Kamis, 19 Maret 2009

Cara Unik Menarik Minat Baca

Story telling... Hemm, ni salah satu cara untuk menarik baca anak-anak. Story telling tu teknik bercerita dengan menggunakan kata-kata, gambar, dan suara atau bisa juga menggunakan improvisasi ketiganya. Teknik bercerita ini sudah ada lho sejak bahasa itu sendiri ada(lihat http://en.wikipedia.org/wiki/Storytelling), namun story telling untuk anak-anak lebih baik menggunakan penggambaran atau teknik visual (membantu untuk peningkatan imajinasinya, ex. dengan gambar-gambar menarik, wayang, atau puppet finger). Ide tentang story telling untuk menarik minat baca ini muncul ketika Babe (Bos-ku di Museum) mengajukan alternatif lain memancing minat baca anak-anak. Hal yang kuhindari selama ini pun harus kulakukanT.T...



Tidak ada kata tidak, aku pun menuntut diri untuk membuang semua rasa malu terlihat jelek ;p. Setelah mengkonfirmasi teman-teman untuk datang ke latihan story telling yang dipandu oleh Bu Bridgit. Aku dan Nia sore itu sangat antusias sekali meski awalnya malu-malu kucing. Bu Bridgit meminta kami untuk mendeskripsikan sebuah batu yang dibawa dengan satu kata secara bergiliran, tidak boleh ada yang sama. Hey, awalnya aku heran... apa pula maksud Beliau ini? Setelah kehabisan kata-kata, sesi 'mengimajinasikan' batu tersebut pun selesai. Bu Bridgit menjelaskan bahwa apa yang dilakukan kami saat itu menunjukan bahwa dunia imajinasi itu sangat luas dan kita akan tahu bahwa setiap orang punya daya imajinasi sendiri tentang sesuatu hal yang ada dalam dirinya. Begitu pula imajinasi anak-anak.
Setelah itu, Bu Bridgit menyuruh kami membacakan sebuah cerita pendek. Setelah melihat teknik kami bercerita, Beliau pun memberitahukan kekurangan dari teknik penceritaan kami kemudian menulari kami dengan teknik berceritanya. Berikut ini tips dari Beliau:
1. Ketahui terlebih dahulu isi cerita dari buku-buku cerita yang ada dan sesuaikan isi cerita dengan usia anak-anak
2. Gunakan ekspresi wajah, gesture (bahasa tubuh), dan suara
2. Perlihatkan emosi dari tokoh yang diceritakan dengan ekspresi wajah dan naik turun nada suara (intonasi)
4. Berceritalah dengan santai, jangan terburu-buru (Perhatikan spasi!)
5. Gunakan improvisasi cerita apabila cerita terlalu panjang
6. Sound effect dapat mendukung cerita sehingga semakin menarik perhatian anak-anak
7. Kontak mata dengan anak-anak perlu dilakukan, jangan asyik sendiri dengan buku ceritanya
8. Berinteraktiflah dengan anak-anak. Tanyakan apakah mereka paham isi cerita? atau tanyakan pendapat mereka tentang gambar atau sikap tokoh yang ada di cerita, serta dapat pula tanyakan pendapat mereka tentang ending cerita versi mereka ditengah-tengah cerita.
9. Hindari cerita kekerasan

Referensi :

Senin, 02 Maret 2009

Menarik Perhatiannya

Gampang-gampang susah menarik perhatian anak-anak. Apalagi menarik minat mereka pada buku ato mengajak mereka menonton film keluarga. Namanya juga anak-anak, hanya ada satu kata di otak mereka, "Main..main...main. Ayo main, Kak!"

Alhasil aku pun harus mengemas kegiatan program perpus dengan konsep bermain dan belajar. Program utama perpus Burung Biru (salah satu divisi Yayasan Dunia Damai, Museum Kolong Tangga Yogyakarta) yang berusaha membuat anak-anak untuk menyukai 'membaca' pun harus kami imbangi dengan workshop yang dicampuri dengan kegiatan main-main dengan anak-anak agar tidak bosan.
Aku pun berpikir keras selama berhari-hari. Berpikir tentang mereka (Panji, Dito, Beno, dan anak-anak lainnya) agar bisa duduk diam (walau hanya 10 menit) membaca buku.
Sore itu, saat kami membuat workshop tentang topeng, hanya ada 3 anak yang datang. Nana, partnerku, sudah memulai kegiatan (Aku datang telat sore itu). Topeng milik Panji sudah hampir selesai ketika dia mendadak putus asa melubangi mata topengnya, "Susah je mbak!"
Nana sengaja meletakkan tiga buku di atas tikar yang kami duduki sore itu. Aku membuka salah satu buku tentang ensiklopedia alam itu. Saat asyik membuka salah satu lembar halaman yang sedang membahas tentang kulit, aku pun berceletuk, "Wah, ternyata kayak gini toh kulit kita!"
Celetukanku pun menarik perhatian mereka. Mereka menghampiriku dan melihat isi buku.
Aku pun menunjukan gambar kulit yang ada di situ, lalu menjelaskan pada mereka tentang serba-serbi tentang kulit yang pernah kupelajari waktu SMA dulu. Mereka hanya manggut-manggut. Beberapa pertanyaan kecil pun keluar dari mulut mungil mereka.
Hey, walau kejadian itu berlangsung singkat dan mereka tidak langsung mau membaca, setidaknya aku tau bagaimana memancing perhatian mereka (belum belajar mempertahankan perhatian mereka^^v).
Kesimpulanku saat ini adalah berdirilah sama tinggi dengan mereka, jangan anggap mereka sebagai anak kecil tapi kawan, dan gunakan metode interaktif bukan menyeramahi.

Hemmm, segini dulu deh cerita pengalamanku dengan mereka, sebagian kecil anak-anak Indonesia.