Minggu, 20 Juni 2010

Yuk Berkunjung ke Museum Anak Kolong Tangga Yogyakarta

Hey, hari ini Museum Anak Kolong Tangga Yogyakarta kedatangan siswa-siswi dari beberapa SMP di Yogyakarta. Mereka datang ke Museum dalam rangka Program Aku Cinta Museum yang diadakan oleh Dinas Pariwisata dan Dinas Pendidikan Yogyakarta. Program ini dilaksanakan dengan mengunjungi museum-museum yang ada di Yogyakarta oleh siswa-siswi perwakilan dari sekolah mereka. Ada hampir 50 orang siswa yang datang.


Mereka asyik beristirahat sejenak dan bermain di selasar


Pagi tadi, sekitar pukul 09.45, serombongan siswa bersepeda tiba di Taman Budaya. Meski keringat tampak bercucuran di wajah mereka, mereka tampak antusias sekali mengikuti program ini. Iringan rombongan itu dikawal oleh Polisi Pariwisata dan salah satu pegawai Dinas Pariwisata. Maklum pergi bersama teman-teman saat jam sekolah pasti menyenangkan (pengalaman pribadi ni ceritanya). Berhubung Museum kami belum buka karena Bu Penjaga belum datang. Mereka pun mengunjungi Museum Vrederburg.

Hampir setengah jam, aku, Primi dan Bu Asih menunggu. Para tamu ABG kami belum juga muncul, yang muncul malah tamu-tamu kecil dari SD di Bantul. Kami pun melayani mereka. Dan bagian yang paling kusuka untuk dijelaskan adalah permainan tradisional dari Papua. Kelar kunjungan dadakan dari tamu-tamu kecil itu, beberapa menit kemudian para tamu ABG yang ditunggu datang juga. 


Tu etalase Papua dikerubungi^^


Kebanyakan tamu ABG kami adalah para siswa dengan pakaian seragam SMP-nya. Primi yang aslinya nguantuk puol setelah mengerjakan tugasnya, mendadak jadi bersemangat. Dia menyambut mereka dengan semangat. Salah satu dari enam siswa yang masuk terlebih dahulu itu pun bertanya padanya, "Mbak, sebelum dimulai ada yang mau kutanyakan dulu. Kenapa disebut dengan Kolong Tangga mbak?"
Primi pun menjawab, "Disebut Kolong Tangga ya seperti yang kalian tahu dan lihat. Ruangan ini berada tepat di bawah kolong tangga. Dan kenapa disebut museum anak, karena museum ini menyimpan koleksi permainan tradisional anak-anak". Mereka pun manggut-manggut.

"Baiklah, kalian mau dijelaskan masing-masing bagian atau kalian melihat-lihat sendiri lalu nanti tinggal bertanya pada saya?", tanya Primi. Maklum anak-anak berusia 15 tahun yang berkunjunga dan mereka sudah bisa membaca dan memiliki pengetahuan yang lebih dibanding anak-anak SD atau TK yang pernah berkunjung ke Museum kami. Mereka memilih dijelaskan masing-masing bagian sembari bertanya-tanya koleksi yang menarik yang tertangkap mata mereka. 

Sembari mendokumentasikan momen kunjungan tersebut, aku pun mengawasi tingkah polah tamu ABG kami itu. Maklum terkadang ada aja ulah mereka. Dibilang jangan menyentuh, mereka tetap saja menyentuh bahkan mengangkat koleksi yang berada di luar etalase kaca. 
"Hey dek, jangan disentuh ya" tegurku ketika seorang siswa mengangkat Baby Walker yang ada. "Usia benda itu lebih tua dari usia kalian, rapuh sekali. Jadi jangan disentuh ya! Lagian itu kan ada tulisannya 'Jangan Disentuh'. Kok tetap disentuh?" ujarku.
Mereka hanya nyeletuk, " Iya ni mbak, si Fery belum bisa baca tulis je". "Oh iyakah? kasihan sekali", ujarku berusaha becanda. 

Kelar menegur, aku pun menghampiri seorang siswa yang tertarik melihat etalase dari Papua. 
"Tau gak, tas kecil itu harganya 250ribu lho", ujarku dengan suara keras tuk menarik perhatian yang lain (kali ini kusyukuri suara besarku). Mereka terkejut, dan beberapa siswa pun menghampiri. Mereka bertanya tentang koleksi yang terpajang di dalam etalase itu. Koteka yang menjadi pusat ketertarikan mereka. Dan aku berkata, "Huuf, maafkan mbak. Berhubung mbak cewek. Mbak tidak tahu soal itu, apalagi harganya ya?"


Primi and her fans:P


Selesai memandu kecil seadanya, mereka pun pamit. Bapak Suparman, pegawai Dinas Pariwisata, berkata, "Wah mbak, kami sering mengumpulkan mainan-mainan kreasi anak-anak. Daripada rusak disimpan di gudang, alangkah baiknya jika dkumpulkan ke Museum ini untuk menambah koleksi yang ada"

Hemm, ide yang cemerlang Pak^^

Kira-kira program ini akan berhasil ndak ya? Semoga saja meski butuh proses yang panjang..amiin


NB: Re-post dari FB-ku 12.12 am

Sabtu, 13 Februari 2010

Arena Bermain Mereka

Awal Januari yang lalu, aku mengikuti sebuah penelitian di Jakarta Utara. Selama hampir 10 hari itu, aku blusukan ke desa-desa kecil di Ibukota itu (memangnya ada desa di Jakarta:p?), dan dalam kurun waktu itu, setidaknya aku mampu melihat dengan dekat wajah kota yang menjadi center of interest manusia di seluruh Indonesia. Kota yang menjanjikan segalanya.

Aku telah melihat banyak ragam kehidupan Jakarta dari mulai kehidupan hedonis di mal dan rumah mewah hingga kehidupan yang memiriskan hatiku di pinggir-pinggir kota, tempat2 yang tak layak untuk ditinggali. Dua macam kehidupan yang bertolak belakang itu bersanding saling melengkapi.


Pada tempat-tempat mewah yang dihuni dan dipadati oleh orang berduit dan amat sangat lebih dari kecukupan itu, segala hal tampak indah dan mengagumkan. Anak-anak mereka pun merasakan keindahan masa kecil dengan beraneka ragam bentuk permainan dan hiburan yang beragam. Mereka dapat tumbuh menjadi generasi  kreatif dan pintar namun aku tak yakin akankah mereka akan tumbuh menjadi generasi tangguh dengan mental dan jiwa yang kuat. Mereka dapat bermain di arena bermain yang memanjakan imajinasi mereka dengan warna-warni interior yang ada. Bermain bunging jumping mini, mary  go round, dan buku-buku cerita, dongeng dan pengetahuan dg gambar2 yang menarik dan lucu. Mereka mendapatkan dg mudah itu semua.
Tapi cobalah menengok ke pemukiman yang berada di pinggiran dengan rumah2 yang berdesakan dengan ventilasi yang minim dan kumuh serta polusi udara (bau menyengat dari sungai2 yg tercemar). Anak-anak kecil di sana hidup dari kekurangan. Mereka hidup dengan ketiadaan akan arena bermain yang layak, bermain di pinggir jalan yang dapat sewaktu2 merebut nyawa mereka.
Rumah mereka berdempetan dan berdekatan dengan jalan kecil, sempit dan sering dilewati kendaraan bermotor-utamanya sepeda motor-
Aku selalu dibuat siap siaga kala berjalan di jalan2 kumuh dg lalu lalang kendaraan seramai itu. Tak hanya sepeda motor yang dapat membahayakan mereka ketika asyik bermain di jalan. Jalan kecil dan sempit itupun berkubang dengan air hitam legam yang menggenang. Banyak sampah yang terbuang di parit dan menyumbat aliran air sehingga air kotor pembuangan itu meluber ke jalan. Jalanan pun dapat menjadi sumber ancaman kesehatan anak-anak.
Satu-satunya arena bermain yang berharga dan dapat memuaskan keinginan bermain mereka adalah permainan mandi bola keliling. Arena bermain mandi bola dengan ukuran 3 x 1 m2 itu terbuat dari kotak kayu yang dirancang di atas sepeda motor. Itu permainan termahal dan mungkin membantu untuk menumbuhkan imajinasi mereka karena warna-warni bola yang ada di dalam kotak bermain yang didesain di atas sepeda motor itu.
Selain itu, mereka juga hanya bermain dengan alat bermain sederhana dari lingkungan mereka sendiri, atau bahkan tanpa alat bermain apapun. Mereka bermain kejar-kejaran, memainkan kucing, dan memainkan tanaman. Karena dunia anak-anak hanyalah bermain, meski mereka yang berasal dari kalangan kumuh bermain dengan permainan yang tidak edukatif.
Hemm, melihat dua dunia yang bertolak belakang itu, aku merasa ketidakadilan tapi saat melihat senyum ceria anak-anak yang sama tanpa peduli lingkungannya. Aku hanya bisa tersenyum kecut dan berdoa dalam hati: Semoga orang tua kalian mendidik kalian menjadi manusia tangguh yang bermetal baja, pantang menyerah dan bertanggungjawab. Dan semoga banyak orang yang lebih peduli dengan keindahan masa kecil kalian Wahai Generasi Penerus Bangsa....amiin