Selasa, 15 Desember 2009

Uang Receh untuk Perdamaian, Saatnya untuk Lebih Peduli pada Saudara Muslim Kita

“Aku mendengar beberapa orang berkata orang Amerika jahat. Tapi kami mencintai orang Amerika. Bagi kami, merekalah yang terbaik. Mereka satu-satunya yang peduli untuk menolong kami”
Dulu aku pernah berkata pada seorang teman, “Kenapa harus berjihad ke Palestina, wong yang di Indonesia saja juga masih susah. Bantu saudara muslim yang terdekat dulu baru yang terjauh”. Tapi semua itu berubah ketika aku membaca sebuah buku Amira and Three Cups of Tea. Ketika membaca pernyataan seorang wanita muslim Khasmir yang kukutip di atas itu, aku benar-benar tersentak. Ya Allah, kemana perginya aku dan orang-orang Islam lainnya? Kalo saja aku tidak membaca buku ini takkan kuketahui bahwa ada seorang Amerika berbuat begitu banyak untuk penduduk Muslim di daerah perbatasan Afghanistan, mendirikan sebuah sekolah demi perubahan yang lebih baik di sana. Ia rela menjual harta berharganya, menghemat uang makannya, dan usaha keras lainnya hanya untuk sebuah janji pada penduduk Korphe. Janji yang terucap setelah mengetahui bahwa anak-anak kecil di sana harus belajar di tanah lapang dengan udara dingin yang dapat membekukan mereka. Peralatan belajar mereka pun sederhana sekali, buku tulis mereka adalah papan dan pensilnya adalah ranting yang dicelupkan ke dalam lumpur. Itu kejadian di tahun 1993, dan orang Amerika yang telah berbuat banyak untuk saudara muslim kita di sana itu adalah Greg Mortenson.
Bertahun-tahun waktunya dihabiskan untuk mendirikan sekolah-sekolah di daerah terpencil Pakistan dan perbatasan Afghanistan itu. Dia melakukannya dengan ketulusan hati tanpa misi terselubung apapun. Para mullah dan penduduk setempat membantu misi mulia Greg dengan memberikan tenaga mereka membangun sekolah-sekolah tersebut. Greg pun melibatkan keluarganya menggalang dana untuk anak-anak Pakistan dan Afghanistan itu. Dan yang membuatku berdecak kagum adalah kedua anak Greg, Amira (16) dan Khyber (9) menggalang dana untuk teman-teman mereka di kedua tempat tersebut dengan menjual limun. Greg pun mengkampanyekan Uang Receh untuk Perdamaian (Pennies for Peace) pada anak-anak di sekolah-sekolah Amerika. Ia mengunjungi lebih dari 400 sekolah dari tahun 2006 hingga 2008 untuk menyebarkan pemikiran bahwa perdamaian dapat diperoleh melalui pendidikan. Mereka dapat menyumbangkan uang receh mereka untuk teman-teman mereka yang kurang beruntung di Pakistan dan Afghanistan.
            Aku merasa malu saat membaca buku inspiratif itu. Aku tak begitu banyak berkorban seperti yang dilakukan Greg untuk penduduk Desa Korphe dan desa lain di Pakistan & Afghanistan itu. Usahaku tak sekeras Greg yang mau berjuang untuk orang lain meski dia tak memiliki kemampuan dalam bidang pendidikan dan jaringan orang-orang penting berduit yang siap mendanainya. Dia memulai semua itu dari nol. Dia mau berusaha keras belajar mengetik dan belajar computer hingga akhirnya mengirimkan 530 surat pada orang-orang yang dianggapnya mau untuk membantu misi muliannya itu.
Aku malu benar-benar malu, Kawan. Malu karena berburuk sangka pada orang Amerika atau orang Barat yang hendak berbuat baik. Malu karena banyak mencaci mereka tanpa aku berusaha mencari cara membantu sodara-sodara muslim nun jauh di sana. Malu karena sudah didahului oleh mereka.
Buanglah prasangka buruk yang ada di kepala, kawan. Karena itu hanya akan memberikanmu kerugian. Yakinlah bahwa masih ada benih-benih kebaikan pada sebagian kita tanpa melihat adanya perbedaan yang membatasi. Merekalah orang-orang terbaik yang bekerja dengan ketulusan hati, dan merekalah manusia manusia kiriman-Nya yang akan memberikan keindahan dan perdamaian di dunia ini. Kita pun mampu mengikuti langkah jejak mereka untuk berbuat lebih banyak untuk kebaikan umat dan bumi ini. Ingatlah kebaikan kita untuk siapapun itu meski pada musuh sekalipun tidaklah sia-sia. Allah SWT tidak tidur. Dia Maha Melihat dan Maha Mengetahui apa yang kita kerjakan dan pikirkan, hingga niat baik kita pun sudah terhitung sebagai kebaikan apalagi jika kita mewujudkannya.


Dan ingatlah bahwa dunia yang akan datang akan menjadi lebih baik, jika kita mampu bersikap baik dan berbuat banyak untuk anak-anak di sekitar kita. Menanamkan nilai-nilai keindahan perbedaan yang menunjukan betapa Maha Kuasa Sang Illahi, menjadikan mereka calon generasi tangguh yang mau berkorban untuk kebaikan bumi dan lingkungan sekitarnya, dan terus menyebarkan cinta dan kasih sayang pada semua mahluk.
Mari melakukan sesuatu untuk anak-anak di dunia ini, baik itu yang ada di lingkungan sekitarmu: anak sendiri, adik, keponakan, sepupu, anak tetangga, anak jalanan, ataupun untuk anak-anak tak beruntung di belahan dunia lain. Berikan yang kalian mampu berikan meski itu hanya sekedar mengajarinya membaca, mendampinginya menonton televisi, mengajak mereka bermain, maupun mendengarkan cerita kegiatan mereka di sekolah. Jika ingin melakukan wujud yang benar-benar nyata untuk mereka bergabunglah pada komunitas-komunitas yang fokus pada persoalan anak-anak yang ada di sekitarmu, atau kalo ingin membantu usaha Greg Mortenson untuk saudara muslim kita di Pakistan dan Afghanistan, silahkan bergabung dalam Pennies for Peace: www.penniesforpeace.org atau kunjungi Central Asia Institute di www.ikat.org