Sabtu, 05 September 2009

Cerita-Cerita Ramadhan: Aku Sayang Abi

Kalimat itu meluncur dengan spontan dari mulut seorang anak tetangga rumah yang diantarkan pulang bokap nyokapku dari rumah kami. Sang ayah langsung memeluk dan menciumnya. Setengah jam sebelumnya dia meraung-raung di rumah karena tak ingin diajak pulang oleh ayah dan ibunya. Dia memang selalu main ke rumahku, dan anak ini benar2 anak yang tidak bisa diam. Susah sekali diberitahu atau bisa dibilang bandel en hiperaktif. Puasa-puasa gini jadi emosi melihat tingkahnya yang tidak bisa duduk diam itu.

Malam kemaren, dia datang lagi ke rumah. Setelah kedua orang tua-ku datang ke rumahnya. Selama di rumah, seperti biasa, dia tak bisa duduk diam. Ingin ini ingin itu. Nah, selama itu pula...nyokapku mengajaknya bicara, menyelidiki kenapa dia tidak betah di rumah. Nyokapku mengatakan padanya, "Yip, abi sayang dengan ayib. Ayib sayang juga kan dengan Abi?".
Dia hanya terdiam dan meneruskan maen. Menjelang jam 9 malam, ayah dan ibu Ayib datang. Sudah berbagai cara mengajaknya pulang, tapi dia berlari ke kamar adekku dan tak mau diajak pulang. Nyokapku berkali bilang, "Ayib gak boleh gitu. Abi sayang sama Ayib. Ayib diajak pulang karena Abi dan Oma khawatir Ayib hilang"
Dia tetap saja tidak mau. Dan adegan itu pun berakhir, setelah nyokapku memutuskan agar anak kecil itu menginap malam ini di rumah kami. Orang tuanya pun akhirnya pasrah, dan menasehatinya agar tidak nakal di rumah kami.

Aku belajar banyak dari peristiwa Ayib bermain ke rumah. Kesabaran nyokapku yang luar biasa terhadap dua anak kecil yang sering main ke rumah, Ayib dan Winnie. Membuatku yakin bahwa mendidik dan merawat seorang anak benar-benar butuh kesabaran yang tinggi, bukan hanya kata dan sikap kita yang harus dijaga tapi emosi kita. Hemmm, ternyata masih banyak yang harus kupelajari dan praktekan dalam menghadapi anak kecil hiperaktif. Jadi inget kemarin waktu jaga di perpus dan ada satu anak kecil perempuan yang hiperaktif dan susah diberitahu. Aku benar2 tidak tahan padanya dan tidak tau harus berkata apa karena dia sudah berhasil dengan sukses menodai dinding lukis milik bos-ku, "Fitri, kan tadi mbak Marisa udah bilang. Jangan melukis itu. Kamu belum boleh. Ayo kembalikan lagi cat-nya!"
Dia mengembalikannya dan sampai jumat kemaren, dia tidak kembali lagi bermain ke perpus.