Rabu, 02 September 2009

Cerita-Cerita Ramadhan: Taraweh Bareng Nikita

Ramadhan ini memang menjadi Ramadhan ke-dua setelah kumantapkan hati pada-Nya. Walau berbeda dengan Ramadhan sebelumnya, Ramadhan kali ini terus terang memang tidak sekhidmat Ramadhan lalu. Tetapi aku berusaha untuk meluruskan niatku dan mengembalikan fokusku pada Illahi. Momen Ramadhan menjadi momen yang dinanti-nanti. Apalagi untuk anak-anak. Momen saat Ramadhan membuat mereka merasakan kebersamaan dengan keluarga. Saat saur, ngabuburit, buka puasa, hingga shalat taraweh.

Teringat ucapan teman di awal Ramadhan ini, "Sa, kok berasanya Ramadhan pas gede ini biasa-biasa aja ya? Beda deh kalo pas kecil dulu, kerasa banget suasanannya".
Ya aku setuju dengannya. Mungkin karena saat kecil kita tidak memiliki tanggungjawab seperti saat dewasa saat ini. Karena itu, saat melihat adek-adek kecil shalat Taraweh. Rasanya jadi mengenang masa lalu.

Suatu hari, menjelang 10 hari kedua Ramadhan, anak dari Penjaga Kos datang menghampiriku dan teman kosku. "Mbak nikita ikut ya shalat di masjid?" tanyanya.
"Nikita mau ikutan shalat Tarawih?" tanyaku memastikan
"Iya" jawabnya polos. Duh Gusti, ujarku dalam hati.
"Hemmm, bener mau ikut? nanti lama lho di masjid, kamu akan capek. Masih mau ikut?" tanyaku lagi.
"He'eh", ujarnya. Setauku anak satu ini keras kepala. So kubiarkan dia ikut, sementara otak berpikir gimana caranya agar pengalaman pertamanya di masjid ini menjadi momen yg menyenangkan.

Sebelum shalat dimulai, Nikita yang kubiarkan duduk diantara aku dan teman kosku itu, sudah kami wanti-wanti agar tidak ribut dan kalo capek duduk aja. Shalat isya berjamaah berhasil dilaluinya dengan baik. Dia menjadi anak baik. Namun shalat Tarawih yang notabene jumlah totalnya 11 rakaat itu membuatnya bosan. Nikita pun berisik dan berceloteh tidak karuan.
Alhasil shalatku pun tak khusyuk karena dia berjoget-joget. Namanya juga anak kecil, mau marah juga gak bisa, mau gak marah juga musti ditegur...Jadi dilema. Aku gagal dan setelah malam itu, dia gak mau shalat lagi bareng aku dan teman2 kos. Tapi masih ada kesempatan lain toh tuk memperbaiki diri dan mengajari gadis mungil itu. Kata-kata juga musti dijaga. Nikita memang sulit dinasehati, tapi musti terus berusaha kan.
Hey........
Mari berhati-hati dalam bersikap dan berkata di dalam keseharian kita, karena kita contoh teladan bagi anak-anak kecil di sekitar kita!


http://www.2muslims.com/cgi-bin/postcards/postcard.cgi?Misc&p=12
Yok berusaha lebih keras lagi utk anak-anak kecil di dunia ini^^.