Sabtu, 13 Februari 2010

Arena Bermain Mereka

Awal Januari yang lalu, aku mengikuti sebuah penelitian di Jakarta Utara. Selama hampir 10 hari itu, aku blusukan ke desa-desa kecil di Ibukota itu (memangnya ada desa di Jakarta:p?), dan dalam kurun waktu itu, setidaknya aku mampu melihat dengan dekat wajah kota yang menjadi center of interest manusia di seluruh Indonesia. Kota yang menjanjikan segalanya.

Aku telah melihat banyak ragam kehidupan Jakarta dari mulai kehidupan hedonis di mal dan rumah mewah hingga kehidupan yang memiriskan hatiku di pinggir-pinggir kota, tempat2 yang tak layak untuk ditinggali. Dua macam kehidupan yang bertolak belakang itu bersanding saling melengkapi.


Pada tempat-tempat mewah yang dihuni dan dipadati oleh orang berduit dan amat sangat lebih dari kecukupan itu, segala hal tampak indah dan mengagumkan. Anak-anak mereka pun merasakan keindahan masa kecil dengan beraneka ragam bentuk permainan dan hiburan yang beragam. Mereka dapat tumbuh menjadi generasi  kreatif dan pintar namun aku tak yakin akankah mereka akan tumbuh menjadi generasi tangguh dengan mental dan jiwa yang kuat. Mereka dapat bermain di arena bermain yang memanjakan imajinasi mereka dengan warna-warni interior yang ada. Bermain bunging jumping mini, mary  go round, dan buku-buku cerita, dongeng dan pengetahuan dg gambar2 yang menarik dan lucu. Mereka mendapatkan dg mudah itu semua.
Tapi cobalah menengok ke pemukiman yang berada di pinggiran dengan rumah2 yang berdesakan dengan ventilasi yang minim dan kumuh serta polusi udara (bau menyengat dari sungai2 yg tercemar). Anak-anak kecil di sana hidup dari kekurangan. Mereka hidup dengan ketiadaan akan arena bermain yang layak, bermain di pinggir jalan yang dapat sewaktu2 merebut nyawa mereka.
Rumah mereka berdempetan dan berdekatan dengan jalan kecil, sempit dan sering dilewati kendaraan bermotor-utamanya sepeda motor-
Aku selalu dibuat siap siaga kala berjalan di jalan2 kumuh dg lalu lalang kendaraan seramai itu. Tak hanya sepeda motor yang dapat membahayakan mereka ketika asyik bermain di jalan. Jalan kecil dan sempit itupun berkubang dengan air hitam legam yang menggenang. Banyak sampah yang terbuang di parit dan menyumbat aliran air sehingga air kotor pembuangan itu meluber ke jalan. Jalanan pun dapat menjadi sumber ancaman kesehatan anak-anak.
Satu-satunya arena bermain yang berharga dan dapat memuaskan keinginan bermain mereka adalah permainan mandi bola keliling. Arena bermain mandi bola dengan ukuran 3 x 1 m2 itu terbuat dari kotak kayu yang dirancang di atas sepeda motor. Itu permainan termahal dan mungkin membantu untuk menumbuhkan imajinasi mereka karena warna-warni bola yang ada di dalam kotak bermain yang didesain di atas sepeda motor itu.
Selain itu, mereka juga hanya bermain dengan alat bermain sederhana dari lingkungan mereka sendiri, atau bahkan tanpa alat bermain apapun. Mereka bermain kejar-kejaran, memainkan kucing, dan memainkan tanaman. Karena dunia anak-anak hanyalah bermain, meski mereka yang berasal dari kalangan kumuh bermain dengan permainan yang tidak edukatif.
Hemm, melihat dua dunia yang bertolak belakang itu, aku merasa ketidakadilan tapi saat melihat senyum ceria anak-anak yang sama tanpa peduli lingkungannya. Aku hanya bisa tersenyum kecut dan berdoa dalam hati: Semoga orang tua kalian mendidik kalian menjadi manusia tangguh yang bermetal baja, pantang menyerah dan bertanggungjawab. Dan semoga banyak orang yang lebih peduli dengan keindahan masa kecil kalian Wahai Generasi Penerus Bangsa....amiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar