Senin, 28 September 2009

Winnie...Malaikat Kecilku yg Menyentuh Hati Kami

Dari sekian banyak anak kecil yg kutemui dan bermain ke rumahku. Si mungil imut yg bernama Winnie ini saja yg mampu menggugah hati bokapku. Maklum bokapku adalah manusia terkaku yg kukenal. Kurasa tidak hanya bokapku, seluruh anggota keluarga begitu cinta dan sayang dg malaikat kecil berambut keriting, anak tetanggaku itu. Adik sepupuku yg baru menemuinya sehari aja, udah langsung jatuh hati.

Winnie yg baru berumur 20 bulan lebih itu memang berperawakan kecil dibandingkan anak-anak seumuran dia. Tiga bulan aja dia tak kutemui, tubuhnya tetap mungil seperti itu, sementara keponakanku yg lain ditinggal dua minggu dah lansung gemuk yg menggemaskan. Banyak cerita ttgnya dan aku yakin semua orang akan jatuh cinta sekali melihatnya, dan itu sudah terbukti kok.

Kecil-kecil cabe rawit, suka sekali mengerjai kami dg wajah imutnya utk mendapatkan perhatian kami. Kalo sudah merasa bersalah karena memecahkan gelas atau memainkan air minum, dia akan menangis sekeras-kerasnya agar tidak dimarahi. Kalau sudah mendapatkan yg dia mau, langsung tersenyum nakal. Gemesin banget deh.
Walau tangisan menjadi andalannya untuk mendapatkan yg dia mau, terkadang dia membantu nyokap bersih-bersih. Pernah satu kali setelah kami sekeluarga makan malam, dia dg tubuh mungilnya mendorong kursi makan yg berantakan utk merapikannya. Ya si kecil Winnie perhatian dg kebiasaan kami. Dia akan membuang sampah pada tempatnya, membangunkan adik2ku ketika tidur sewaktu jam shalat, membantuku membersihkan kamar dg kemoceng, dan masih banyak yg lain.

Bokapku yg tak gampang tersentuh hatinya dg hal-hal yg menurutku manis dan mengharukan, mendadak jadi lumer kalo dg si kecil ini. Dan dia satu2nya anak kecil yg pertama kali tidak takut pada bokapku saat pertama kali bertemu. Langsung duduk dan memeluk Beliau dg tangan mungilnya.

Gadis mungil ini anak ke-dua dari 4 saudaranya. Baru 20 bulan umurnya, sang ayah dan bunda sudah memberikannya dua adik kembar.Oleh karena itu, Winnie yg notabene masih butuh banget perhatian orang tuanya harus mengalah dg adik2 barunya itu. Mungkn karena itu, para dokter anak dan pemerhati anak serta psikolog mengharapkan jarak antara satu anak dg yg lain adalah 5 tahun.
Karena merasa perhatian orang tua kurang, Winnie pun iri dan melampiaskan keinginan utk diperhatikan pada keluarga kami yg notabene menyukai anak2, khususnya mama dan adikku . Kamipun sangat senang sekali dg 'boneka' imut satu itu. Kehadirannya memberikan lebih banyak keceriaan pada keluarga kami. Dan dia pun menjadi betah di rumah kami, menginap di rumah dan kalo diajak pulang ke rumahnya dia tak mau, meminta nyokapku utk ikut pulang bersamanya juga (Kalo dipikir sebenarnya Winnie betah di rumah karena nyokapku yg telah membuatnya jatuh cinta). Hingga membuat orang tuanya khawatir jika kelak suatu hari harus pindah dan si mungil itu tak bisa dipisahkan dari keluarga kami. Ada pertemuan dan ada perpisahan. Aku tidak tahu apa keluarga kami mampu  utk berpisah dgnya, tapi Allah SWT selalu memberikan ganti anak-anak mungil lain utk mengisi hari-hari kami di rumah.



Seorang anak memang menjadi pemersatu keluarga ya. Dan bagi orang tua menjadi pelepas lelah dan suntuk selama seharian bekerja dg keceriaan dan keimutannya. Anak memang anugrah terindah yg diberikan Allah SWT. So please...sayangi mereka dg sepenuh hati.

Sabtu, 26 September 2009

i'm not a mother

Untuk pertama kalinya, aku mendapatkan seorang keponakan dari sobatku, teman seperjuanganku kala SMA. Menjumpainya dan malaikat mungil yg sedang lelap tidur tadi membuatku merasa...wuff udah tua juga ya aku? Sesi pertemuan sekaligus silaturahim lebaran tadi itupun menjadi sesi konsultasi pendidikan anak, hehehehe.
Aku pun mentransferkan ilmuku ttg anak-anak padanya. Padahal yg sudah berhasil dg sukses mengeluarkan 'malaikat' mungil kan dia, bukan aku. Sobatku itu telah menjadi sebenar-benarnya ibu. Ya aku memang bukanlah seorang ibu, bahkan belum menikah. Tak tau diri juga bercerita ttg mengasuh bayi dan mendidiknya hingga menjadi seorang insan yg terbaik.
Tapi mungkin latarbelakangku sebagai anak tertua dari 4 bersaudara menjadi alasan terkuat yg harus kukemukakan. Sejak kecil, khususnya sejak punya adik, aku sudah dididik mengasuh bayi. Seiring waktu berjalan dan semakin mengerti baca tulis, aku melahap buku-buku milik nyokapku ttg pendidikan anak. Kupraktekkan ilmu itu dg memperhatikan tingkah laku anak-anak dan menerapkan materi pendidikan tersebut pada adik-adikku.Semakin gede-an lagi dan masuk bangku kuliah, sempat mengalami kebingungan dg tujuan hidupku, hingga akhirnya kuputuskan utk berbuat lebih banyak untuk anak-anak dan wanita. Kenapa mereka? kalo anak-anak, tu karena mereka sebagai generasi pengganti, hanya merekalah yg dapat memperbaiki dunia ini dari kerusakan generasi pendahulu. Kenapa wanita? karena wanitalah, manusia yg begitu dekat dg anak-anak. Hanya cara inilah yg kupikir mampu mengembalikan fitrah Illahi manusia di bumi, menjadi rahmat utk semesta alam^^...amiin. (Kalian punya cara lain? hemmm, monggoh berbuat sendiri dg cara terbaik yg kalian yakini)

Balik ke cerita sobatku, kutanyakan bagaimana pengalaman melahirkan. Seperti kebanyakan para ibu yg telah melahirkan, dia menjawab "Antara hidup dan mati". Saat itulah seorang wanita akan mengerti arti seorang ibu, begitu mulianya seorang wanita yg melahirkan dan mendidik anaknya (beruntunglah kalian para wanita^^).
Obrolan kami pun berlanjut dg diskusi mendidik anak, bagaimana pentingnya masa-masa awal sang bayi yg lahir itu hingga 7-8 thn (suatu masa yg menurutku terpenting utk menanamkan nilai-nilai kebaikan, cinta dan kasih sayang), masa perkembangan fisik dan mental serta spiritualnya. Pada  masa-masa awal kelahiran bayi mungilnya ke dunia ini, kuwanti-wanti padanya utk sering memutarkan lantunan ayat-ayat Al Qur'an daripada dentingan lagu kesukaan si nyokap or bokapnya. Trisemester awal kehamilannya, aku sudah memberikan dia sebuah rekaman doa terindah yg kusukai do'a Ahmed Saud
Sekarang tinggal  melanjutkannya dg yg lebih baik lagi, karena pendengaran bayi-lah yg lebih sensitif sebelum indera yg lain. Selain itu, kuminta dia utk memutarkan lagu klasik milik Mozart daripada Bethoven. Kenapa? karya musik agung Mozart akan lebih membentuk pribadi yg riang, ceria dan bersemangat daripada karya Bethoven yg melankolis dan sendu. Teori ini kuterapkan pada diri adik bungsu-ku. Dulu aku sering mendengarkannya musik Bethoven dan alhasil dia jadi manusia melankolis yg terlalu sensitif pada lingkungan sekitarnya.

Selebihnya, aku menjelaskan padanya utk jangan sering berkata tidak, jangan dan kata negatif lainnya ketika si anak sudah mulai mengerti bahasa atau ucapan karena akan mematikan kreativitas dan membuat mereka tidak pede (bisa dibilang aku adalah hasil didikan 'jangan' orang tuaku yang menyebabkan diri ini tumbuh tidak pede dan minder).
"Lha trus piye sa kalo anak kita mau lakukan hal yg berbahaya?moso' gak boleh ngomong jangan" tanyanya kritis.
"Nah itu dia...aku sendiri masih susah juga utk tidak mengucapakn 'jangan' pada anak didikku ato keponakanku".
Lalu, akupun teringat dg aktivitasku di masa lalu ketika menjadi relawan pembersih sungai sebuah lembaga asing di Jogja. Saat itu, Bu Bos lembaga tersebut yg notabene bule membawa anaknya cowok, 5thn, untuk berpartisipasi membersihkan sungai sekitar Kaliurang. Sungguh bocah kecil yg bandel, di sungai yg notabene dekat dg hutan belantara itu. Dia asyik belari kesana kemari tanpa takut jatuh atau tersesat. Si Ibu hanya berkata, "Dekat-dekat saja ya dengan kak A dan kak B" tanpa menambah embelan "Jangan jauh2!" atau kalimat yg bernada negatif. Ucapan seperti itupun dikemukan sang Bunda kala si anak hendak terjun bebas di gundukan tanah yg tingginya 3x tubuh si anak. Bunda berkata, "Hati-hati ya"... Dan si bule kecil yg aku amat sangat lupa namanya itu pun berhati-hati menurunin gundukan tanah tersebut bak spiderman.
Dari situ pun, aku mengambil kesimpulan memang kalimat-kalimat negatif yg membatasi ruang gerak fisik maupun imaji anak-anak harus dihindari agar kreativitasnya tidak mati. Tapi untuk masyarakat kita yg masih memegang teguh aturan jangan untuk mendidik anak-anaknya memang menjad PR besar utk para orang tua Indonesia mencari alternatif lain menumbuhkan kreativitas anaknya. Fuihhh....memang susah dan berat menjadi orang tua.

Berikut ini Do and Do not dalam mendidik anak-anak, dari pengalaman dan pengetahuanku:
1. Don't:
 - menakut-nakuti anak-anak agar bisa diam atau tidak rewel terhadap suatu objek, membuatnya jadi penakut. Dulu aku sering, menakut-nakuti adikku ttg seramnya seorang guru, alhasil dia menjadi sosok yg mengagungkan seorang guru dan takut pada guru daripada orang lain, termasuk ortu-ku
- memukul batu atau benda-benda yg membuat sang anak terjatuh atau kesakitan. Sikap ini menanamkan rasa dendam pada dirinya
- curhat keburukan dan kekurangan orang lain di depan mereka sehingga menanamkan rasa benci dan buruk sangka padanya.

2. Do:
- membacakan cerita-cerita dongeng pada mereka utk meningkatkan daya kreativitasnya dan kemampuan bahasa mereka (menambah pembendaharaan kosakata mereka).
- mengajaknya utk melakukan kegiatan bersama yang menyenangkan, seperti: memasak, bermain teka-teki, mencari ikan di sawah, dsb (pengalaman pribadi yg membuatku merasakan keindahan masa kecil). Hal ini dapat menumbuhkan kebersamaan dan pengakuan diri si anak di dalam keluarga.
- memuji secara apa adanya tanpa berlebihan akan tindakan baik yg dilakukan mereka
- sediakan sesi mendengarkan cerita keseharian mereka untuk menumbuhkan kemampuan berkata-katanya



Hemmm segitu dulu aja deh yang kutahu, pengalaman menjadi orang tua utk adik2ku. Masih banyak yang harus kupelajari sebagai orang tua, apalagi aku belum menjadi orang tua yang sebenarnya, jadi maaf kalo mungkin sok tahu dan mungkin menyinggung hati. Semoga bermanfaat^^

Selasa, 22 September 2009

Kembali Fitri

Tak ada hal yang dinanti selain ampunan-Nya...
Tak ada yg ingin digapai selain cinta-Nya...

Happy Idul Fitri 1430H

Di awal lembaran baru yang putih ini, hanya doa yg mampu kupanjatkan untuk anak-anak Indonesia dan anak-anak muslim sedunia:


"Semoga Allah SWT menjadikan kalian sebagai generasi tangguh yang mampu mengembalikan fitrah manusia ke bumi, menjadi generasi yg cinta Allah SWT dan Rasul-Nya, dan mewujudkan Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin..."



"Semoga orang-orang tua kalian menjadi orang tua yang bertanggungjawab dan tidak egois, memberikan keindahan hidup dan kenangan terbaik yang penuh cinta dan kehangatan di masa kecil kalian....."

"Amiiiiiiiinnn"


 Mohon Maaf Lahir dan Batin


Peluk Cinta dan Sayangku untuk Kalian
Maruchan

Sabtu, 05 September 2009

Cerita-Cerita Ramadhan: Aku Sayang Abi

Kalimat itu meluncur dengan spontan dari mulut seorang anak tetangga rumah yang diantarkan pulang bokap nyokapku dari rumah kami. Sang ayah langsung memeluk dan menciumnya. Setengah jam sebelumnya dia meraung-raung di rumah karena tak ingin diajak pulang oleh ayah dan ibunya. Dia memang selalu main ke rumahku, dan anak ini benar2 anak yang tidak bisa diam. Susah sekali diberitahu atau bisa dibilang bandel en hiperaktif. Puasa-puasa gini jadi emosi melihat tingkahnya yang tidak bisa duduk diam itu.

Malam kemaren, dia datang lagi ke rumah. Setelah kedua orang tua-ku datang ke rumahnya. Selama di rumah, seperti biasa, dia tak bisa duduk diam. Ingin ini ingin itu. Nah, selama itu pula...nyokapku mengajaknya bicara, menyelidiki kenapa dia tidak betah di rumah. Nyokapku mengatakan padanya, "Yip, abi sayang dengan ayib. Ayib sayang juga kan dengan Abi?".
Dia hanya terdiam dan meneruskan maen. Menjelang jam 9 malam, ayah dan ibu Ayib datang. Sudah berbagai cara mengajaknya pulang, tapi dia berlari ke kamar adekku dan tak mau diajak pulang. Nyokapku berkali bilang, "Ayib gak boleh gitu. Abi sayang sama Ayib. Ayib diajak pulang karena Abi dan Oma khawatir Ayib hilang"
Dia tetap saja tidak mau. Dan adegan itu pun berakhir, setelah nyokapku memutuskan agar anak kecil itu menginap malam ini di rumah kami. Orang tuanya pun akhirnya pasrah, dan menasehatinya agar tidak nakal di rumah kami.

Aku belajar banyak dari peristiwa Ayib bermain ke rumah. Kesabaran nyokapku yang luar biasa terhadap dua anak kecil yang sering main ke rumah, Ayib dan Winnie. Membuatku yakin bahwa mendidik dan merawat seorang anak benar-benar butuh kesabaran yang tinggi, bukan hanya kata dan sikap kita yang harus dijaga tapi emosi kita. Hemmm, ternyata masih banyak yang harus kupelajari dan praktekan dalam menghadapi anak kecil hiperaktif. Jadi inget kemarin waktu jaga di perpus dan ada satu anak kecil perempuan yang hiperaktif dan susah diberitahu. Aku benar2 tidak tahan padanya dan tidak tau harus berkata apa karena dia sudah berhasil dengan sukses menodai dinding lukis milik bos-ku, "Fitri, kan tadi mbak Marisa udah bilang. Jangan melukis itu. Kamu belum boleh. Ayo kembalikan lagi cat-nya!"
Dia mengembalikannya dan sampai jumat kemaren, dia tidak kembali lagi bermain ke perpus.

Rabu, 02 September 2009

Cerita-Cerita Ramadhan: Taraweh Bareng Nikita

Ramadhan ini memang menjadi Ramadhan ke-dua setelah kumantapkan hati pada-Nya. Walau berbeda dengan Ramadhan sebelumnya, Ramadhan kali ini terus terang memang tidak sekhidmat Ramadhan lalu. Tetapi aku berusaha untuk meluruskan niatku dan mengembalikan fokusku pada Illahi. Momen Ramadhan menjadi momen yang dinanti-nanti. Apalagi untuk anak-anak. Momen saat Ramadhan membuat mereka merasakan kebersamaan dengan keluarga. Saat saur, ngabuburit, buka puasa, hingga shalat taraweh.

Teringat ucapan teman di awal Ramadhan ini, "Sa, kok berasanya Ramadhan pas gede ini biasa-biasa aja ya? Beda deh kalo pas kecil dulu, kerasa banget suasanannya".
Ya aku setuju dengannya. Mungkin karena saat kecil kita tidak memiliki tanggungjawab seperti saat dewasa saat ini. Karena itu, saat melihat adek-adek kecil shalat Taraweh. Rasanya jadi mengenang masa lalu.

Suatu hari, menjelang 10 hari kedua Ramadhan, anak dari Penjaga Kos datang menghampiriku dan teman kosku. "Mbak nikita ikut ya shalat di masjid?" tanyanya.
"Nikita mau ikutan shalat Tarawih?" tanyaku memastikan
"Iya" jawabnya polos. Duh Gusti, ujarku dalam hati.
"Hemmm, bener mau ikut? nanti lama lho di masjid, kamu akan capek. Masih mau ikut?" tanyaku lagi.
"He'eh", ujarnya. Setauku anak satu ini keras kepala. So kubiarkan dia ikut, sementara otak berpikir gimana caranya agar pengalaman pertamanya di masjid ini menjadi momen yg menyenangkan.

Sebelum shalat dimulai, Nikita yang kubiarkan duduk diantara aku dan teman kosku itu, sudah kami wanti-wanti agar tidak ribut dan kalo capek duduk aja. Shalat isya berjamaah berhasil dilaluinya dengan baik. Dia menjadi anak baik. Namun shalat Tarawih yang notabene jumlah totalnya 11 rakaat itu membuatnya bosan. Nikita pun berisik dan berceloteh tidak karuan.
Alhasil shalatku pun tak khusyuk karena dia berjoget-joget. Namanya juga anak kecil, mau marah juga gak bisa, mau gak marah juga musti ditegur...Jadi dilema. Aku gagal dan setelah malam itu, dia gak mau shalat lagi bareng aku dan teman2 kos. Tapi masih ada kesempatan lain toh tuk memperbaiki diri dan mengajari gadis mungil itu. Kata-kata juga musti dijaga. Nikita memang sulit dinasehati, tapi musti terus berusaha kan.
Hey........
Mari berhati-hati dalam bersikap dan berkata di dalam keseharian kita, karena kita contoh teladan bagi anak-anak kecil di sekitar kita!


http://www.2muslims.com/cgi-bin/postcards/postcard.cgi?Misc&p=12
Yok berusaha lebih keras lagi utk anak-anak kecil di dunia ini^^.