Senin, 25 Mei 2009

Mereka Laksana Kertas Putih Kosong

Dua minggu ini aku secara intens menjaga balita. Dua minggu bersama Ale, anak dari kakak sepupuku, dan dua hari ini bersama Winnie, anak tetangga yang sering maen ke rumah. Keduanya berumur di bawah lima tahun. Bersama mereka, aku mendapat satu petikan pelajaran hidup.

Bermain dengan Ale dan Winnie. Tidak hanya sekedar bermain tanpa pikir panjang apa dampak dari apa yang kuajarkan pada mereka. Dulu, aku pernah mengajari Ale memukulkan sebuah botol kecil plastik untuk menghasilkn bunyi-bunyian. Beberapa bulan setelah itu, dia pun menjadi kreatif. Dia tidak hanya berhasil membuat bunyi tapi juga berhasil mempelajari cara memukulkan benda-benda ke dinding, kaca dan ke kepala adek bayi. Benar-benar diluar perkiraanku. Maksud hati ingin agar dia kreatif dan menghiburnya dengan bunyi-bunyi yang muncul, aku malah mengajarinya secara tidak langsung sebuah kekerasan.

Mereka memang bagaikan lembaran kertas putih kosong. Calon manusia dewasa yang belum memiliki satu nilai pun tentang hidup ini. Orang-orang dewasa yang berada di sekitarnya-lah yang memberikan, menanamkan dan mencontohkan nilai-nilai itu. Nilai tentang apapun, baik maupun buruk.
Tanamkan nilai-nilai kebaikan pada mereka

Baik dan buruk pun itu relatif. Inilah yang membentuk diri setiap anak dg nilai yang berbeda. Apa yang disebut dalam Antropologi, budaya. Budaya memang bersifat relatif karena terkait dengan suatu nilai yang dipahami dan dimengerti masyarakat. Orang bule yang terbiasa dengan suasana dingin dunia Barat, akan menganggap panas Indonesia sebagai panas yang benar2 panas (Kegemaran mereka memakai pakaian minim yang memperlihatkan aurat-nya tu bukan karena ingin dibilang seksi tapi karena mereka benar2 kepanasan lho). Sementara bagi kita panas yang menurut bule itu panas, bagi kita biasa-biasa saja.

Balik ke anak-anak.
Sebagai orang dewasa memang kita harus berpikir jauh ke depan dan berhati-hati sekali saat bersikap dan bertutur kata, baik itu saat berinteraksi langsung dengan mereka maupun saat berada di sekitar mereka. Ucapan dan perilaku kita benar-benar mempengaruhi nilai-nilai kehidupan mereka kedepannya.

Setelah mengetahui ini, kuketahui bahwa menjadi orang tua itu bukanlah hal yang mudah. So untuk para orang tua, bersikap bijaklah. Saat kita menjadi orang tua adalah saat untuk tidak menjadi egois, saat menjadi diri yang akan dicontoh oleh anak-anak kita. Oleh karena itu, aku pikir sebuah pernikahan sebagai awal dari terbentuknya keluarga menjadi langkah terpenting dalam menghasilkan insan-insan masa depan.
Mereka titipan dan amanah Tuhan untuk kita jaga dan bentuk dengan cara terbaik yang diinginkan-Nya

Suatu langkah agar kita lebih berhati-hati memilih pasangan, bukan karena atas dasar cinta buta. Pernikahan adalah suatu pintu manusia untuk belajar bertanggungjawab, tidak hanya pada diri sendiri, pasangan tapi juga pada seorang anak yang dititipkan-Nya. Pernikahan adalah bentuk lain ibadah pada-Nya.
Jadilah orang tua yang bijak dan bertanggungjawab, tidak hanya pada materi tapi juga emosi dan spiritual anak-anakmu...amiin.

Referensi dan gambar:

http://www.djburnett.com/Pages/WorkshopPage5.htm
http://www.thetechherald.com/article.php/200838/2035/Japan-leads-world-in-broadband-infrastructure-says-report