Selasa, 15 Desember 2009

Uang Receh untuk Perdamaian, Saatnya untuk Lebih Peduli pada Saudara Muslim Kita

“Aku mendengar beberapa orang berkata orang Amerika jahat. Tapi kami mencintai orang Amerika. Bagi kami, merekalah yang terbaik. Mereka satu-satunya yang peduli untuk menolong kami”
Dulu aku pernah berkata pada seorang teman, “Kenapa harus berjihad ke Palestina, wong yang di Indonesia saja juga masih susah. Bantu saudara muslim yang terdekat dulu baru yang terjauh”. Tapi semua itu berubah ketika aku membaca sebuah buku Amira and Three Cups of Tea. Ketika membaca pernyataan seorang wanita muslim Khasmir yang kukutip di atas itu, aku benar-benar tersentak. Ya Allah, kemana perginya aku dan orang-orang Islam lainnya? Kalo saja aku tidak membaca buku ini takkan kuketahui bahwa ada seorang Amerika berbuat begitu banyak untuk penduduk Muslim di daerah perbatasan Afghanistan, mendirikan sebuah sekolah demi perubahan yang lebih baik di sana. Ia rela menjual harta berharganya, menghemat uang makannya, dan usaha keras lainnya hanya untuk sebuah janji pada penduduk Korphe. Janji yang terucap setelah mengetahui bahwa anak-anak kecil di sana harus belajar di tanah lapang dengan udara dingin yang dapat membekukan mereka. Peralatan belajar mereka pun sederhana sekali, buku tulis mereka adalah papan dan pensilnya adalah ranting yang dicelupkan ke dalam lumpur. Itu kejadian di tahun 1993, dan orang Amerika yang telah berbuat banyak untuk saudara muslim kita di sana itu adalah Greg Mortenson.
Bertahun-tahun waktunya dihabiskan untuk mendirikan sekolah-sekolah di daerah terpencil Pakistan dan perbatasan Afghanistan itu. Dia melakukannya dengan ketulusan hati tanpa misi terselubung apapun. Para mullah dan penduduk setempat membantu misi mulia Greg dengan memberikan tenaga mereka membangun sekolah-sekolah tersebut. Greg pun melibatkan keluarganya menggalang dana untuk anak-anak Pakistan dan Afghanistan itu. Dan yang membuatku berdecak kagum adalah kedua anak Greg, Amira (16) dan Khyber (9) menggalang dana untuk teman-teman mereka di kedua tempat tersebut dengan menjual limun. Greg pun mengkampanyekan Uang Receh untuk Perdamaian (Pennies for Peace) pada anak-anak di sekolah-sekolah Amerika. Ia mengunjungi lebih dari 400 sekolah dari tahun 2006 hingga 2008 untuk menyebarkan pemikiran bahwa perdamaian dapat diperoleh melalui pendidikan. Mereka dapat menyumbangkan uang receh mereka untuk teman-teman mereka yang kurang beruntung di Pakistan dan Afghanistan.
            Aku merasa malu saat membaca buku inspiratif itu. Aku tak begitu banyak berkorban seperti yang dilakukan Greg untuk penduduk Desa Korphe dan desa lain di Pakistan & Afghanistan itu. Usahaku tak sekeras Greg yang mau berjuang untuk orang lain meski dia tak memiliki kemampuan dalam bidang pendidikan dan jaringan orang-orang penting berduit yang siap mendanainya. Dia memulai semua itu dari nol. Dia mau berusaha keras belajar mengetik dan belajar computer hingga akhirnya mengirimkan 530 surat pada orang-orang yang dianggapnya mau untuk membantu misi muliannya itu.
Aku malu benar-benar malu, Kawan. Malu karena berburuk sangka pada orang Amerika atau orang Barat yang hendak berbuat baik. Malu karena banyak mencaci mereka tanpa aku berusaha mencari cara membantu sodara-sodara muslim nun jauh di sana. Malu karena sudah didahului oleh mereka.
Buanglah prasangka buruk yang ada di kepala, kawan. Karena itu hanya akan memberikanmu kerugian. Yakinlah bahwa masih ada benih-benih kebaikan pada sebagian kita tanpa melihat adanya perbedaan yang membatasi. Merekalah orang-orang terbaik yang bekerja dengan ketulusan hati, dan merekalah manusia manusia kiriman-Nya yang akan memberikan keindahan dan perdamaian di dunia ini. Kita pun mampu mengikuti langkah jejak mereka untuk berbuat lebih banyak untuk kebaikan umat dan bumi ini. Ingatlah kebaikan kita untuk siapapun itu meski pada musuh sekalipun tidaklah sia-sia. Allah SWT tidak tidur. Dia Maha Melihat dan Maha Mengetahui apa yang kita kerjakan dan pikirkan, hingga niat baik kita pun sudah terhitung sebagai kebaikan apalagi jika kita mewujudkannya.


Dan ingatlah bahwa dunia yang akan datang akan menjadi lebih baik, jika kita mampu bersikap baik dan berbuat banyak untuk anak-anak di sekitar kita. Menanamkan nilai-nilai keindahan perbedaan yang menunjukan betapa Maha Kuasa Sang Illahi, menjadikan mereka calon generasi tangguh yang mau berkorban untuk kebaikan bumi dan lingkungan sekitarnya, dan terus menyebarkan cinta dan kasih sayang pada semua mahluk.
Mari melakukan sesuatu untuk anak-anak di dunia ini, baik itu yang ada di lingkungan sekitarmu: anak sendiri, adik, keponakan, sepupu, anak tetangga, anak jalanan, ataupun untuk anak-anak tak beruntung di belahan dunia lain. Berikan yang kalian mampu berikan meski itu hanya sekedar mengajarinya membaca, mendampinginya menonton televisi, mengajak mereka bermain, maupun mendengarkan cerita kegiatan mereka di sekolah. Jika ingin melakukan wujud yang benar-benar nyata untuk mereka bergabunglah pada komunitas-komunitas yang fokus pada persoalan anak-anak yang ada di sekitarmu, atau kalo ingin membantu usaha Greg Mortenson untuk saudara muslim kita di Pakistan dan Afghanistan, silahkan bergabung dalam Pennies for Peace: www.penniesforpeace.org atau kunjungi Central Asia Institute di www.ikat.org

Minggu, 22 November 2009

Buku Jendela Dunia

Bagaimana menumbuhkan minat baca pada adek2 kecil di sekitar kita? Wah itu bukan hal mudah, sulit dan butuh kesabaran tinggi utk memulainya. Kalo bukan demi suatu tujuan hidupku dan janji di hati, aku takkan mau menghadapi anak-anak kecil cerewet yg pasti membuat 'kepala' pecah kala lagi stress. Selasa sore itu salah satunya.


Aku bersama temanku Andiena Agustin seperti biasa menjaga perpustakaan, Rumah Baca Burung Biru. Sembilan anak-anak Surokarsan datang ke Rumah Baca Bubi. Mereka antusias sekali datang ke RuBa Bubi, kenapa? bukan karena hendak membaca buku lho, tapi untuk melihat sulap (Two thumbs deh buat mbak Andien yg bisa menarik anak2 kecil datang maen ke RuBa Bubi setelah dua bulan vakum dan sebelumnya hanya ada 2 sampe 3 anak yg datang). Ya permainan kami jadikan salah satu daya tarik, karena setau dan sepengalaman kami, hanya ada satu hal di kepala anak-anak berumur 6-13 tahun itu.."Maen, maen, maen dan maen yuk Kak^^".

They luv it
Tujuan utama menumbuhkan minat baca mereka terpaksa di-nomer sekian-kan tapi dengan tetap menyelipkan pesan bahwa membaca buku itu akan memberikan mereka banyak pengetahuan dan manfaat. Buku adalah Jendela Dunia.
Mbak Andien telat sekali datangnya, dan saat itu ada dua anak yg datang (Dua anak caper bgt, tipe anak kecil yg tak kusuka). Hemm...untung hari ini hatiku buaik banget dek, kalo gak aku akan ketus sekali lagi pada kalian. Kuajak mereka masuk dan membiarkan mereka menghabiskan es krim yg mereka beli. Setelah itu mereka mencuci tangan-syarat masuk dan boleh baca di perpus- utk bisa dapat masuk ke RuBa Bubi. Bukan buku yg diambil, tapi mainan balok kayu. Ya sudahlah terserah kalian, aku pun mengambil buku cerita kesukaanku. Lalu , aku menyeletuk 'Eh tau gak ini buku cerita dari Meksiko lho? Tau Meksiko di mana?"
Salah satu dari mereka, Mitra menjawab, "Gak tau kak"
"Itu lho daerah sekitar Amerika sana", jelasku
Setelah itu aku pun membaca buku cerita Matahari itu dengan suara nyaring. Puput mendadak berhenti maen dan melihatku membaca, lalu dia mengambil buku lain utk dibaca dan diliat sendiri. Aku terus saja membaca nyaring meski mereka tak mempedulikan aku. Terkadang aku nyeletuk dan mengajak mereka bicara, Mitra yg suka menjawabnya.
Mereka masih cuek juga sich sampe aku selesai membaca buku cerita tersebut. Tapi tak apalah yg penting, mereka bermain sembari mendengarkan. Selesai bercerita, kucari lagi buku cerita yg hampir mirip buku Matahari, dan kutemukan buku cerita dari India, Dorari. Lalu aku bertanya, "Yok kita baca buku cerita bergantian. Ayok Put Mit?"
Mitra menyeletuk, 'Wah Puput ora iso moco mbak?". Dia pun kemudian tertarik mengambil sebuah buku.
"Oya..hemmm, kalo gitu kita berdua aja baca buku ini. Gantian", ujarku meminta Mitra membaca buku yg diambilnya bersamaku utk membuktikan bahwa dia benar2 pintar membaca dari Puput ato tidak.
Hey berhasil..dia mau membaca buku itu. Namun, 10 menit kemudian mbak Andien datang. Puput dan Mitra pun berhamburan keluar, menyambut mbak Andien. Puput sesegera mungkin memanggil teman2nya yg lain.
i.

She's adorable
Mbak Andien meminta maaf karena datang terlambat dan menceritakan alasannya, dia abis keliling mencari balon utk acara sulapnya meski hasilnya nihil. Puput dan Mitra pun kecewa. Lalu, mbak Andien meminta maaf karena tak dapat menepati janji. Kemudian dia menjelaskan bahwa dipertemuan besok, Jumat, dia ingin mengajak eksperimen melihat kadar tanah rumah mereka. Dan mereka antusias.
Aku bercerita ke mbak Andien, bahwa satu2nya alasan mereka datang karena mereka hendak melihat sulap. Mbak Andien pun merasa bersalah dan dia meminta salah satu anak, Ipin, membeli balon di sekitar Surokarsan. Alhamdulillah dapat...Sulap pun dimulai

Tumben anteng???

Kami memulai sulap dg balon yg ditusuk jarum pentul tapi bisa tidak pecah. Ternyata salah satu anak sudah tau trik tersebut. Alhasil sulap balon mbak Andien gagal, balon pecah. Untung ada sulap lain, sulap berdasarkan sains.

Tiup ya gede Di^^

Sebuah lilin dipasang di piring, diberi airdan kemudian dinyalakan. Kemudian, mbak Andien menjelaskan, "Sulap itu sebenarnya bisa dipelajari dan kalian bisa tahu itu melalui buku, seperti contoh yg satu ini"
Mbak Andien menutup lilin yg menyala itu dg sebuah gelas. Air yg mengelilingi lilin pun akhirnya naik di dalam gelas. Anak-anak takjub. Mereka pun bergegas mendekat. Mbak Andien pun menjelaskan kenapa hal itu terjadi? Meski tampak sekali mereka tak peduli alasan dg istilah yg njelimet itu.

Takjub kan?

Setelah menjelaskan tersebut, anak2 diminta duduk kembali. Dan mbak Andien menjelaskan bahwa sulap yg barusan diperoleh dari sebuah buku, buku SAINS yg ada di perpus. Ipin segera ke dalam ruangan baca, dan mengambil sebuah buku. Kemudian anak2 minta mencoba satu-persatu sulap terakhir itu. Dan mereka ber-HOM PIM PA ria utk mengantri.
Rencana kedua dan dadakan itu pun berhasil. Kami sudah sedikit demi sedikit men-doktrin mereka. Memang baru awal dan belum tentu mereka akan langsung suka membaca. Tapi aku yakin, mereka menyimpan kejadian biasa dan tak begitu berarti ini menjadi pengalaman berharga kelak di masa depan mereka nanti. Ini adalah langkah awal dari perjalanan yg panjang kami utk menumbuhkan minat baca anak-anak kecil di sekitar kami. Tak terlalu berarti tapi segala cara akan kami lakukan, walau harus dicuekin, bercerita dg mimik muka jelek, bikin marah dg tingkah laku bandel mereka, kecapean, suara juga bisa habis karena

HOM PIM PA ...

harus berbicara berulang, tapi ini jalan yg kami tempuh. Dan semoga yg membaca notes ini, siapapun itu, juga memulai menanamkan minat baca adek-adek dan anak-anak kecil di sekitar kita, baik itu anak sendiri, saudara, keponakan, anak tetangga atau anak mana aja deh yg bisa diajak utk mengetahui manfaat banyak dari sebuah buku. Buku adalah Jendela Dunia.

maka bacalah buku dek^^

Semoga bermanfaat^^

NB: Utk kawan di Museum Anak Kolong Tangga. Ini laporan kerjaku. Semangat Semua^^

Jumat, 02 Oktober 2009

Ayoooo ngeramein PEKAN SENI ANAK 2009 @Yogyakarta

Hai-hai semua...aku baru aja dapat info tentang kegiatan untuk anak2. Yok ikutan untuk meramaikan. 
Hemmm..anak-anak perpus mau gak ya diajak ikutan?





PEKAN SENI ANAK 2009 akan berlangsung hingga 8-14 November 2009, bertempat di Taman Budaya Yogyakarta. Seperti pelaksanaan tahun sebelumnya, Pekan seni yang dikhusukan untuk pengembangan seni bagi anak-anak ini akan menampailkan beragam kegiatan, antara lain; pameran seni rupa, bursa buku, pameran mainan anak, pemutaran film anak, workshop melukis, seminar nasional, workshop teater-seni rupa, dongeng anak, dan pentas anak.
PEKAN SENI ANAK 2009 mengambil tema; dunia permainan anak-anak sebagai wahana menciptakan ruang imaji dan pengembangan diri anak-anak. Semua kegiatan dirancang untuk mengembangkan imajinasi dan pengembangan diri bakat dan potensi anak-anak.
PEKAN SENI ANAK 2009 menawarkan ruang bagi anda (komunitas anak-anak anda) untuk menampilkan karya dan kreativitas anak-anak yang anda pimpin/dampingan, khusunya berupa karya yang menampilkan kreasoi anak-anak yang bisa ditampilkan dalam panggung kreativitas yang akan kami suguhkan kepada seluruh pengunjung PEKAN SENI ANAK-ANAK 2009 nanti. Panitya akan menyediakan fasilitas panggung, sound system, tata lampu, dan konsumsi.
Jika anda tertarik silahkan mengajukan permohonan kepada panitya (dengan alamat Kantor Taman Budaya Yogyakarta), dan berikutnya panitya akan menyeleksinya, jika kelompok anda terpilih akan kami beritahukan melalui telfon/surat.

PEKAN SENI ANAK 2009 akan berlangsung hingga 8-14 November 2009, bertempat di Taman Budaya Yogyakarta. Seperti pelaksanaan tahun sebelumnya, Pekan seni yang dikhusukan untuk pengembangan seni bagi anak-anak ini akan menampailkan beragam kegiatan, antara lain; pameran seni rupa, bursa buku, pameran mainan anak, pemutaran film anak, workshop melukis, seminar nasional, workshop teater-seni rupa, dongeng anak, dan pentas anak.
PEKAN SENI ANAK 2009 mengambil tema; dunia permainan anak-anak sebagai wahana menciptakan ruang imaji dan pengembangan diri anak-anak. Semua kegiatan dirancang untuk mengembangkan imajinasi dan pengembangan diri bakat dan potensi anak-anak.
PEKAN SENI ANAK 2009 menawarkan ruang bagi anda (komunitas anak-anak anda) untuk menampilkan karya dan kreativitas anak-anak yang anda pimpin/dampingan, khusunya berupa karya yang menampilkan kreasoi anak-anak yang bisa ditampilkan dalam panggung kreativitas yang akan kami suguhkan kepada seluruh pengunjung PEKAN SENI ANAK-ANAK 2009 nanti. Panitya akan menyediakan fasilitas panggung, sound system, tata lampu, dan konsumsi.
Jika anda tertarik silahkan mengajukan permohonan kepada panitya (dengan alamat Kantor Taman Budaya Yogyakarta), dan berikutnya panitya akan menyeleksinya, jika kelompok anda terpilih akan kami beritahukan melalui telfon/surat.



Informasi mengenai Acara ini lebih lanjut, silakan menghubungi: 
Ibu Eka – 08170419881
Eko Nuryono 081904138595

Note: Info dari FB Jemek Supardi, Note tertanggal 2 Oktober 2009 07.05 am

Senin, 28 September 2009

Winnie...Malaikat Kecilku yg Menyentuh Hati Kami

Dari sekian banyak anak kecil yg kutemui dan bermain ke rumahku. Si mungil imut yg bernama Winnie ini saja yg mampu menggugah hati bokapku. Maklum bokapku adalah manusia terkaku yg kukenal. Kurasa tidak hanya bokapku, seluruh anggota keluarga begitu cinta dan sayang dg malaikat kecil berambut keriting, anak tetanggaku itu. Adik sepupuku yg baru menemuinya sehari aja, udah langsung jatuh hati.

Winnie yg baru berumur 20 bulan lebih itu memang berperawakan kecil dibandingkan anak-anak seumuran dia. Tiga bulan aja dia tak kutemui, tubuhnya tetap mungil seperti itu, sementara keponakanku yg lain ditinggal dua minggu dah lansung gemuk yg menggemaskan. Banyak cerita ttgnya dan aku yakin semua orang akan jatuh cinta sekali melihatnya, dan itu sudah terbukti kok.

Kecil-kecil cabe rawit, suka sekali mengerjai kami dg wajah imutnya utk mendapatkan perhatian kami. Kalo sudah merasa bersalah karena memecahkan gelas atau memainkan air minum, dia akan menangis sekeras-kerasnya agar tidak dimarahi. Kalau sudah mendapatkan yg dia mau, langsung tersenyum nakal. Gemesin banget deh.
Walau tangisan menjadi andalannya untuk mendapatkan yg dia mau, terkadang dia membantu nyokap bersih-bersih. Pernah satu kali setelah kami sekeluarga makan malam, dia dg tubuh mungilnya mendorong kursi makan yg berantakan utk merapikannya. Ya si kecil Winnie perhatian dg kebiasaan kami. Dia akan membuang sampah pada tempatnya, membangunkan adik2ku ketika tidur sewaktu jam shalat, membantuku membersihkan kamar dg kemoceng, dan masih banyak yg lain.

Bokapku yg tak gampang tersentuh hatinya dg hal-hal yg menurutku manis dan mengharukan, mendadak jadi lumer kalo dg si kecil ini. Dan dia satu2nya anak kecil yg pertama kali tidak takut pada bokapku saat pertama kali bertemu. Langsung duduk dan memeluk Beliau dg tangan mungilnya.

Gadis mungil ini anak ke-dua dari 4 saudaranya. Baru 20 bulan umurnya, sang ayah dan bunda sudah memberikannya dua adik kembar.Oleh karena itu, Winnie yg notabene masih butuh banget perhatian orang tuanya harus mengalah dg adik2 barunya itu. Mungkn karena itu, para dokter anak dan pemerhati anak serta psikolog mengharapkan jarak antara satu anak dg yg lain adalah 5 tahun.
Karena merasa perhatian orang tua kurang, Winnie pun iri dan melampiaskan keinginan utk diperhatikan pada keluarga kami yg notabene menyukai anak2, khususnya mama dan adikku . Kamipun sangat senang sekali dg 'boneka' imut satu itu. Kehadirannya memberikan lebih banyak keceriaan pada keluarga kami. Dan dia pun menjadi betah di rumah kami, menginap di rumah dan kalo diajak pulang ke rumahnya dia tak mau, meminta nyokapku utk ikut pulang bersamanya juga (Kalo dipikir sebenarnya Winnie betah di rumah karena nyokapku yg telah membuatnya jatuh cinta). Hingga membuat orang tuanya khawatir jika kelak suatu hari harus pindah dan si mungil itu tak bisa dipisahkan dari keluarga kami. Ada pertemuan dan ada perpisahan. Aku tidak tahu apa keluarga kami mampu  utk berpisah dgnya, tapi Allah SWT selalu memberikan ganti anak-anak mungil lain utk mengisi hari-hari kami di rumah.



Seorang anak memang menjadi pemersatu keluarga ya. Dan bagi orang tua menjadi pelepas lelah dan suntuk selama seharian bekerja dg keceriaan dan keimutannya. Anak memang anugrah terindah yg diberikan Allah SWT. So please...sayangi mereka dg sepenuh hati.

Sabtu, 26 September 2009

i'm not a mother

Untuk pertama kalinya, aku mendapatkan seorang keponakan dari sobatku, teman seperjuanganku kala SMA. Menjumpainya dan malaikat mungil yg sedang lelap tidur tadi membuatku merasa...wuff udah tua juga ya aku? Sesi pertemuan sekaligus silaturahim lebaran tadi itupun menjadi sesi konsultasi pendidikan anak, hehehehe.
Aku pun mentransferkan ilmuku ttg anak-anak padanya. Padahal yg sudah berhasil dg sukses mengeluarkan 'malaikat' mungil kan dia, bukan aku. Sobatku itu telah menjadi sebenar-benarnya ibu. Ya aku memang bukanlah seorang ibu, bahkan belum menikah. Tak tau diri juga bercerita ttg mengasuh bayi dan mendidiknya hingga menjadi seorang insan yg terbaik.
Tapi mungkin latarbelakangku sebagai anak tertua dari 4 bersaudara menjadi alasan terkuat yg harus kukemukakan. Sejak kecil, khususnya sejak punya adik, aku sudah dididik mengasuh bayi. Seiring waktu berjalan dan semakin mengerti baca tulis, aku melahap buku-buku milik nyokapku ttg pendidikan anak. Kupraktekkan ilmu itu dg memperhatikan tingkah laku anak-anak dan menerapkan materi pendidikan tersebut pada adik-adikku.Semakin gede-an lagi dan masuk bangku kuliah, sempat mengalami kebingungan dg tujuan hidupku, hingga akhirnya kuputuskan utk berbuat lebih banyak untuk anak-anak dan wanita. Kenapa mereka? kalo anak-anak, tu karena mereka sebagai generasi pengganti, hanya merekalah yg dapat memperbaiki dunia ini dari kerusakan generasi pendahulu. Kenapa wanita? karena wanitalah, manusia yg begitu dekat dg anak-anak. Hanya cara inilah yg kupikir mampu mengembalikan fitrah Illahi manusia di bumi, menjadi rahmat utk semesta alam^^...amiin. (Kalian punya cara lain? hemmm, monggoh berbuat sendiri dg cara terbaik yg kalian yakini)

Balik ke cerita sobatku, kutanyakan bagaimana pengalaman melahirkan. Seperti kebanyakan para ibu yg telah melahirkan, dia menjawab "Antara hidup dan mati". Saat itulah seorang wanita akan mengerti arti seorang ibu, begitu mulianya seorang wanita yg melahirkan dan mendidik anaknya (beruntunglah kalian para wanita^^).
Obrolan kami pun berlanjut dg diskusi mendidik anak, bagaimana pentingnya masa-masa awal sang bayi yg lahir itu hingga 7-8 thn (suatu masa yg menurutku terpenting utk menanamkan nilai-nilai kebaikan, cinta dan kasih sayang), masa perkembangan fisik dan mental serta spiritualnya. Pada  masa-masa awal kelahiran bayi mungilnya ke dunia ini, kuwanti-wanti padanya utk sering memutarkan lantunan ayat-ayat Al Qur'an daripada dentingan lagu kesukaan si nyokap or bokapnya. Trisemester awal kehamilannya, aku sudah memberikan dia sebuah rekaman doa terindah yg kusukai do'a Ahmed Saud
Sekarang tinggal  melanjutkannya dg yg lebih baik lagi, karena pendengaran bayi-lah yg lebih sensitif sebelum indera yg lain. Selain itu, kuminta dia utk memutarkan lagu klasik milik Mozart daripada Bethoven. Kenapa? karya musik agung Mozart akan lebih membentuk pribadi yg riang, ceria dan bersemangat daripada karya Bethoven yg melankolis dan sendu. Teori ini kuterapkan pada diri adik bungsu-ku. Dulu aku sering mendengarkannya musik Bethoven dan alhasil dia jadi manusia melankolis yg terlalu sensitif pada lingkungan sekitarnya.

Selebihnya, aku menjelaskan padanya utk jangan sering berkata tidak, jangan dan kata negatif lainnya ketika si anak sudah mulai mengerti bahasa atau ucapan karena akan mematikan kreativitas dan membuat mereka tidak pede (bisa dibilang aku adalah hasil didikan 'jangan' orang tuaku yang menyebabkan diri ini tumbuh tidak pede dan minder).
"Lha trus piye sa kalo anak kita mau lakukan hal yg berbahaya?moso' gak boleh ngomong jangan" tanyanya kritis.
"Nah itu dia...aku sendiri masih susah juga utk tidak mengucapakn 'jangan' pada anak didikku ato keponakanku".
Lalu, akupun teringat dg aktivitasku di masa lalu ketika menjadi relawan pembersih sungai sebuah lembaga asing di Jogja. Saat itu, Bu Bos lembaga tersebut yg notabene bule membawa anaknya cowok, 5thn, untuk berpartisipasi membersihkan sungai sekitar Kaliurang. Sungguh bocah kecil yg bandel, di sungai yg notabene dekat dg hutan belantara itu. Dia asyik belari kesana kemari tanpa takut jatuh atau tersesat. Si Ibu hanya berkata, "Dekat-dekat saja ya dengan kak A dan kak B" tanpa menambah embelan "Jangan jauh2!" atau kalimat yg bernada negatif. Ucapan seperti itupun dikemukan sang Bunda kala si anak hendak terjun bebas di gundukan tanah yg tingginya 3x tubuh si anak. Bunda berkata, "Hati-hati ya"... Dan si bule kecil yg aku amat sangat lupa namanya itu pun berhati-hati menurunin gundukan tanah tersebut bak spiderman.
Dari situ pun, aku mengambil kesimpulan memang kalimat-kalimat negatif yg membatasi ruang gerak fisik maupun imaji anak-anak harus dihindari agar kreativitasnya tidak mati. Tapi untuk masyarakat kita yg masih memegang teguh aturan jangan untuk mendidik anak-anaknya memang menjad PR besar utk para orang tua Indonesia mencari alternatif lain menumbuhkan kreativitas anaknya. Fuihhh....memang susah dan berat menjadi orang tua.

Berikut ini Do and Do not dalam mendidik anak-anak, dari pengalaman dan pengetahuanku:
1. Don't:
 - menakut-nakuti anak-anak agar bisa diam atau tidak rewel terhadap suatu objek, membuatnya jadi penakut. Dulu aku sering, menakut-nakuti adikku ttg seramnya seorang guru, alhasil dia menjadi sosok yg mengagungkan seorang guru dan takut pada guru daripada orang lain, termasuk ortu-ku
- memukul batu atau benda-benda yg membuat sang anak terjatuh atau kesakitan. Sikap ini menanamkan rasa dendam pada dirinya
- curhat keburukan dan kekurangan orang lain di depan mereka sehingga menanamkan rasa benci dan buruk sangka padanya.

2. Do:
- membacakan cerita-cerita dongeng pada mereka utk meningkatkan daya kreativitasnya dan kemampuan bahasa mereka (menambah pembendaharaan kosakata mereka).
- mengajaknya utk melakukan kegiatan bersama yang menyenangkan, seperti: memasak, bermain teka-teki, mencari ikan di sawah, dsb (pengalaman pribadi yg membuatku merasakan keindahan masa kecil). Hal ini dapat menumbuhkan kebersamaan dan pengakuan diri si anak di dalam keluarga.
- memuji secara apa adanya tanpa berlebihan akan tindakan baik yg dilakukan mereka
- sediakan sesi mendengarkan cerita keseharian mereka untuk menumbuhkan kemampuan berkata-katanya



Hemmm segitu dulu aja deh yang kutahu, pengalaman menjadi orang tua utk adik2ku. Masih banyak yang harus kupelajari sebagai orang tua, apalagi aku belum menjadi orang tua yang sebenarnya, jadi maaf kalo mungkin sok tahu dan mungkin menyinggung hati. Semoga bermanfaat^^

Selasa, 22 September 2009

Kembali Fitri

Tak ada hal yang dinanti selain ampunan-Nya...
Tak ada yg ingin digapai selain cinta-Nya...

Happy Idul Fitri 1430H

Di awal lembaran baru yang putih ini, hanya doa yg mampu kupanjatkan untuk anak-anak Indonesia dan anak-anak muslim sedunia:


"Semoga Allah SWT menjadikan kalian sebagai generasi tangguh yang mampu mengembalikan fitrah manusia ke bumi, menjadi generasi yg cinta Allah SWT dan Rasul-Nya, dan mewujudkan Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin..."



"Semoga orang-orang tua kalian menjadi orang tua yang bertanggungjawab dan tidak egois, memberikan keindahan hidup dan kenangan terbaik yang penuh cinta dan kehangatan di masa kecil kalian....."

"Amiiiiiiiinnn"


 Mohon Maaf Lahir dan Batin


Peluk Cinta dan Sayangku untuk Kalian
Maruchan

Sabtu, 05 September 2009

Cerita-Cerita Ramadhan: Aku Sayang Abi

Kalimat itu meluncur dengan spontan dari mulut seorang anak tetangga rumah yang diantarkan pulang bokap nyokapku dari rumah kami. Sang ayah langsung memeluk dan menciumnya. Setengah jam sebelumnya dia meraung-raung di rumah karena tak ingin diajak pulang oleh ayah dan ibunya. Dia memang selalu main ke rumahku, dan anak ini benar2 anak yang tidak bisa diam. Susah sekali diberitahu atau bisa dibilang bandel en hiperaktif. Puasa-puasa gini jadi emosi melihat tingkahnya yang tidak bisa duduk diam itu.

Malam kemaren, dia datang lagi ke rumah. Setelah kedua orang tua-ku datang ke rumahnya. Selama di rumah, seperti biasa, dia tak bisa duduk diam. Ingin ini ingin itu. Nah, selama itu pula...nyokapku mengajaknya bicara, menyelidiki kenapa dia tidak betah di rumah. Nyokapku mengatakan padanya, "Yip, abi sayang dengan ayib. Ayib sayang juga kan dengan Abi?".
Dia hanya terdiam dan meneruskan maen. Menjelang jam 9 malam, ayah dan ibu Ayib datang. Sudah berbagai cara mengajaknya pulang, tapi dia berlari ke kamar adekku dan tak mau diajak pulang. Nyokapku berkali bilang, "Ayib gak boleh gitu. Abi sayang sama Ayib. Ayib diajak pulang karena Abi dan Oma khawatir Ayib hilang"
Dia tetap saja tidak mau. Dan adegan itu pun berakhir, setelah nyokapku memutuskan agar anak kecil itu menginap malam ini di rumah kami. Orang tuanya pun akhirnya pasrah, dan menasehatinya agar tidak nakal di rumah kami.

Aku belajar banyak dari peristiwa Ayib bermain ke rumah. Kesabaran nyokapku yang luar biasa terhadap dua anak kecil yang sering main ke rumah, Ayib dan Winnie. Membuatku yakin bahwa mendidik dan merawat seorang anak benar-benar butuh kesabaran yang tinggi, bukan hanya kata dan sikap kita yang harus dijaga tapi emosi kita. Hemmm, ternyata masih banyak yang harus kupelajari dan praktekan dalam menghadapi anak kecil hiperaktif. Jadi inget kemarin waktu jaga di perpus dan ada satu anak kecil perempuan yang hiperaktif dan susah diberitahu. Aku benar2 tidak tahan padanya dan tidak tau harus berkata apa karena dia sudah berhasil dengan sukses menodai dinding lukis milik bos-ku, "Fitri, kan tadi mbak Marisa udah bilang. Jangan melukis itu. Kamu belum boleh. Ayo kembalikan lagi cat-nya!"
Dia mengembalikannya dan sampai jumat kemaren, dia tidak kembali lagi bermain ke perpus.

Rabu, 02 September 2009

Cerita-Cerita Ramadhan: Taraweh Bareng Nikita

Ramadhan ini memang menjadi Ramadhan ke-dua setelah kumantapkan hati pada-Nya. Walau berbeda dengan Ramadhan sebelumnya, Ramadhan kali ini terus terang memang tidak sekhidmat Ramadhan lalu. Tetapi aku berusaha untuk meluruskan niatku dan mengembalikan fokusku pada Illahi. Momen Ramadhan menjadi momen yang dinanti-nanti. Apalagi untuk anak-anak. Momen saat Ramadhan membuat mereka merasakan kebersamaan dengan keluarga. Saat saur, ngabuburit, buka puasa, hingga shalat taraweh.

Teringat ucapan teman di awal Ramadhan ini, "Sa, kok berasanya Ramadhan pas gede ini biasa-biasa aja ya? Beda deh kalo pas kecil dulu, kerasa banget suasanannya".
Ya aku setuju dengannya. Mungkin karena saat kecil kita tidak memiliki tanggungjawab seperti saat dewasa saat ini. Karena itu, saat melihat adek-adek kecil shalat Taraweh. Rasanya jadi mengenang masa lalu.

Suatu hari, menjelang 10 hari kedua Ramadhan, anak dari Penjaga Kos datang menghampiriku dan teman kosku. "Mbak nikita ikut ya shalat di masjid?" tanyanya.
"Nikita mau ikutan shalat Tarawih?" tanyaku memastikan
"Iya" jawabnya polos. Duh Gusti, ujarku dalam hati.
"Hemmm, bener mau ikut? nanti lama lho di masjid, kamu akan capek. Masih mau ikut?" tanyaku lagi.
"He'eh", ujarnya. Setauku anak satu ini keras kepala. So kubiarkan dia ikut, sementara otak berpikir gimana caranya agar pengalaman pertamanya di masjid ini menjadi momen yg menyenangkan.

Sebelum shalat dimulai, Nikita yang kubiarkan duduk diantara aku dan teman kosku itu, sudah kami wanti-wanti agar tidak ribut dan kalo capek duduk aja. Shalat isya berjamaah berhasil dilaluinya dengan baik. Dia menjadi anak baik. Namun shalat Tarawih yang notabene jumlah totalnya 11 rakaat itu membuatnya bosan. Nikita pun berisik dan berceloteh tidak karuan.
Alhasil shalatku pun tak khusyuk karena dia berjoget-joget. Namanya juga anak kecil, mau marah juga gak bisa, mau gak marah juga musti ditegur...Jadi dilema. Aku gagal dan setelah malam itu, dia gak mau shalat lagi bareng aku dan teman2 kos. Tapi masih ada kesempatan lain toh tuk memperbaiki diri dan mengajari gadis mungil itu. Kata-kata juga musti dijaga. Nikita memang sulit dinasehati, tapi musti terus berusaha kan.
Hey........
Mari berhati-hati dalam bersikap dan berkata di dalam keseharian kita, karena kita contoh teladan bagi anak-anak kecil di sekitar kita!


http://www.2muslims.com/cgi-bin/postcards/postcard.cgi?Misc&p=12
Yok berusaha lebih keras lagi utk anak-anak kecil di dunia ini^^.

Senin, 25 Mei 2009

Mereka Laksana Kertas Putih Kosong

Dua minggu ini aku secara intens menjaga balita. Dua minggu bersama Ale, anak dari kakak sepupuku, dan dua hari ini bersama Winnie, anak tetangga yang sering maen ke rumah. Keduanya berumur di bawah lima tahun. Bersama mereka, aku mendapat satu petikan pelajaran hidup.

Bermain dengan Ale dan Winnie. Tidak hanya sekedar bermain tanpa pikir panjang apa dampak dari apa yang kuajarkan pada mereka. Dulu, aku pernah mengajari Ale memukulkan sebuah botol kecil plastik untuk menghasilkn bunyi-bunyian. Beberapa bulan setelah itu, dia pun menjadi kreatif. Dia tidak hanya berhasil membuat bunyi tapi juga berhasil mempelajari cara memukulkan benda-benda ke dinding, kaca dan ke kepala adek bayi. Benar-benar diluar perkiraanku. Maksud hati ingin agar dia kreatif dan menghiburnya dengan bunyi-bunyi yang muncul, aku malah mengajarinya secara tidak langsung sebuah kekerasan.

Mereka memang bagaikan lembaran kertas putih kosong. Calon manusia dewasa yang belum memiliki satu nilai pun tentang hidup ini. Orang-orang dewasa yang berada di sekitarnya-lah yang memberikan, menanamkan dan mencontohkan nilai-nilai itu. Nilai tentang apapun, baik maupun buruk.
Tanamkan nilai-nilai kebaikan pada mereka

Baik dan buruk pun itu relatif. Inilah yang membentuk diri setiap anak dg nilai yang berbeda. Apa yang disebut dalam Antropologi, budaya. Budaya memang bersifat relatif karena terkait dengan suatu nilai yang dipahami dan dimengerti masyarakat. Orang bule yang terbiasa dengan suasana dingin dunia Barat, akan menganggap panas Indonesia sebagai panas yang benar2 panas (Kegemaran mereka memakai pakaian minim yang memperlihatkan aurat-nya tu bukan karena ingin dibilang seksi tapi karena mereka benar2 kepanasan lho). Sementara bagi kita panas yang menurut bule itu panas, bagi kita biasa-biasa saja.

Balik ke anak-anak.
Sebagai orang dewasa memang kita harus berpikir jauh ke depan dan berhati-hati sekali saat bersikap dan bertutur kata, baik itu saat berinteraksi langsung dengan mereka maupun saat berada di sekitar mereka. Ucapan dan perilaku kita benar-benar mempengaruhi nilai-nilai kehidupan mereka kedepannya.

Setelah mengetahui ini, kuketahui bahwa menjadi orang tua itu bukanlah hal yang mudah. So untuk para orang tua, bersikap bijaklah. Saat kita menjadi orang tua adalah saat untuk tidak menjadi egois, saat menjadi diri yang akan dicontoh oleh anak-anak kita. Oleh karena itu, aku pikir sebuah pernikahan sebagai awal dari terbentuknya keluarga menjadi langkah terpenting dalam menghasilkan insan-insan masa depan.
Mereka titipan dan amanah Tuhan untuk kita jaga dan bentuk dengan cara terbaik yang diinginkan-Nya

Suatu langkah agar kita lebih berhati-hati memilih pasangan, bukan karena atas dasar cinta buta. Pernikahan adalah suatu pintu manusia untuk belajar bertanggungjawab, tidak hanya pada diri sendiri, pasangan tapi juga pada seorang anak yang dititipkan-Nya. Pernikahan adalah bentuk lain ibadah pada-Nya.
Jadilah orang tua yang bijak dan bertanggungjawab, tidak hanya pada materi tapi juga emosi dan spiritual anak-anakmu...amiin.

Referensi dan gambar:

http://www.djburnett.com/Pages/WorkshopPage5.htm
http://www.thetechherald.com/article.php/200838/2035/Japan-leads-world-in-broadband-infrastructure-says-report

Kamis, 19 Maret 2009

Cara Unik Menarik Minat Baca

Story telling... Hemm, ni salah satu cara untuk menarik baca anak-anak. Story telling tu teknik bercerita dengan menggunakan kata-kata, gambar, dan suara atau bisa juga menggunakan improvisasi ketiganya. Teknik bercerita ini sudah ada lho sejak bahasa itu sendiri ada(lihat http://en.wikipedia.org/wiki/Storytelling), namun story telling untuk anak-anak lebih baik menggunakan penggambaran atau teknik visual (membantu untuk peningkatan imajinasinya, ex. dengan gambar-gambar menarik, wayang, atau puppet finger). Ide tentang story telling untuk menarik minat baca ini muncul ketika Babe (Bos-ku di Museum) mengajukan alternatif lain memancing minat baca anak-anak. Hal yang kuhindari selama ini pun harus kulakukanT.T...



Tidak ada kata tidak, aku pun menuntut diri untuk membuang semua rasa malu terlihat jelek ;p. Setelah mengkonfirmasi teman-teman untuk datang ke latihan story telling yang dipandu oleh Bu Bridgit. Aku dan Nia sore itu sangat antusias sekali meski awalnya malu-malu kucing. Bu Bridgit meminta kami untuk mendeskripsikan sebuah batu yang dibawa dengan satu kata secara bergiliran, tidak boleh ada yang sama. Hey, awalnya aku heran... apa pula maksud Beliau ini? Setelah kehabisan kata-kata, sesi 'mengimajinasikan' batu tersebut pun selesai. Bu Bridgit menjelaskan bahwa apa yang dilakukan kami saat itu menunjukan bahwa dunia imajinasi itu sangat luas dan kita akan tahu bahwa setiap orang punya daya imajinasi sendiri tentang sesuatu hal yang ada dalam dirinya. Begitu pula imajinasi anak-anak.
Setelah itu, Bu Bridgit menyuruh kami membacakan sebuah cerita pendek. Setelah melihat teknik kami bercerita, Beliau pun memberitahukan kekurangan dari teknik penceritaan kami kemudian menulari kami dengan teknik berceritanya. Berikut ini tips dari Beliau:
1. Ketahui terlebih dahulu isi cerita dari buku-buku cerita yang ada dan sesuaikan isi cerita dengan usia anak-anak
2. Gunakan ekspresi wajah, gesture (bahasa tubuh), dan suara
2. Perlihatkan emosi dari tokoh yang diceritakan dengan ekspresi wajah dan naik turun nada suara (intonasi)
4. Berceritalah dengan santai, jangan terburu-buru (Perhatikan spasi!)
5. Gunakan improvisasi cerita apabila cerita terlalu panjang
6. Sound effect dapat mendukung cerita sehingga semakin menarik perhatian anak-anak
7. Kontak mata dengan anak-anak perlu dilakukan, jangan asyik sendiri dengan buku ceritanya
8. Berinteraktiflah dengan anak-anak. Tanyakan apakah mereka paham isi cerita? atau tanyakan pendapat mereka tentang gambar atau sikap tokoh yang ada di cerita, serta dapat pula tanyakan pendapat mereka tentang ending cerita versi mereka ditengah-tengah cerita.
9. Hindari cerita kekerasan

Referensi :

Senin, 02 Maret 2009

Menarik Perhatiannya

Gampang-gampang susah menarik perhatian anak-anak. Apalagi menarik minat mereka pada buku ato mengajak mereka menonton film keluarga. Namanya juga anak-anak, hanya ada satu kata di otak mereka, "Main..main...main. Ayo main, Kak!"

Alhasil aku pun harus mengemas kegiatan program perpus dengan konsep bermain dan belajar. Program utama perpus Burung Biru (salah satu divisi Yayasan Dunia Damai, Museum Kolong Tangga Yogyakarta) yang berusaha membuat anak-anak untuk menyukai 'membaca' pun harus kami imbangi dengan workshop yang dicampuri dengan kegiatan main-main dengan anak-anak agar tidak bosan.
Aku pun berpikir keras selama berhari-hari. Berpikir tentang mereka (Panji, Dito, Beno, dan anak-anak lainnya) agar bisa duduk diam (walau hanya 10 menit) membaca buku.
Sore itu, saat kami membuat workshop tentang topeng, hanya ada 3 anak yang datang. Nana, partnerku, sudah memulai kegiatan (Aku datang telat sore itu). Topeng milik Panji sudah hampir selesai ketika dia mendadak putus asa melubangi mata topengnya, "Susah je mbak!"
Nana sengaja meletakkan tiga buku di atas tikar yang kami duduki sore itu. Aku membuka salah satu buku tentang ensiklopedia alam itu. Saat asyik membuka salah satu lembar halaman yang sedang membahas tentang kulit, aku pun berceletuk, "Wah, ternyata kayak gini toh kulit kita!"
Celetukanku pun menarik perhatian mereka. Mereka menghampiriku dan melihat isi buku.
Aku pun menunjukan gambar kulit yang ada di situ, lalu menjelaskan pada mereka tentang serba-serbi tentang kulit yang pernah kupelajari waktu SMA dulu. Mereka hanya manggut-manggut. Beberapa pertanyaan kecil pun keluar dari mulut mungil mereka.
Hey, walau kejadian itu berlangsung singkat dan mereka tidak langsung mau membaca, setidaknya aku tau bagaimana memancing perhatian mereka (belum belajar mempertahankan perhatian mereka^^v).
Kesimpulanku saat ini adalah berdirilah sama tinggi dengan mereka, jangan anggap mereka sebagai anak kecil tapi kawan, dan gunakan metode interaktif bukan menyeramahi.

Hemmm, segini dulu deh cerita pengalamanku dengan mereka, sebagian kecil anak-anak Indonesia.

Senin, 09 Februari 2009

Belajar Ngelembang

Hemmm, penasarankah dengan aktivitas yang terlihat di gambar headline?
Itu aktivitasku bersama anak-anak Bangka sewaktu KKN tahun lalu. Mereka sedang mengajariku belajar ngelembang.
Ngelembang adalah sebutan salah satu aktivitas penambangan timah di Pulau Bangka. Sudah tau kan kalo Bangka dan Belitung adalah dua pulau dengan kandungan timah terbesar di Indonesia.
Kebanyakan penduduk di sana adalah penambang. Anak-anak Bangka pun tak luput dengan aktivitas ini. Apalagi anak laki-laki Bangka. Adik-adikku di sana sangat familiar dengan kegiatan ini.
Sore hari itu, aku meminta anak-anak didikku mengajari ngelembang. Kami pun berangkat ke danau bekas penambangan (disebut koulong) dekat pondokan KKN-ku. Koulong Biru nama danau itu. Sebutan itu diberikan karena warna biru dari koulong dengan kedalaman hampir 80 m. Aktivitas penambangan masih terlihat sore itu. Untuk memancing pengetahuan mereka, aku berpura-pura tidak tahu aktivitas penambangan dan alat-alat tambang yang ada. Saat kutanyakan pada mereka, mereka antusias menjawab dan menjelaskan.
Puas melihat aktivitas penambangan legal dan ilegal. Ternyata di sana telah ada satu anak didikku, Benjo, yang ngelembang dan ngarpet di bibir danau.


Benjo

Kami pun menghampiri dan menyapanya. Setelah itu, aku meminta Benjo mengajariku ngelembang. Sebagian besar dari anak cowok yang kuajak sore itu mengajariku memegang piring, mengambil pasir bertimah, me-lembang-nya (menyaring pasir bertimah dan mengoyangkannya secara perlahan dengan air).
Hey, sebagian besar adik-adik cowok itu ternyata pernah ngelembang untuk mendapatkan uang. Penjualan dari 1 0ns timah yang mereka dapat bisa dihargai 100rb lho. Pantas saja mereka dapat membeli HP N 6600.
Benjo sendiri bercerita kalo dia ngelembang untuk membantu keuangan keluarganya. Meski usia dia 14 tahun, dia masih kelas 6 SD lho. Tapi semangat belajarnya itu yang kusalutin.
Kegiatan ngelembang itu sendiri telah membentuk karakter orang Bangka. Mereka malas untuk mengganti profesi mereka karena merasakan nikmat menambang yang mudah dengan hasil yang menggiurkan. Padahal diperkirakan 1 tahun lagi, kandungan timah di Bumi Bangka akan habis. Itu pernyataan Pemda Bangka.



Berpose sejenak dengan mereka
Aku tidak tau bagaimana kehidupan adik-adikku di sana setelah kembali ke Yogya. Tapi yang pasti, insyaallah, aku akan dapat kesana lagi dan mengajari ketrampilan membuat kerajinan tangan pada mereka. Agar kelak terbuka lapangan kerja baru di Bangka. AMIN

Untuk Mereka

Tidak banyak yang bisa diperbuat untuk mereka. Anak-anak kecil yang memiliki masa-masa penting untuk diisi dengan hal-hal terbaik agar kelak mereka menjadi generasi penerus yang tangguh. Sementara ini, aku hanya mampu membagi cerita tentang dan bersama mereka. Cerita dari mereka yang ingin dibagi dengan kita. Cerita mereka untuk menumbuhkan kecintaan pada diri sendiri dan hobi menulis serta membaca.

Walau ini hanyalah langkah kecil yang tak begitu berarti, setidaknya telah memberikan sedikit warna baru dalam perjalanan hidup mereka.




Anak SMP 2 Pemali, Bangka

Untuk merekalah, para penerus bangsa ini, aku akan berusaha dan berbuat yang terbaik. Walau itu hanya sekedar sharing pikiran dalam blog ini.

Semoga bermanfaat!


Atun en beberapa anak di Museum Anak Kolong Tangga

NB : Foto-foto milikku dan hasil jepretan Otonk