Jumat, 07 Februari 2014

“Aku Pemimpin” - Belajar jadi Pemimpin dan Keteladanan ala Krucil-Krucil Sapen

6 Februari 2014
Selalu menyenangkan berinteraksi dengan anak-anak meski harus nyiapin stok sabar cukup tinggi ketika menghadapi mereka. Dan itu yang terjadi di Sapen kemaren sore. Relawan Jendela Jogja kudu ekstra sabar sore itu. Entahlah mengapa teman-teman kecil kami di Sapen itu susah diatur dan mendadak ngeyel semua? Ya semua mereka sedang cari perhatian: berlari kesana-kemari, teriak-teriak dan  bawaanya pengen memeluk kakak-kakak Jendelist. Agenda sore itu adalah latihan tari dan menari, persiapan tuk pentas seni 9 Februari 2014 *tinggal 3 hari lagi kan?

Anak-anak cowok yang susah diatur. Mereka pura-pura bertengkar meski ada yang bertengkar beneran sich. Berlari ke sana kemari, tak berdiam diri di satu tempat. Dika, Abel, Raffi, Rizki dan Rahmat yang sore itu susah diatur. Saya dekati Dika yang notabene anak yg paling dekat dengan saya.

“Dika sini bentar dong”, saya ajak dia duduk dekat dinding. Dia menurut dan Abel mengikuti.
“Hey, Dika itu banyak dicontoh dan diikuti teman-teman cowok. Coba deh Dika jadi contoh yang baik. Kamu itu pemimpin bagi teman-teman kamu yang lain. Jadi kalau Dika lari kesana kemari, mereka juga ikutin. Kasihan dong kakak-kakaknya. Dika bisa kan bantu mbak Marisa dan kakak-kakak?”
“Iya Dika pemimpin, aku pengikut” ujar Abel menimpali.
“Bukan, Abel juga pemimpin. Kalian bagi tugas ya?”, kata saya meluruskan.
“Tidak Dika pemimpin, aku pengikut. Dika lari aku ikut lari. Dika diam aku diam”, jelasnya.
“Baiklah, kalian bagi tugas. Bantu kakak-kakak ini mengatur teman-teman ya, jadi kalian harus beri contoh, OK?” pinta saya pada mereka.
Mereka mengangguk. Beberapa detik kemudian, Dika terlihat menghampiri Raka dan membantunya bangun tuk bergegas ikut berbaris. Abel? Dia berlari entah kemana.

Negosiasi pertama gagal, ganti taktik.

Butuh waktu setengah jam mengatur anak-anak agar bergegas rapid an memulai latihan. Selesai latihan sesi satu, kami memutuskan untuk membuat kompetisi kerapian dan kekompakan tim anak cewek dan cowok. Dan benar saja anak-anak cowok tersebut tertantang.
Setiap tim kami tunjuk ketua. Tim cowok ketuanya si Dika dan tim cewek ketuanya, Salma. Ada cerita lucu di balik tunjuk-menunjuk pemimpin tim ini. Dika yang memang ingin dikenal dan mimpin dari dulu, mendadak berubah garang dan memaksa anggota timnya dengan paksa untuk rapi. Saya dekati dia. “Hello gak usah dipaksa dan diperintah-perintah gitu kali”, ujar saya. Hehehehe, dia cengengesan. Dika berusaha keras memimpin timnya yang ternyata memang susah diatur.  

“Ah aku memutuskan pensiun. Aku pensiun” ujarnya ketika kak Boy memintanya untuk mengatur timnya. Ngambeknya kumat. Dia duduk bersandar ke dinding.
“Ayo Dika masa gitu aja nyerah” ujar saya
“Enggak ah, aku gak mau jadi pemimpin. Aku gak mau. Aku pensiun” ujarnya membuat saya tersenyum dalam hati karena istilah pensiunnya itu.
Kak Mika datang menghampiri dan memintanya tuk mengatur timnya, dan sebelum Dika yang menjawab, saya pun menjelaskan ke Mika “Dia pensiun Mik. Gak ada satu pemimpin, semua pemimpin di tim cowok”

Dan berhubung anak-anak cowok susah bingits diatur, maka tim cewek pun kami suruh latihan terlebih dahulu. Dika yang mengaku ‘pensiun’ ternyat beraksi bak pemimpin di belakang layar. Dia menyiapkan bendera-bendera kecil dan mengaturnya bersama Abel di dekat lemari kaca agar anak-anak cewek mudah untuk mengambilnya.

Ketika anak cewek selesai latihan, tim cowok pun latihan dengan ulah Dika yang mendadak ngambek dan mengaku kalau kecapekan. Boy berusaha membujuk dua kali, sampai akhirnya saya menegurnya, “Boy, Dika kecapean, biarin aja dia istirahat. Gak usah dipaksain”
Rahmat dan beberapa anak cowok juga mulai berulah, kak Azri berusaha mendekati dan melerai adegan pura-pura bertengkar mereka. “Zri biarin mereka. Kalau sekali dua kali ditegur gak gubris. Tinggalin aja. Pada caper semua ini anak-anaknya”

Bener saja, ketika kakak-kakak Jendelist sudah tak terlalu peduli dengan mereka. Anak-anak cowok itu pun bergegas gabung tuk latihan tari.
Sore itu, ulah ‘tak bisa diam’ dan caper anak-anak cowok berakhir dengan manis. Setelah semua anak berpamitan, Dika, Abel, Salma, Safa, Fafa dan Jelita masih betah bersama kami, relawan Jendela Jogja. Mereka mencoba untuk mengenakan kostum panggungnya.
Dika mendadak menghampiri dan menanyakan ikat kepala yang bagus buat dia, “Mbak yang buat pemimpin yang mana? Ini atau ini?”
“Lho Dika kan udah pensiun?” tanya saya.
“Enggak kok aku gak jadi pensiun. Aku pemimpin. Jadi mana yang bagus” ujarnya.
“Eits, kalau di panggung gak ada pemimpin. Semuanya sama. Coba dulu dipakai dua-duanya ikat itu” pinta saya dan dia menuruti
“Pakai yang merah aja. Coba nanti tanya mbak Mika atau mbak Sela, nanti sama semua kok ikatnya”
Dia pun berlalu pergi, hingga kemudian menghampiri saya, Heri dan Nita yang duduk di pinggir ruangan.

“Aku tu dulu pernah lho diajarin sama mbak Mika tentang lemak yang menyumbat aliran darah” jelasnya dengan melihat ke Heri.
“Hah mbak Mika? Mbak Mika siapa? Mbak namanya Marisa” jelas saya mencoba untuk meluruskan.
“Eh iya mbak Marisa”
“Terus apa itu nama alirannya?” tanya saya tuk mengecek ingatan dia.
“Itu lho yang di sini itu lho” ceritanya sembari menunjuk kulitnya.
“Pembuluh darah” ujar saya mengingatkan lagi.
“Jadi harus ngapain agar aliran darah tidak tersumbat lemak” tanya saya
“Yah harus banyak bergerak”
“Bergeraknya ngapain?”
“Olahraga”
“Memang Dika olahraga po?” ujar saya menyepelekan *taktik yang biasa saya lakukan ketika ngobrol dengan anak-anak cowok hahahaha
“Iya aku olahraga pagi kalau di sekolah” jelasnya
“Sippp….toss dulu dong” pinta saya

Beberapa detik kemudian, saya mencoba untuk memberikan nilai baru pada dia.
“Mbak Marisa pesan ama Dika. Kalau jadi pemimpin itu gak boleh perintah-perintah dan marah-marah. Kalau marah-marah ntar gak ada yang mau nurut. Pemimpin itu harus membantu teman-temannya. Dia itu …………… “ saya berusaha mencari kata yang tepat tuk kata ‘melayani’ dalam bahasa anak. Saya tanyakan ke Nita yang di sebelah saya “Apa ya kata yang tepat tuk melayani”
“Pemimpin itu harus melayani” celetuk Dika yang saya ragukan sebenarnya tak pahami benar apa kata melayani.
“Yah melayani. Melayani itu yah membantu teman-temannya. Bukan memerintah” jelas saya.

Setelah kami asyik berdiskusi kecil dengan Dika apa itu arti memimpin. Dika pun menghampiri Jelita, Salma dan Safa yang ada di sisi ruangan satunya. Kemudian, Dika menghampiri kami lagi.
 “Ini lho kak namanya aku melayani” ujarnya sembari membawa salah satu kostum dan membantu temannya.
“Sippp toss dulu dong!” pinta saya berusaha tuk menghargai usahanya. 

Pasti ada narsisnya
*saya tahu kami pasti telah menularkan nilai narsis addict pd mereka :p
He showed me the meaning of service. Good boy :)

Setahun apakah waktu yang cukup tuk memberikan mereka nilai-nilai baru?
Setahun cukupkah tuk menjadi dasar awal pemberian nilai-nilai dan kebiasaan baru?
Kita lihat hasilnya kelak di masa depan ;) #basmallah

Mereka selalu antusias dengan program yang diberikan Jendela Jogja.
Kami, relawan dan adik-adik kami, sama-sama belajar dan saling isi tentang banyak hal setahun ini.
Please come and watch our actions :) 

Rabu, 08 Januari 2014

Bermain Permainan Tradisional di Vredeburg, Nostalgia vs Melestarikan Budaya

5 Januari 2014

Sebelum mereka bertebaran dan bernostalgia
permainan tradisional, narsis dulu haha ^_^v
  Ceritanya sih Komunitas Jendela diundang tuk meramaikan even PlayPlus “Permainan di Negeri Dolanan”. Even ini diadakan serentak di lima kota. Dan teman-teman kecil Jendela Jogja yang di Sapen diajak tuk ikut lomba dan bermain di sana. Ada sekitar lima komunitas pendidikan dan anak yang diundang. Pastinya bejibun anak-anak yang datang.
     
    Kelar acara pembukaan dimulai, adik-adik kami telah dikelompokan dan diberi pendamping tersendiri. Mereka diajak mendengarkan dongeng Negeri Dolanan yang kemudian diajak ke masing-masing area kecil yang telah diberi nama sesuai dengan permainan tradisional yang hendak dikenalkan, mulai Gobak Sodor, Cublak-Cublak Suweng, Gasing, Enggrang dsb. Lalu, apa yang dilakukan para pasukan biru?

Yup they were so happy :D
   Yup pasukan biru Jendela alias kakak-kakak Jendelist yang jumlahnya setengah dari adik-adik Sapen *sekitar 15-20 orang* selooooooooooooo bingits. Mereka memutuskan untuk ‘memanfaatkan’ area bermain yang free. Alhasil pasukan Jendela meriang birukan *apa pulak istilah ini? ^_^v* taman belakang Vredeburg siang hari itu. Mereka bertebaran dari mulai belajar maen Enggrang, Gasing dan beramai-ramai main Gobak Sodor dan lompat tali.

    Ya mereka mengenang masa-masa kecil sekali. Masa kecil indah yang tidak bisa didapatkan dengan mudah oleh adik-adik Sapen kami karena keterbatasan ruang bermain publik saat ini. Maklum saja, ada sedikit tanah kosong di negeri ini ujung-ujungnya berubah jadi lahan properti perumahan, pertokoan dan perhotelan. Dan permainan tradisional yang dikenal oleh anak-anak tahun 1990-an, 1980-an, 1970-an ke bawah merupakan permainan yang harus dimainkan di area tanah yang luas, contoh Gobak Sodor dan Lompat Tali. Yup permainan tradisional era dulu itu dikenal dengan kemampuannya untuk membentuk dan melatih gerak motorik anak-anak, adaptasi sosial dan kemampuan strategi. Berbeda dengan permainan anak modern yang memang melatih kemampuan strategi, analisa dan kreativitas tapi minus melatih gerak motorik dan adaptasi sosial mereka.      


Adik-adik kami yang asyik bermain dg kakak-kakak PlayPlus. Mari
berikan hak 'bermain' mereka dg pengadaan area publik yang luas.
      Dan melalui tulisan ini, saya hanya perlu menekankan alasan kenapa program di Komunitas Jendela, khususnya Jendela Jogja selalu memadupadankan permainan (ice breaking) dengan program membaca setelahnya. Hal ini juga karena Jendelist ingin mengajak adik-adik kecilnya tuk menggerakan otot-otot motorik mereka yang selama masa sekolah kurang dilakukan. Karena alasan itu diferensiasi dengan program pendidikan formal sekolah, segala hal yang dapat mengasah kreativitas, pembentukan karakter (sopan santun dan etika), kepedulian alam dan sosial juga beberapa kali dimasukan ke dalam program-program yang ada. Tentunya dengan tidak mengesampingkan tujuan utama Jendela ada, yakni membiasakan adik-adik kami itu tuk membaca.

Rabu, 01 Januari 2014

Teroris vs Superman

29 Desember 2013

Ada saja tingkah anak-anak sekarang. Lingkungan mereka benar-benar memberikan pengaruh ke dalam kehidupannya. Anak-anak kecil yang saya temui di Sapen pasti juga alami hal itu. Dan siapa sangka satu dari puluhan anak itu bercita-cita menjadi teroris.
“Terorriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiisssssssssssssssss” teriak kegirangan si Oki ketika ditanya oleh Hono tentang cita-citanya.

Siang itu, teman-teman kecil Jendela Jogja Sapen diminta untuk membuat mading setelah belajar menari dan menyanyi tuk persiapan acara penutupan program Jendela di Sapen. Oki, Gatan, Deswita dan Salma masuk ke dalam kelompok pohon cita-cita yang dipandu oleh Kak Restu dkk.

Ketika Deswita dan Salma asyik dengan kak Restu dan satu kakak lagi *saya lupa berkenalan dengan Jendelist baru itu, hehe*, kak Hono sibuk dengan dua adik cowok yang gak bisa diam itu. Gatan masih menurut ketika diminta untuk bercerita tentang cita-citanya di selembar kertas origami. Sementara Oki, sibuk sendiri tak jelas membuat apa. Gonta-ganti kertas origami dan tak menjawab ketika ditanya cita-citanya, sampe akhirnya dia berteriak ingin jadi teroris.
OK saya shock mendengarnya karena dia tampak bahagia dan bangga ketika menceritakan alasan suka dengan teroris.

“hey kenapa kamu suka dengan teroris? Karena apa? Senjatanya atau apa?” tanya saya penasaran

“Ya bazooka, bisa nge-bom terus bisa perang-perangan” jelasnya sembari berdiri dan bercerita dengan nada antusias.
“Bukannya tentara juga ada senjatanya?” jelas saya tanpa dipedulikannya, dia pun berlari sembari teriak teroris lagi. Hadeeeeeeeeeeeeeeh -____________-“

Saya sendiri langsung pusing memikirkan cara baik tuk menjelaskan nilai buruk tentang teroris dengan bahasa anak-anak. Karena bagi Oki, teroris itu keren dengan segala hal yang bisa dilakukan mereka tuk menaklukan sesuatu dan membawa senjata plus berperang. Makna kata teroris terlalu rumit tuk dijelaskan padanya yang baru berusia 6 atau 7 tahun. Saya tinggalkan sejenak ia dengan keasyikan daya khayal dia menjadi teroris, dan memilih tuk membantu si Restu mendampingi Salma dan Deswita.

10 menit….15 menit kemudian

Oki tetap bersikukuh menjadi teroris, sementara Gatan memilih menjadi dokter. Saya pun geregetan. Saya hampiri anak kecil itu, menanyainya lagi, “Kamu tetap ingin jadi teroris?”
“Teroris” ujarnya sembari menggambar sesuatu di kerta origami
“Hemm, oke Oki jadi teroris. Gak mau jadi tentara? Tentara itu kan selain punya senjata juga punya tank” jelas saya. Dia tampak tak tertarik.

Haduh anak ini.

“Baiklah mbak marisa itu punya paman. Paman mbak marisa kerja jadi Brimob. Brimob itu teman tentara. Nah selain Brimob, ada juga tu Kopassus. Mereka juga berlatih perang lho.  Kopassus itu kalau latihan perang di air. Ada pasukan katak di Kopassus. Mereka juga punya kapal yang bisa menyelam dalam air. Oki tau namanya?”
Oki tetap menggambar tanpa mempedulikan cerita saya.

“Itu lho kapal selam. Jadi tentara itu ada brimob dan kopassus. Oki gak mau jadi tentara, bisa milih jadi brimob atau kopassus?” tanya saya *ah terasa sekali memaksakan cita-cita padanya.

“Teroris…teroris” jawabnya.

Fiuuuuh apalagi yang harus saya lakukan? Lalu Gatan menyeletuk tentang Batman, hemm terbersit ide.

“Gatan pernah nonton Batman? Siapa itu musuh Batman namanya?” tanya saya pada Gatan dan sok cuek dengan Oki. “Musuh Batman itu Joker namanya” jelas saya.
“Aku pengen jadi Batman” jelas Gatan
”Hohoho baiklah Gatan jadi Batman” jawab saya merespon keinginan Gatan.

Saya pun mendekati Oki kembali dan menanyakan hal sama. “Jadi, Oki sudah pernah nonton Batman belum?”
“Suka dengan Batman?”, dia mengangguk.
“Suka dengan Joker gak?”, tanya saya lagi
“Enggak” jawab dia
“Nah, Joker itu temannya teroris. Mereka itu temenan lho. Jadi Oki mau tetap jadi teroris?” tanya saya.
Dia terdiam. Tak mampu merespon cepat seperti tadi saya ‘merayu’ dia tuk jadi tentara dan segera menjawab dengan tetap jadi teroris.
Kemudian, “Aku mau jadi supermaaaaaaaaaaaan”

Hahahhahhaha….yes, alhamdulillah saya berhasil ‘nego’ dia.

“Oke sip, jadi superman. Oki superman, dan Gatan Batman. Ayooook digambar itu pohon cita-citanya. Kita gambar superman” jelas saya. Hono yang ada di dekat saya tertawa melihat kegembiraan saya berhasil ‘merayu’ Oki.

Siang itu, Gatan dan Oki tampak ceria meski mereka sulit sekali diminta untuk membantu Deswita dan Salma membuat mading pohon cita-cita.
“Hey hey Superman dan Batman ayok ini dibantu mbak Salma dan Deswita” pinta saya tanpa mereka pedulikan.

Tapi ketika Deswita dan Salma selesai membuat mading. Sampah-sampah bekas prakarya siang itu berusaha dikumpulkan oleh mereka. Oki yang paling antusias membersihkan. Ia memasukan semua sampah ke dalam plastik bening. Rafi pun menghampiri dan mereka berdua membantu kakak-kakak Jendelist dengan mengumpulkan sampah yang berserakan di balai dusun Sapen siang itu.


Saya yang melihat adegan kompak mereka jadi terharu, hehehehe