pun mengisi buku tamu. Dia begitu antusias mengisi semua yang harus diisi, termasuk kesan dan pesan. Walau tulisannya belum sempurna, maklum baru berumur 6 tahun. Ia pun menuliskannya untuk Abi. Setelah ditanya lebih lanjut, dia ternyata bukan anak Jogja, tapi anak Jakarta yang sedang liburan ke Jogja sekaligus menghadiri pertemuan Opung-nya di bawah (Mereka berdua cucu Dr. Herman Siregar, tokoh yang sedang tampil dan pembicara di lantai 1 Taman Budaya waktu itu. Saya pun tak terlalu paham siapa Beliau, mencari di mbah google pun tak ketemu ).

Saya bersyukur sekali setidaknya Arje dan Abi yang notabene anak-anak Ibukota yang memang tidak mengenal permainan tradisional, telah kami kenalkan sedikit tentang kekayaan budaya Indonesia dan Dunia. Semoga menjadi salah satu momen mengesankan dalam hidup kalian Arje dan Abi^^

Minggu, 01 Mei 2011

Bareng Aditya, Dani dan Bagas di Perpus Burung Biru

Akhirnya maen lagi ke Perpustakaan Burung Biru. Perpustakaan yang dikelola oleh Yayasan Dunia Damai-Museum Anak Kolong Tangga Jogja. Rencananya hanya ingin bersilaturahim dengan anak-anak Surokarsan, temu kangen dengan Ipin, Puput, Aditya, dan semua. Plus melihat aksi sulap relawan perpus.
Berhubung anak-anak yang datang sedikit (hanya tiga orang: aditya, bagas, dan dani). Itupun setelah saya dan Dimas menjemput ke rumah mereka. Awalnya hanya ingin menjemput si Ipin tapi karena Ipin lagi gak ada dan maen futsal, Aditya yang melihat kedatangan kami menawarkan diri untuk ikut.
Setelah tiba di perpus, Aditya, Dani dan Bagas langsung masuk ke perpus dan menyatakan keinginan mereka. Bagas dan Dani meminta kertas untuk menggambar dan Adit langsung mengubek-ngubek buku.

Tu si Adit yang sadar kamera banget^^
Saya amati sebentar tingkah mereka, setelah itu  saya tinggal pergi berdiskusi dengan teman saya sembari melihat aktivitas mereka dari jauh. Ada empat relawan yang datang selain saya. Saya dan Winta berdiskusi tentang masa depan Yayasan dan Museum. Sementara Nay dan Primi asyik menonton video film kartun di dalam ruangan perpus. Dimas sendiri sibuk melayani mereka. Kelar diskusi, saya langsung menghambur ke ruangan perpus dan mendekati Aditya yang sedari awal saya lihat mengubek-ngubek buku Ensiklopedia Mini Dunia Kita. "Ah mbak juga mau baca-baca juga...misi misi Dit"

Seperti biasa, saya selalu mengunakan teknik menyuri perhatian mereka dengan nyeletuk sesuatu.
"Hey, Dit liat ini orang darimana ya?" ketika saya buka halaman buku dan ada gambar dua orang asli Afrika. "Afrika mbak?", jawabnya.
"Iya po?" saya buka halaman sebelumnya. "Coba-coba kita cek dulu"
"Itu lho mbak Afrika...tu tu tulisanne", ujarnya menunjuk pada kata-kata Afrika yang ada.
"Hehehe...benar juga"

Saya buka halaman lain, dan menemukan gambar lain lagi, gambar penganut agama Budha sedang melakukan ritual keagamaannya. "Wah kalo ini dari mana ya?"
"Cina mbak", ujarnya
"Sok tau"
"Ye ora percoyo...Cina tu"
"Masa?? sik sik mbak baca dulu ya", Adit pun melanjutkan menonton video kartun yang diputar dan membiarkan saya membaca.
"Ah ini dari Asia kok Dit"
"Lha Cina kan di Asia mbak" ujarnya. Hehehehehhehe...pintar juga nich Adit. Saya pun melanjutkan membuka halaman selanjutnya, ada foto yang mengambarkan suasana sungai yang sekelilingnya padat dengan rumah-rumah. Ada aktivitas lalu lalang perahu. Judul artikel gambar tersebut tentang negara miskin. "Kalo ini dimana Dit?" tanya saya lagi.
"Mana ya mbak?"
"Gak ada penjelasannya je di sini Dit"
"Masa'...sini sini aku yang nyari", ujarnya menarik buku dari tangan saya dan membacanya. Yes, berhasil^^!!

Sejenak dia baca artikel di halaman itu. Setelah membaca, dia menyeletuk, "Gak ada mbak, ini di negara miskin je"

Hehehehehehe...saya hanya manggut-manggut. Ora opo-opo kok Dit, yang penting kamu jadi membaca buku itu. Dan mulai untuk mencintainya^^

Saya pun jadi bersemangat tuk berinteraksi dengan anak-anak dan membuat ikatan dengan mereka. Coz, I really luv u kids. Kan kulakukan apapun agar kalian jadi generasi tangguh.

The next usaha, mari bermain ke Museum Anak Kolong Tangga bersama anak-anak Surokarsan^^.

Foto keluarga bareng Nay, Winta, Dimas, Dani, Adit, Bagas dan Primi

Sabtu, 30 April 2011

Nemenin Cristhopher Menggambar, Pelukis Cilik Jogja

Siang itu, seorang adek cowok gemol yang sedang diminta mengisi buku tamu Pameran Celengan "Simpan Satu Rupiah" yang diadakan oleh Museum Anak Kolong Tangga Jogja di Benteng Vredeburg pada 2010 yang lalu, cukup menyita perhatian saya. Ayahnya memintanya tuk mengisi buku tamu dengan tujuan mengetes kemampuan menulis dan membacanya. Adek cowok itu menulis satu persatu huruf namanya sembari mengeja.....CHRISTHOPHER. Cukup cerewet memang jika melihat celotehannya.

Kelar menulis dan bertanya tentang kapan acara "Menggambar Cerita Komik Celengan", dia langsung berlari mengitari area Pameran. Nah, ketika acara dimulai. Adek gemesin itu langsung bersiap dan duduk lesehan bersama adek-adek kecil lainnya. Saya membantu tim relawan dari UKDW yang masih 'malu-malu' kucing menghadapi anak-anak. Mereka menjelaskan tentang apa yang harus dilakukan adek-adek kecil, mengambar cerita komik celengan dalam versi mereka masing-masing. Christhoper tidak terlalu memperdulikan penjelasan dari kakak-kakak relawan UKDW. Dia langsung ber'aksi' dengan crayon dan kertas putih yang telah kami bagikan. Sementara kedua orang tuanya duduk setia mengamati sang anak. Christhopher pun mencari posisi yang pe-we. Karena kesulitan mengambar dengan duduk akhirnya dia mengambil posisi telungkup dan mulai menggambar.

Melihat aksi menggambarnya, saya pun usil dan bertanya apa yang dia gambar. Cukup satu kali pertanyaan pancingan itu saja, si gemol gemesin ini langsung bercerita sembari menggambar.

"Ini pak dokter....pak dokter akan menjemput pasien yang sakit. Terus ini ini tank ambulance yang njemput pasien...bla bla" jelasnya sembari menggambar semua hal sebebasnya dari persepsi dia. Gambarnya pun tak se-normal anak-anak biasa. Dia benar-benar mengekspresikan dunia-nya.
Setelah mengamati gambar Christhopher, saya merasa familiar dengan bentuk-bentuk gambar dia. Khas gambar pelukis cilik Jogja.

"Ini ambulance-nya jemput pasien...terus terus amare-nya bunyi", celotehnya lagi
"Amare apa Chris?"
"Itu lho...amare amare yang bunyi nguing nguing nguing"
"Itu alarm", ujar ayahanda Chris yang sedari awal menunggu Chris dengan sabar.
"Bukan bukan alarm...itu amare", bantah si Chris
"Oke baiklah amare....lalu apa yang terjadi?", saya mencoba tuk mengikuti kemauan dia agar tidak takut berpendapat dan berekspresi. Dia menjelaskannya dengan antusias meski hasil gambar Chris diluar tema, tapi tak apalah....setidaknya dia telah menginspirasi adek-adek lain dengan keberanian berekspresi dan berani beda. Setelah melihat keseluruhan hasil gambar Chris dan mendengarkan ceritanya tentang gambar tersebut di hadapan adek-adek yang lain. Aku semakin yakin dia adalah Christhopher, pelukis cilik terkenal yang telah menggambar sejak berusia 4 tahun itu.

Selesai menggambar dan menjelaskan, Chris pun berlari pergi. Namun, sang ayah menegurnya dan meminta Chris untuk pamit pada semua orang yang mengikuti acara Menggambar Cerita Komik Celengan plus mengucapkan terimakasih pada masing-masing kakak relawan...pamit dengan menyalami semuanya.

Satu pelajaran penting yang dapat dipetik, sikap orang tua Chris yang tidak memaksa dan selalu mendukung Chris dengan setia duduk menanti sang anak selesai menggambar dari awal hingga akhir merupakan suatu wujud dukungan yang tak ternilai sekali bagi Chris. Sang ayah dan ibunda yang tetap menanamkan kesahajaan dan etika bergaul telah menanamkan kesederhanaan dan moralitas pada Chris sejak kecil, yang mungkin sedikit sekali kita temui dalam diri orang tua yang anak-anaknya tenar.

Yuk, menjadi orang tua yang bersahaja dan mengajarkan nilai-nilai etika yang sudah mulai luntur sekarang ini!

Untuk anak-anak Indonesia yang lebih baik..........

Rabu, 27 April 2011

Pentingnya Dirimu Wahai Ayah-Share pengetahuan dari Seminar "Pede Berbicara Seks pada Anak Anda" part 1

Awalnya, saya kira minggu lalu bakal menjadi momen long weekend yang menyedihkan. Ternyata tidak, malah menjadi momen yang menyenangkan dan penuh dengan cinta plus ilmu pengetahuan: silaturahim dengan ibu guru dan teman SD waktu di Pontianak dulu, temu kangen dengan ayah dan ibu angkat, plus mendatangi seminar "Pede Berbicara Seks pada Anak Anda" 23 April lalu di Semarang. So, let's see apa yang bisa saya bagikan dari pengalaman datang ke seminar keren dengan pembicara Elly Risman, Psi itu!*terlalu banyak ilmu yang saya dapatkan, jadi bingung mulai dari mana*

Apa yang akan Anda jawab ketika anak, adek kecil atau kerabat Anda yang masih anak-anak bertanya seperti ini "Kenapa dedek bayi punya 'itu' ya? Kok beda dengan punyaku?"

Sebelum menjelaskan ini, alangkah lebih baiknya saya memberitahukan perbedaan seks dan seksualitas *seperti yang dijelaskan Bunda Elly Risman*
Seks adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan kelamin; menjadi laki-laki dan perempuan
Seksualitas adalah totalitas pribadi seorang individu tentang apa yang dipercayai, rasakan, pikirkan, dan bagaimana bereaksi; tentang berbudaya, bersosial dan berseksual; tentang tampilan seseorang ketika berdiri, tersenyum, berpakaian, tertawa dan menangis; sesuatu yang menunjukkan siapa diri kita.
(intine seksualitas ini pembentukan tampakan seksual individu. Sikap ketika berinteraksi dengan individu lain, entah dia menjadi genit, tomboy, bersikap normal, dll)

Seminar yang seharusnya didatangi oleh pasangan muda pra nikah^^v
Pertanyaan seperti itu baru sebagian kecil pertanyaan anak-anak tentang seks. Dan itu, bisa dikategorikan pertanyaan sederhana yang biasa saja. Karena Bunda Elly Risman, Psi menunjukan hasil tulisan pertanyaan seorang anak SD (atau SMP ya?) seperti ini: "Berapa kali kita melakukan seks?", "Ngentot itu apaan sich?", dsb
Kenapa bisa muncul pertanyaan seperti itu??

Bunda menjelaskan tentang kehebatan dari perkembangan teknologi informasi yang sekarang telah memberikan akses informasi yang cepat bagi siapapun yang memiliki HP dan laptop dengan koneksi internet. Gempuran informasi yang tidak bisa disaring dengan ketat itu telah merasuki kehidupan anak-anak dan memberikan mereka kemudahan memperoleh informasi dari siapapun dan apapun. Contohnya saja video Luna-Ariel yang ternyata dapat dinikmati juga oleh anak-anak SMP. Bunda menunjukan hasil wawancara video yayasannya yang mewawancarai anak SMP, SMA dan mahasiswa yang menjawab tentang pengalaman pertama kalinya mereka melihat video porno. Apa dampaknya dari menonton video porno sejak kecil? Otak akan mengalami kebuntuan dan dipenuhi dengan visualisasi adegan porno yang merusak mental anak-anak, serta menjadikan mereka pelaku kekerasan seksual. Sementara orang tua sendiri tidak selamanya berada di dekat anak dan mengontrol gempuran informasi yang dia peroleh, entah itu di sekolah atau luar rumah maupun di rumah sendiri (Check it out: http://www.radarjogja.co.id/component/content/article/2-utama/13436-kebanyakan-meniru-dari-orang-lebih-tua.html ).

Untuk hal ini, Bunda Elly Risman pun memberikan tips. 
"Untuk Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak sekalian, saya bertanya pernahkah sebelum memberikan atau membelikan handphone dan laptop. Bapak dan Ibu memberikan pesan agar anak-anak Ibu dan Bapak berhati-hati terhadap nomer dan informasi yang tidak dikenal? Pesankan pada mereka bahwa semua peralatan komunikasi yang diberikan agar digunakan untuk hal baik dan untuk memudahkan komunikasi antar keluarga dan kebutuhan sekolah mereka saja"

Bunda selalu menekankan pentingnya komunikasi antara orang tua dan anak-anak. "Berapa lama waktu kebersamaan ibu-ibu dan bapak-bapak dengan anak-anak kalian masing dalam sehari?" 
Bunda pun berkeliling dan bertanya pada beberapa peserta. "Empat jam", "Tujuh jam"..ujar mereka.
"Baik empat dan tujuh jam ya? kalo begitu saya gambarkan situasi rumah masing-masing kita"
Bunda pun memperagakan suasana pagi ketika ibu membangunkan anak-anak, suasana teriakan pagi hari seorang ibu yang membangunkan anaknya untuk shalat dan bersiap ke sekolah. Para peserta yang kebanyakan guru dan orang tua SDI Al Azhar 14 pun tertawa memaklumi adegan tersebut juga terjadi di rumah mereka masing-masing. "Kenapa Ibu-Ibu tertawa?Seperti tadi kan kurang lebih suasana pagi di rumah ibu-ibu? Berapa menit kalo dihitung Ibu-Ibu berinteraksi dengan anak-anak? hanya 7 menit Bu. Itu hanya Ibu saja, bagaimana dengan Bapak? Bapak kemana? Tiap pagi Bapak-Bapak itu biasanya duduk baca koran dan minum kopi. Hey, Bapak..saya mohon sekali perhatian kalian dan partisipasi kalian. Negeri ini adalah negeri fatherless...Kami, Para Ibu, membutuhkan peran kalian untuk mendidik seksualitas anak-anak. Karena negeri ini, juga dunia, sedang dibombardir dengan penghancuran anak-anak kita. Dunia sedang menghadapi narkoba, terorisme dan pornografi"
"Tanpa kalian, anak-anak perempuan Kami akan kehilangan sosok pria atau lawan jenis anutan dan jika hal ini terjadi mereka akan mencari sosok pria di luar rumah mereka yang dapat membuat mereka terjerumus pada hal-hal yang tidak kita inginkan, pelecehan seksual dan rendahnya nilai seksualitas mereka"
Bunda pun mencontohkan adegan rumah tangga ketika seorang anak gadis mengenakan pakaian minim ke luar rumah. "Kita ibu-ibu pasti akan berbicara panjang lebar mengomeli anak kita tersebut tapi tidak didengar, coba jika si Bapak yang angkat berbicara 'Ganti. Kalo tidak, tidak boleh keluar!'. Si anak akan ngeloyor kembali ke kamar dan menganti pakaiannya tanpa ada protes sekalipun. Itu kekuatan peran Bapak dalam rumah tangga"

"Coba jika ada seorang bapak berkata seperti ini pada anak gadisnya 'Nak, buah hati kesayangan Ayah. Tolong jaga dirimu dengan baik, nak. Jangan sampe seorang pria pun menyentuhmu dari ujung rambut hingga ujung kaki jika belum waktunya dirimu menikah dan menjadi milik pria tersebut. Kamu harta karun Ayah, nak. Jika ada yang berani menyentuhmu sebelum waktunya, tidak akan Ayah maafkan pria tersebut. Menurut Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak sekalian...apakah ada anak gadis yang mendapatkan ucapan ini akan melakukan seks bebas?", tambahnya.

Oleh karena itu,pentingnya komunikasi orang tua dan anak-anak dalam tiap 30 menit setiap harinya. Berbicara dan ngobrol tentang banyak hal, utamanya aktivitas dan curhatan anak-anak. Tidak hanya berbicara tentang pekerjaan rumah dari sekolah. Bunda Risman pun menekankan perlunya landasan agama dalam mendidik seksualitas anak-anak, tidak meng'ekspor' pengetahuan agama dan tanggungjawab pada guru sekolah dan les. Tentang cara mendidik seksualitas anak-anak dengan landasan agama ini dan menjawab pertanyaan kritis anak-anak tentang seks, insyaallah saya share-kan di lain waktu. BERSAMBUNG......^^

Jumat, 15 April 2011

Menjelajahi Misteri Boneka dari Beberapa Negara di Museum Anak Kolong Tangga Yogyakarta



Boneka pada zaman dahulu tak ubahnya seperti mainan lainnya. Pada zaman dahulu, mainan dengan bentuk seperti manusia atau hewan ini memiliki fungsi-fungsi ritual yang memiliki kekuatan gaib dan mistik, seperti upacara keagamaan, upacara pemanggilan roh, penangkal roh jahat dan sebagainya. Oleh karena itu, Museum Anak Kolong Tangga Yogyakarta tahun ini mengeluarkan koleksi mainan boneka dari beberapa negara di dunia.
Beberapa boneka dari beberapa negara
koleksi Museum Anak Kolong Tangga.
Foto : Bagus Bharata Handoko
Salah satu koleksi dari hampir 100 boneka yang dipajang oleh Kurator Museum, Rudi Corens dan tim relawan Divisi Museum Anak Kolong Tangga tahun ini adalah Worry Dolls atau Muñecas quitapenas. Boneka kecil dari Guetemala ini memiliki kisah tersendiri dalam kehidupan anak-anak Guetemala. Untuk menghilangkan rasa kekhawatiran dan ketakutan, sebelum tidur malam anak-anak Guetemala menceritakan kekhawatiran dan ketakutannya. Setelah itu, mereka meletakkan boneka tersebut dibawah bantal tidur mereka. Esok paginya, ketika bangun, boneka tersebut hilang membawa semua kekhawatiran dan ketakutan anak-anak. Selain Worry Dolls, ada Paddle Doll dari Mesir yang merupakan boneka kayu yang memiliki motif geometris di sekujur tubuhnya. Boneka ini ditemukan pada makan anak perempuan Mesir kuno.
Namun, tidak hanya koleksi boneka yang mendominasi koleksi Museum Anak Kolong Tangga tahun ini. Ada beberapa kategori mainan lainnya yang dipajang, yakni: alat transportasi, wayang, game boards, celengan dan sebagainya. Oleh karena itu, acara pembukaan kembali Museum Anak Kolong Tangga dengan koleksi baru akan diadakan pada 18 April 2011 bertempat di Taman Budaya Lantai 2, Jl. Sriwedani no. 1 Yogyakarta. Acara pembukaan yang akan dihadiri oleh Bapak H. Herry Zudianto (Walikota Yogyakarta), Ibu Yulia Rustiyaningsih (Kepala Dinas Pariwisata Seni dan Budaya), GBPH Yudha Ningrat (Direktur Taman Budaya Yogyakarta), Dra. Sri Ediningsih (Kurator Museum Benteng Vrederburg), KRT Thomas Haryonagoro (Ketua BARAHMUS/Badan Musyawarah Musea), Ibu Anggi Minarni (Direktur Karta Pustaka), Tamu Kehormatan Ibu Dyan Anggraini  dan beberapa tamu penting lainnya.
Paddle Doll dari Mesir. 
Acara Pembukaan Museum Anak Kolong Tangga dengan koleksi mainan boneka, wayang, alat transportasi, dan sebagainya ini diharapkan dapat mengisi kekosongan ruang rekreasi dan berkreasi anak-anak Yogyakarta yang telah menunggu pembukaan museum sejak bulan Februari lalu.
Mari berkunjung ke Museum Anak Kolong Tangga Yogyakarta setiap hari Senin-Jumat pukul 09.00-13.00 dan Sabtu-Minggu pukul 09.00-16.00 wib! Gratis untuk anak-anak berusia 6-14 tahun.