Sabtu, 26 September 2009

i'm not a mother

Untuk pertama kalinya, aku mendapatkan seorang keponakan dari sobatku, teman seperjuanganku kala SMA. Menjumpainya dan malaikat mungil yg sedang lelap tidur tadi membuatku merasa...wuff udah tua juga ya aku? Sesi pertemuan sekaligus silaturahim lebaran tadi itupun menjadi sesi konsultasi pendidikan anak, hehehehe.
Aku pun mentransferkan ilmuku ttg anak-anak padanya. Padahal yg sudah berhasil dg sukses mengeluarkan 'malaikat' mungil kan dia, bukan aku. Sobatku itu telah menjadi sebenar-benarnya ibu. Ya aku memang bukanlah seorang ibu, bahkan belum menikah. Tak tau diri juga bercerita ttg mengasuh bayi dan mendidiknya hingga menjadi seorang insan yg terbaik.
Tapi mungkin latarbelakangku sebagai anak tertua dari 4 bersaudara menjadi alasan terkuat yg harus kukemukakan. Sejak kecil, khususnya sejak punya adik, aku sudah dididik mengasuh bayi. Seiring waktu berjalan dan semakin mengerti baca tulis, aku melahap buku-buku milik nyokapku ttg pendidikan anak. Kupraktekkan ilmu itu dg memperhatikan tingkah laku anak-anak dan menerapkan materi pendidikan tersebut pada adik-adikku.Semakin gede-an lagi dan masuk bangku kuliah, sempat mengalami kebingungan dg tujuan hidupku, hingga akhirnya kuputuskan utk berbuat lebih banyak untuk anak-anak dan wanita. Kenapa mereka? kalo anak-anak, tu karena mereka sebagai generasi pengganti, hanya merekalah yg dapat memperbaiki dunia ini dari kerusakan generasi pendahulu. Kenapa wanita? karena wanitalah, manusia yg begitu dekat dg anak-anak. Hanya cara inilah yg kupikir mampu mengembalikan fitrah Illahi manusia di bumi, menjadi rahmat utk semesta alam^^...amiin. (Kalian punya cara lain? hemmm, monggoh berbuat sendiri dg cara terbaik yg kalian yakini)

Balik ke cerita sobatku, kutanyakan bagaimana pengalaman melahirkan. Seperti kebanyakan para ibu yg telah melahirkan, dia menjawab "Antara hidup dan mati". Saat itulah seorang wanita akan mengerti arti seorang ibu, begitu mulianya seorang wanita yg melahirkan dan mendidik anaknya (beruntunglah kalian para wanita^^).
Obrolan kami pun berlanjut dg diskusi mendidik anak, bagaimana pentingnya masa-masa awal sang bayi yg lahir itu hingga 7-8 thn (suatu masa yg menurutku terpenting utk menanamkan nilai-nilai kebaikan, cinta dan kasih sayang), masa perkembangan fisik dan mental serta spiritualnya. Pada  masa-masa awal kelahiran bayi mungilnya ke dunia ini, kuwanti-wanti padanya utk sering memutarkan lantunan ayat-ayat Al Qur'an daripada dentingan lagu kesukaan si nyokap or bokapnya. Trisemester awal kehamilannya, aku sudah memberikan dia sebuah rekaman doa terindah yg kusukai do'a Ahmed Saud
Sekarang tinggal  melanjutkannya dg yg lebih baik lagi, karena pendengaran bayi-lah yg lebih sensitif sebelum indera yg lain. Selain itu, kuminta dia utk memutarkan lagu klasik milik Mozart daripada Bethoven. Kenapa? karya musik agung Mozart akan lebih membentuk pribadi yg riang, ceria dan bersemangat daripada karya Bethoven yg melankolis dan sendu. Teori ini kuterapkan pada diri adik bungsu-ku. Dulu aku sering mendengarkannya musik Bethoven dan alhasil dia jadi manusia melankolis yg terlalu sensitif pada lingkungan sekitarnya.

Selebihnya, aku menjelaskan padanya utk jangan sering berkata tidak, jangan dan kata negatif lainnya ketika si anak sudah mulai mengerti bahasa atau ucapan karena akan mematikan kreativitas dan membuat mereka tidak pede (bisa dibilang aku adalah hasil didikan 'jangan' orang tuaku yang menyebabkan diri ini tumbuh tidak pede dan minder).
"Lha trus piye sa kalo anak kita mau lakukan hal yg berbahaya?moso' gak boleh ngomong jangan" tanyanya kritis.
"Nah itu dia...aku sendiri masih susah juga utk tidak mengucapakn 'jangan' pada anak didikku ato keponakanku".
Lalu, akupun teringat dg aktivitasku di masa lalu ketika menjadi relawan pembersih sungai sebuah lembaga asing di Jogja. Saat itu, Bu Bos lembaga tersebut yg notabene bule membawa anaknya cowok, 5thn, untuk berpartisipasi membersihkan sungai sekitar Kaliurang. Sungguh bocah kecil yg bandel, di sungai yg notabene dekat dg hutan belantara itu. Dia asyik belari kesana kemari tanpa takut jatuh atau tersesat. Si Ibu hanya berkata, "Dekat-dekat saja ya dengan kak A dan kak B" tanpa menambah embelan "Jangan jauh2!" atau kalimat yg bernada negatif. Ucapan seperti itupun dikemukan sang Bunda kala si anak hendak terjun bebas di gundukan tanah yg tingginya 3x tubuh si anak. Bunda berkata, "Hati-hati ya"... Dan si bule kecil yg aku amat sangat lupa namanya itu pun berhati-hati menurunin gundukan tanah tersebut bak spiderman.
Dari situ pun, aku mengambil kesimpulan memang kalimat-kalimat negatif yg membatasi ruang gerak fisik maupun imaji anak-anak harus dihindari agar kreativitasnya tidak mati. Tapi untuk masyarakat kita yg masih memegang teguh aturan jangan untuk mendidik anak-anaknya memang menjad PR besar utk para orang tua Indonesia mencari alternatif lain menumbuhkan kreativitas anaknya. Fuihhh....memang susah dan berat menjadi orang tua.

Berikut ini Do and Do not dalam mendidik anak-anak, dari pengalaman dan pengetahuanku:
1. Don't:
 - menakut-nakuti anak-anak agar bisa diam atau tidak rewel terhadap suatu objek, membuatnya jadi penakut. Dulu aku sering, menakut-nakuti adikku ttg seramnya seorang guru, alhasil dia menjadi sosok yg mengagungkan seorang guru dan takut pada guru daripada orang lain, termasuk ortu-ku
- memukul batu atau benda-benda yg membuat sang anak terjatuh atau kesakitan. Sikap ini menanamkan rasa dendam pada dirinya
- curhat keburukan dan kekurangan orang lain di depan mereka sehingga menanamkan rasa benci dan buruk sangka padanya.

2. Do:
- membacakan cerita-cerita dongeng pada mereka utk meningkatkan daya kreativitasnya dan kemampuan bahasa mereka (menambah pembendaharaan kosakata mereka).
- mengajaknya utk melakukan kegiatan bersama yang menyenangkan, seperti: memasak, bermain teka-teki, mencari ikan di sawah, dsb (pengalaman pribadi yg membuatku merasakan keindahan masa kecil). Hal ini dapat menumbuhkan kebersamaan dan pengakuan diri si anak di dalam keluarga.
- memuji secara apa adanya tanpa berlebihan akan tindakan baik yg dilakukan mereka
- sediakan sesi mendengarkan cerita keseharian mereka untuk menumbuhkan kemampuan berkata-katanya



Hemmm segitu dulu aja deh yang kutahu, pengalaman menjadi orang tua utk adik2ku. Masih banyak yang harus kupelajari sebagai orang tua, apalagi aku belum menjadi orang tua yang sebenarnya, jadi maaf kalo mungkin sok tahu dan mungkin menyinggung hati. Semoga bermanfaat^^